Rumah Makan Abu Nawas

M.S.Arifin (kiri)
bersama Yant Kaiy

Opini: Yant Kaiy

Tahun lalu, saya bersama rekan-rekan alumni SMPN 1 Pasongsongan-Sumenep  lulusan tahun 1988 mengadakan tour  ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua biaya transportasi dan akomodasi serta tiket wisata ditanggung oleh owner Komunitas Therapy Ramuan Banyu Urip, M.S Arifin.

Ada dua bis mini dalam tour itu. Total yang ikut ada sekitar 40 orang. Laki-laki dan perempuan. Saya bersyukur bisa berkumpul bersama mereka yang rata-rata menginjak usia hampir kepala lima. Karena ada beberapa teman kami satu angkatan telah meninggal dunia.



Dari Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep berangkat jam 7 malam. Rombongan kami langsung menuju kawasan wisata Candi Borobudur, karena M.S. Arifin beserta keluarga menunggu di sana. Sampai di lokasi jam 7 pagi.

Sebelum membeli tiket masuk kami semua mengenakan T-shirt seragam yang disediakan oleh M.S. Arifin. Cuaca panas mengharuskan sebagian dari kami beli topi lebar atau sewa payung. Dari pintu masuk ke lokasi Candi Borobudur cukup jauh juga kami berjalan. Sehingga ada sebagian dari kami yang kehausan. Untunglah saya membawa bekal minuman dan snack.



Sebelum naik ke Candi Borobudur, satu per satu dari kami foto bersama dengan M.S. Arifin. Sebagai kenang-kenangan.

Setelah itu kami menaiki Candi Borobudur. Terik matahari tak membuat semangat kami kendor. Kami sangat takjub dengan bangunan candi yang dibangun sekitar abad ke-8 itu, dan  merupakan rumah bagi ratusan patung buddha.
M.S.Arifin dengan istri

Pulang dari lokasi bersejarah, rombongan kami langsung menuju restoran. Untuk mengisi perut yang lapar. Kami memang sudah benar-benar lapar, namun pesanan kami belum juga datang. Ada sebagian teman kami yang tersulut emosi. Tapi apa boleh buat sudah ada di restoran cukup elite. Itu terlihat dari lokasi dan pelayannya agak banyak berpenampilan necis.

Lima belas menit lebih yang datang pertamakali minuman es jeruk. Baru setelah 15 menit kedua datang makanan dan menyantapnya. Luar biasa lama penantian kami. Bagi saya pribadi, rasanya lebih enak nasi goreng atau ikan laut bakar yang nasinya banyak.

Restoran elite tersebut kami juluki “Rumah Makan Abu Nawas”. 
Saya bercerita di hadapan teman-teman:

“Abu Nawas kedatangan raja dan pengawalnya. Raja itu meminta makanan paling enak kepada Abu Nawas. Kalau Abu Nawas tidak memenuhinya, maka sang raja akan memenggal kepalanya. Konon Abu Nawas mengajak jalan raja sangat jauh di bawah terik matahari menyengat. Otomatis si raja sangat lapar dan haus. Barulah Abu Nawas menghidangkan makanan terbuat dari ketela pohon dengan parutan kelapa. Raja teramat banyak makannya. Gagallah raja untuk memenggal kepala Abu Nawas.”

Mendengar cerita saya, teman-teman cekikikan.


Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III