Sang Pemimpin
Pentigraf: Yant Kaiy
Aku mengaguminya bukan kerena status dia sebagai seorang
pemimpin di lingkungan kami. Bukan hartanya berlimpah. Aku meneladani kehidupan
dia di tengah keluarganya saja: Terlihat harmonis tak kekurangan suatu apa pun.
Istri setia, anak-anak berbakti seiring pertumbuhan seperti lazimnya. Semua dia
dapatkan bersama mereka. Itulah hal paling menonjol dari sisi rumah tangganya.
Orang-orang mempercayainya karena terpaksa. Dia terpilih
menang tipis lewat pemungutan suara. Politik uang menjadi jurusnya meraup
kemenangan dalam pertarungan pemilihan serentak di berbagai pelosok.
Keberadaannya menjadi pusat perhatian berbagai pengamat politik. Dia
menjungkalkan kandidat lain yang sama-sama punya duit, memiliki segudang
reputasi menawan. Dewi Fortuna sedang berpihak sama dia.
Setelah jabatannya hilang karena kalah dalam pesta demokrasi
selanjutnya, dia kini sakit-sakitan. Batuk, pilek, gatal-gatal, dan gula darah
sehingga mengakibatkan salah satu kaki kanannya harus diamputasi. Rumah sakit
jadi tempat tinggal kedua. Dokter menjadi sahabat terdekatnya sampai harta
berharganya ludes. Sungguh kasihan. Tapi mereka tidak lagi memberikan bunga
sebagai bentuk penghormatan sebelum ajal menjemput nyawa. Ia tak ubahnya barang
rongsokan.
Pasongsongan, 21/2/2020