Malam Pertama

Hasil gambar untuk gadis india

Cerpen: Yant Kaiy

Detak jantung Debur tak beraturan ketika dirinya masuk kamar. Sesosok perawan yang sudah menjadi istri sahnya duduk di bibir ranjang. Debur menikah dengan Ratna karena dijodohkan oleh pamannya.

“Usiamu sudah cukup dewasa, Bur. Demikian pula pola pikirmu. Aku rasa kamu pantas untuk segera kawin.”
“Kawin, Paman? Pacar masih belum punya,” elak Debur.
“Kamu kan sudah kerja, Bur. Masak kalah sama Anton yang sebentar lagi istrinya akan melahirkan. Bukankah usiamu dan Anton sama. Malah lebih tua kamu 6 bulan. Nunggu apa lagi, Nak,” terang pamannya.
“Entahlah, Paman.”
“Ada gadis yang kau suka sekitar sini?”
Debur gelengkan kepala.
“Aku ada calon buatmu, Bur,” usul pamannya dengan senyum lebar.
“O ya?”

Akhirnya, Debur dan pamannya main ke rumah seorang gadis. Mereka disambut orang tua gadis dengan tangan terbuka. Di tengah perbincangan, keluarlah gadis berbaju biru menghidangkan kopi. Ia tampak malu-malu.

“Bagaimana menurutmu gadis itu, Bur. Cocok nggak menurutmu?” tanya pamannya ketika pulang naik sepeda motor.
“Cantik, Paman.”
“Oke. Aku akan bilang sama orang tuamu untuk segera melamarnya.”
“Secepat itu, Paman?”
“Harus. Ntar ada yang melamar. Kamu bisa gigit jari.”
Mereka tersenyum bahagia.

“Kenapa, Mas?” tegur Ratna membuyarkan lamunan Debur.
“Aku teringat paman saja.”
“Aku perhatikan mulai tadi senyum sendiri.”
“Teringat ketika aku dan paman datang ke rumahmu malam-malam. Aku tak menyangka akan secepat ini kita menikah. Tak terbayangkan kalau kamu adalah jodohku, Rat,” ujar Debur seraya merebahkan badannya.

Ratna beringsut dan tidur di samping Debur. Kedua  insan berlainan jenis itu terlentang, memandang langit-langit kamar.

“Kita sebelumnya kan tak pernah kenal. Berbincang berdua pun kita juga tidak. Kenapa kamu mau menerimaku begitu saja, Rat? Anak muda sekarang kan biasanya harus saling bertemu. Tapi kita tidak,” ujar Debur memiringkan badannya. Terlihat lekuk tubuh sintal Ratna yang menggairahkan.
“Kata ustadz tempat aku mondok, jodoh yang datang lewat orang tua itu sangat baik. Aku pasrah saja. Orang tua kita kan sudah sama-sama saling memperkenalkan siapa diri kita sebenarnya. Kalau orang tua cocok, ya aku juga cocok,” tukas Ratna.
“Aku salut padamu.”

Pembicaraan pun terus berlanjut. Tanpa terasa suara adzan subuh berkumandang di mesjid. Malam pertama mereka berakhir sampai di situ.

Pasongsongan, 11/2/2020



Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Perkuat Karakter Siswa, SDN Padangdangan 2 Rutin Gelar Yasinan dan Sholawat Bersama