In Memoriam Yuli (VIII)
In Memoriam Yuli (VIII)
Puisi: Yant Kaiy
Yuli, engkau dapat
melukiskan sendiri
tentang tersiksanya
aku kala itu
sungguh, tak ada
tempat bagiku mengadu
percuma saja mengeluh
pada orang lain
apalagi terhadap
kucing kesayanganku
sebab yang kureguk
nanti adalah siksaan batin
maka lebih bagus
dikatakan sebagai lelaki kerdil
gampang tumbang akibat
badai kecil
biarlah membeku dalam
kalbu
biarlah menggelora
dalam dada
aku takkan pernah
bimbang
walau prahara
senantiasa meradang
walau kegagalan demi
kegagalan
merenda hari-hari
lelahku
seminggu yang lalu
kudengar kabar buruk
tentangmu
kau gagal membina
lingkaran asmara
dengan kekasih barumu
yang berdasi itu
kau dicampakkan begitu
rupa
ya, tanpa
sebab-musabab
kini kau ingin kembali
padaku
begitu mudahnya (?)
ingin menyulan
benang-benang kasih seperti dulu
mana mungkin daku
percaya, sebab
air matamu bagiku
gombal belaka
air mata buaya, tidak
harus dipercaya
maafkanlah daku,
Yul...
Pasongsongan, medio 1993

