Perasaan yang Terpendam

Hasil gambar untuk foto dian widya



Cerpen: Akhmad Jasimul Ahyak


Awal dari percakapan lidahku terasa kaku, entah apa penyebabnya. Mungkin ada perasaan malu atau karena aku menaruh perhatian kepadanya. Padahal yang aku perbincangkan bukan masalah rasa. Cuma sekedar ngobrol saja. Tapi di balik obrolan mereka ada yang indah dalam gerakan bibirnya, karena terlihat sunggingan manisnya. Sampai aku merasakan getaran yang sangat menyengat melarutkan dalam sukmaku.

Tak terasa sudah seperempat malam perbincangan aku bersamanya. Dihitung-hitung agak lama juga, tapi bagi aku tidak masalah, yang penting aku sudah melihat dan menatap wajah rembulan dibalik lipata kerudungnya. Bukan hanya itu, matanya yang begitu tajam, meskipun agak sipit sedikit, dengan dihiasi kaca mata yang begitu besar tampak indah bola matanya bila dipandang.

Inilah awal kisah si perempuan berkacamata yang menggoyahkan perasaanku. Aku mengenal sudah cukup lama hanya saja kedekatan terjadi belakangan ini. Cuman hanya dekat saja, tapi perasaan ada. Beberapa kali aku selalu berdua dengannya, sebut saja si W. Ketika aku dihadapannya tak banyak yang bisa aku lakukan. “Namun aku harus memulainya dari mana untuk mengungkapkan kehangatan suasana yang semakin indah”. Ucapanku dalam hati

Setiap hitungan detik aku selalu menatapnya, dibalutan kerudung warna hitamnya dan sebuah kaca mata yang menempel di matanya, aku begitu tentram memandangnya, ibarat aku melihat pancaran sinar pelangi indah dibalik kacamatanya.

Begitu banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan kepadanya, aku cuma merasakan mungkin hanya ini sekedar persahabatan. Tapi apakah aku salah? Bila aku menaruh perasaan kepadanya. Bisik dalam hatiku. Sehingga, aku tak kuasa menahan geliat hatiku untuk dapat bergabung ke hati si W di tengah rasa dan asa yang merekah ruah.

Rupanya realita tak mau kalah, hadir dan andil mengambil posisi. Membangunkan aku dari mimpi yang diharamkan nyata terjadi. Menyibak ilusi-ilusi nakal pengendali naluri. Meretak-retakkan gumpalan harapan dari segala sisi. Aku tersingkir, terseret mundur dari wadah  bertumpunya ambisi. Ya ambisi, ambisi untuk bersamamu lebih dekat lagi.

Aku dan si W memang lebih sering mengobrol. Tapi tak banyak kesempatan menghabiskan waktu bersamanya, namun dengan cara adanya tugas yang dia kerjakan sebagai guru. Aku sering bertemu, karena aku satu pekerjaan dengannya. Meski ada batas yang menghalangiku, namun itulah waktu yang begitu singkat. Namun begitu berharga ketika aku dapat menikmati senyum lepasnya. Aku hanya mampu menyapanya dalam diam dan itu sering mengundang rindu yang selalu menemaniku dikala aku bosan beraktifitas.

Segudang beban yang dia kerjakan dilakukan penuh semangat, karena memenuhi tugas yang mereka beban. Aku tidak tega, batinku sering memaksa untuk menyelesaikannya tugas si W, namun apa daya aku hanya diam dan bungkam seribu tenaga. Dan dia pun juga diam seribu bahasa, mungkin si W sudah tau bahwa aku punya perasaan yg terpendam terhadapnya, atau dia malu untuk memberikan jawaban ia atau tidak.

Mungkin perasaan cintaku sejak dulu hanya berakhir dengan “Sapaan dan Salam”. Tapi aku bangga dengan diriku sendiri yang sanggup memendam perasaan kasmaran terhadapnya. Biarlah rasa itu tetap ada dan bersemi selamanya.


Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Observasi Karakter Pancasila di SDN Padangdangan 2

SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Siap Berlaga di Olimpiade PAI Jawa Timur

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III