Maling Kampung
Pentigraf: Yant Kaiy
Tuan Polisi! Kenapa kau borgol tangan-kakiku begini kejam?
Padahal aku hanyalah pencuri ayam tetanggaku yang terlalu banyak mengotori
halaman rumahku dan tetangggaku. Aku lakukan untuk kebutuhan hidup kedua orang
tuaku sakit-sakitan; istriku sedang hamil tua anak keempat yang sebentar lagi
akan melahirkan; anakku masih membutuhkan aku untuk beli susu juga uang jajan
mereka pergi ke sekolah menuntut ilmu buat masa depannya.
Tuan Polisi! Apa bedanya aku dengan para koruptor yang telah
mencuri uangku dan uangmu bermilyar-milyar ternyata hukumannya sama dengan aku
dan mendapatkan perlakuan baik sepanjang waktu dalam penjara. Salahku hanya
pada satu keluarga saja, sedangkan koruptor dosanya pada semesta penduduk bumi
pertiwi ini masih bisa berkilah, berbusa-busa kata mengelabui kita. Aku
menuntut keadilan kepadamu, kepadanya, kepada mereka berlabel penguasa. Kau
tentu memiliki hati nurani sama seperti kami. Bajumu titipan kami.
Sewaktu-waktu mesti harus dicuci bersih, diseterika agar rapi, dan diletakkan
di lemari baju. Bajumu dan bajuku sama-sama terbuat dari kain cuma beda warna.
Tiba-tiba ingatanku hilang daratan seiring nada bicaraku tak
beraturan lagi. Ada berjuta bidadari mengangkatku ke istana megah para raja
bertahta. Memandikan aku dengan air bunga semerbak. Memakaikan baju kebesaran
layaknya seorang kaisar tempo dulu. Aku pun terbahak-bahak karena istri-anakku
telah lebih dulu menantiku. Mereka melebarkan tangannya. Ketika aku memegangnya
ternyata terali besi yang mengurungku.
Pasongsongan, 20/2/2020