Puisi: Agus Sugianto
Turunkan KPK ke Desa
Nawa cita adalah program yang kau cipta
Demi penuhi rasa keadilan kemakmuran merata
Dari pelosok desa hingga menuju kota-kota
Jawa papua kini sudah setara
Semua tertata untuk sebuah negeri Indonesia Raya
Jalan tol,kereta api bendungan serta beberapa bandar udara
Kau bangun kau berdirikan demi rakyat tercinta
Tuk songsong negara maju dan pasar bebas asia
Tapi ada anomali disekitar kita yang sesakkan dada
Banyak kepala desa bermetamorfosa
menjadi raja-raja
Yang dengan seenaknya membelanjakan dan kelola dana desa
Hingga gemah ripah pada masyarakat desa
hanya tinggal selongsong cerita
Yang makmur hanya sanak saudara,famili dan para kolega
Raskin tidak ditebus dengan alasan dana tak ada
Program PKH mereka yang kaya ternyata dapat juga
Laporan penggunaan anggaran tidak terpajang di balai desa
Transparansi pengelolaan keuangan hanya khayal semata
Penggelembungan harga sudah menjadi hal yang biasa
Kami ingin melapor, tapi pada siapa!
Kami ingin mengadu, juga pada siapa!
Karena bisa-bisa laporan kami taruhannya adalah nyawa
dan keselamatan keluarga
Sebab kepala desa adalah raja yang bisa terapkan hukum rimba
Yang kuat perkasa yang kalah binasa
Dengan uang digenggam ia bisa berbuat apa saja
Membeli aparat penegak hukum dan para pemangkunya
Jadi ratap dan satu permohonan yang kami pinta
Pada bapak presiden tercinta
Turunkanlah KPK ke desa-desa di seluruh nusantara
Untuk audit dan periksa alokasi dana desa
Jika ada kepala desa terbukti bersalah bawa saja ke Jakarta
Sebagai bentuk perhatian pada yang lain biar jera
Sumenep, 09
Januari 2019
Pinta Seorang Guru
Pintaku tak banyak Bapak Presiden kawula alit
Jangan kau bebankan kepada kami kurikulum yang sulit
Hingga tak ada waktu bagi kami untuk mendidik murid
Tiap waktu dituntut tuntaskan administrasi yang rumit
Dari dapodik,absen online,RPP online yang semuanya butuh internet
Kurikulum lama belum kami kuasai sudah muncul kurikulum baru
Dimana satu sub tema harus diselesaikan satu minggu
Padahal daya serap dan kecerdasan murid tidaklah padu
Kami berada pada posisi ambigu
Sub tema selesai satu minggu tapi murid kami biarkan dungu
Atau murid kuasai ilmu tapi butuh waktu berminggu-minggu
Di jaman dulu murid menulis pakai lei dan sarana terbatas
Tapi output yang dihasilkan sangat berkualitas
Pak habibie adalah contoh yang bisa kita ulas
Putra terbaik bangsa negarawan yang berotak bernas
Jangan sibukkan kami dengan administrasi yang menguras energi
Sampai kami tak punya waktu didik murid dengan pekerti
Tiap hari murid hanya kami jejali dengan tugas dan berdiskusi
Hingga mereka lupa wawasan kebhinekaan dan cinta ibu pertiwi
Karena itu kami tak heran jika paham intoleran dan radikal masiv sekali
Kami tidak anti modernisasi westernisasi arabisasi ataupun globalisasi
Tapi kami tak ingin semuanya menggerus khasanah budaya sendiri
Hingga budaya kita akhirnya menjadi tamu di rumah sendiri
Pelan tapi pastis tergerus dan tersingkir dari peradaban anak negeri
Berikan kami kurikulum yang membumi
Kurikulum yang berpijak pada akar dan budaya sendiri
Bukan kurikulum import dari bangsa di luar negeri
Hingga akhirnya pelan tapi pasti kami kehilangan jati diri
Jati diri bangsa pinunjul yang menjunjung nurani.
Sumenep,
17 Januari 2019
Agus Sugianto, S.Pd, lahir di Sumenep pada tanggal
09 Mei 1973.Alumni STKIP PGRI Sumenep yang punya hobby membaca dan menulis,saat
ini menjadi guru di SDN Pasongsongan I Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep serta mengajar di Madrasah
Aliyah Itmamunnajah Pasongsongan – Sumenep.Berorganisasi merupakan salah
satu aktifitas lainnya,sehingga beberapa
jabatan kepengurusan di berbagai organisasi ia sandang.Penulis beralamat di
Dusun Benteng RT 02 RW 02 Desa Panaongan Kec. Pasongsongan Kab. Sumenep.Bagi
yang ingin menghubungi si pendiam penyuka warna ungu ini bisa menghubungi lewat
account facebook dengan nama Agus Sugianto atau email : agussugianto1991@yahoo.com.
Jangan
lakukan sebab jika tak inginkan akibat.Apa yang kau dapatkan hari ini adalah
akibat dari perbuatan sebabmu di hari kemarin.
.
