Wulan
Cerpen: Yant Kaiy
Debur sangat mengkhawatirkan Wulan yang sedang bepergian
dengan ibunya. Karena ada kabar dari liputan salah satu saluran televisi swasta
bahwa ada kecelakaan di Jembatan Suramadu. Jembatan yang menghubungkan Pulau
Jawa dan Madura. Ciri-ciri kendaraan sama, yaitu bis mini dengan cat warna biru
tua.
Reporter televisi itu tak menyebutkan berapa korban
meninggal dan luka-luka. Berita viral itu hanya sekilas tayang. Tapi yang pasti
penyebab kecelakaan itu karena ban depan pecah. Sehingga mengakibatkan bis mini
itu terguling beberapakali.
Kekhawatiran Debur berganti jadi ketakutan, kabar terbaru menerangkan
kalau semua penumpang tidak selamat setelah dilarikan ke rumah sakit. Debur
langsung pulang kantor menjemput anak satu-satunya di sekolah. Ia tidak
menyetir sendiri. Ia mengajak Ilham, Satpam di kantornya.
Sepanjang perjalanan dari Sumenep menuju Surabaya, Debur
tidak banyak bicara, hanya air matanya mengalir ke pipinya. Sedangkan Teddy,
anak Debur yang masih berusia tujuh tahun juga turut menangis demi mengetahui
kalau ibunya sudah meninggal dunia.
Bayang-bayang Wulan terus menghiasi ruang pikirannya. Ia
masih tidak percaya dengan kenyataan itu. Tadi pagi Wulan sempat mencium tangan
Debur sebelum berangkat ziarah kubur ke Sunan Ampel Surabaya. Wulan ditemani
ibunya serta sepuluh rekan-rekan kumpulan arisan.
“Jaga Teddy, Mas. Mungkin aku pulang agak malam!” ucap Wulan
selesai sholat subuh berjamaah.
“Kamu juga jaga diri. Aku takut kehilanganmu, Wulan,” balas
Debur dengan perasaan sayang.
Wulan tersenyum geli. Perempuan berbintang Leo itu memeluk
suaminya. Wulan sangat mencintai Debur karena pria itu tidak pernah
macam-macam. Gaya hidupnya sederhana. Ia tampil apa adanya.
“Kalau aku mati duluan, apakah Mas Debur akan menikah lagi?”
canda Wulan masih memeluk suaminya.
“Aku tak bisa berjanji. Kalau menurutmu?”
“Kalau aku sudah tiada, lebih baik Mas Debur kawin lagi.
Tujuannya agar Teddy ada yang mengurusnya. Paling tidak membantu beban kerja
Mas Debur di rumah. Sehingga Mas Debur punya banyak waktu bersama keluarga.
Mencurahkan kasih sayang terhadap anak kita.”
“Mulia sekali hatimu, Wulan. Dalam benakku tak terbayangkan
musibah bakal menimpa rumah tangga kita. Yang terpikirkan olehku, bahwa kita
akan hidup sampai tua renta. Kita akan menjadi kakek-nenek.”
Begitulah percakapan terakhir Debur dan Wulan.
Pasongsongan, 14/2/2020