Menjemput Impian
Pentigraf: Yant Kaiy
Telah lama aku mengembara menyusuri liku hidup yang tak
jelas arahnya. Tujuan tak jelas itu timbul lantaran yang aku impikan seringkali
tak kunjung jadi kenyataan. Melenceng dari bidikan anak panahku. Kadang terbersit
keinginan melakukan manuver hantam kromo, melibas segala tujuan sehingga ada
salah satu yang mengenai sasaran. Tapi risiko menghentikan program yang akan
kujalankan. Akhirnya perahu kesadaranku berlabuh di dermaga kebimbangan.
Memang bimbang bagian dari hidup kita menempuh perjalanan
waktu. Ia juga dibutuhkan agar manusia bisa berkontemplasi mengurai persoalan
hidup yang tumpang-tindih. Seperti kebimbangan apakah aku akan tetap bersamanya
atau akan membencinya. Seperti kebimbangan Ayah ketika akan melamar Puji untuk
pendamping hidupku. Atau ketika Ibu memberikan tawaran agar aku memilih
Fadilah, gadis dewasa pikirannya karena dia seorang dosen. Atau Paman yang mau
menjodohkanku pada Sisilia setelah mendengar kalau jalinan cintaku bersama Rofi
mulai retak.
Namun ketika aku semakin membencinya karena dia
terang-terangan mau memutus pertunangan kami, kian runyamlah permasalahan
terhampar diantara sekian banyak keraguan. Masih belum membangun rumah tangga,
Rofi tak mau mendengar saranku karena persoalan busana. Rofi merasa cocok
dengan baju berhias bunga. Tapi aku tak mau baju itu dikenakan dia di pesta,
sebab tubuh Rofi agak gemuk. Menurutku dengan baju itu dirinya akan kian
terlihat gemuk. Persoalan sepele menjadi bumerang bagi pertunangan kami.
Pasongsongan, 22/2/2020