Laki-laki Di Pinggir Lapangan Upacara




Hasil gambar untuk gambar hitam putih lelaki tua pejuang kemerdekaan indonesia

Cerpen : Herry Santoso

Laki-laki itu begitu mencurigakan. Pakaian yang ia kenakan pun tampak eksentrik, dan terkesan menggelikan. Baju pejuang tempo dulu yang dekil dan penuh atribut serta lencana di sana-sini : ada berbagai timangan, puluhan tanda jasa menempel saku bajunya, juga kopel ring  laiknya yang dikenakan linmas masa kini, sepatu lars panjang sedengkul, dan masih banyak lagi. Dengan mengenakan topi mancungan  yang menyerupai sampan mengingatkanku pada tentara pendudukan Jerman di Perang Dunia II dulu. Tepat di ujung topi terpasang lencana merah putih.
     
Laki-laki itu berdiri mematung di pinggir lapangan upacara sejak pagi dengan sikap sempurna. Membusungkan dada dan matanya menatap lurus ke depan seakan mengawasi orang-orang yang berdatangan. Ia bak sebuah patung batu, diam tak bergeming sedikit pun. Meski ada banyak orang melintas di depannya seraya mencoba menyapanya, atau mencoleknya, ia tetap membatu.
     
Aku heran, siapa laki-laki misterius itu. Jangan-jangan ia seorang teroris yang pura-pura gila dan akan mengacaukan jalannya upacara bendera. Kecurigaanku kian menjadi-jadi tatkala di dekat kakinya terdapat ransel militer yang selalu dilindungi.  Terbukti ketika tanganku mencobamenggeser benda aneh itu, laki-laki aneh itu buru-buru menarik kembali ke tempat semula dengan tanpa sepatah kata pun ia ucapkan kecuali tatapan matanya yang tajam melotot ke arahku.
     
Matahari semakin menapak. Upacara bendera pun dimulai. Angin kemarau berhembus menerpa mik pengeras suara hingga menimbulkan suara gemuruh di lapangan terbuka itu. Lebih-lebih di saat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang mengiringi naiknya sang merah putih ke puncak tiang, kulirik laki-laki misterius itu memberi hormat dengan sikap sempurna, bahkan turut bernyanyi.
     
Aneh. Benar-benar aneh. Siapa gerangan kaki-laki itu ? Mungkinkah ia seorang pejuang, atau  mantan pejuang yang memang kurang waras. Sungguh aku dibuat penasaran oleh laki-laki misterus itu, lebih-lebih ketika upacara usai tiba-tiba laki-laki itu menghambur ke deretan kursi undangan VVIP, seraya berteriak, "Cucuku......!!"
Tak ayal, semua peserta upacara jadi gempar. Laki-laki aneh itu merajuk mendekati  ibu wali kota. Sedianya ia ingin memeluk wanita pejabat itu, tetapi atas kesigapan pengawal ia langsung digelandang ke luar lapangan.
      
"Tidak...! Aku ingin ketemu cucuku ...! Dia  cucuku....! Tolong aku ingin ketemu dia...!" laki-laki aneh itu berteriak-teriak dan meronta-ronta histeris. Tangannya meninju ke sana-ke mari dan menerjang-terjang, hingga pengawal wali kota terpaksa sang melumpuhkannya dengan tendangan mematikan.
     
Ia terkapar. Orang-orang pada bergumam : "Dasar orgil !"
      "Ho'oh !" kata  temannya.
      "Masa ibu wali kota secantik itu punya kakek gila. "
      "Heee....!" sahut yang lain dengan tawa.
      
Cuma aku yang diam. Bahkan diam-diam pula  aku merasa iba seraya mencoba mendekatinya.
       "Dia itu cucuku Mas..." menyambutku masih dalam sedu-sedan.
      "Iya, aku tahu, Kek..." balasku lembut agar ia tidak seberingas tadi.
      "Demi Allah dia cucuku hu...hu...hu.." ia tersedu-sedu sembari menegangi ulu hatinya yang terkena tendangan pengawal tadi.
      "Bagaimana kalau kakek singgah dulu ke rumahku. Di sana ada teh hangat, dan makan pagi, " usulku. "Di sini panas, angin, dan berdebu. Ayo, kerumahku, Kek...," ajakku. Laki-laki itu mengangguk. Kudukung tubuhnya untuk berdiri seraya kami pun meninggalkan lapangan upacara yang sudah sepi. Lucunya, tidak lupa ia memberi hormat ke tiang berdera sebelum melangkah pergi....

                   ***

"Dulu aku seorang pejuang, Nak..." laki-laki tua itupun mulai mengawali ceritanya.
 "Bapak mantan TNI ?"
"Masih TKR waktu itu. Aku masih amat muda, baru sembilan belas tahun umurku. Semuda itu aku sudah menikah. Istriku seorang anggota PMI yang turut serta berjuang. Setelah hamil, istriku kupulangkan ke rumah orang tuanya, dan  aku terus bergerilya. Hanya pesanku, kalau anak kamu lahir laki-laki kuberi nama Satria Nusantara, dan jika lahir perempuan kutitip nama Srikandi Merdekawati..." ia sejenak menghentikan ceritanya, kemudian disambungnya lagi, "Sejak itu aku tidak pernah pulang karena ditangkap musuh dan dipenjarakannya. Aku diberi kebebasan bersyarat, yaitu aku direkrut jadi pelaut dengan pangkat kelasi. Aku pun mengembara ke berbagai negara. Begitu pulang, aku dapat kabar, anakku yang dulu kutinggalkan sudah gadis. Istriku dinikahi oleh mantan komandanku. Aku benar-benar bersyukur. Konon anakku dinikahi seorang dokter, dan lahir cucuku yang kini jadi wali kota itu. Ia diusung lewat koalisi Partai Ingkar Janji dan memenangkannya, Nak....." ia mengakhiri ceritanya dengan linangan airmata.
      
Aku terdiam. Diam-diam ada rasa haru yang menyelinap di benakku. Senja mulai menua, Pak Tua itu kusilakan menginap di rumahku namun ia nenolak. Ia segera mohon diri.
     
"Kakek mau ke mana ?" tanyaku. Ia tak menjawab. Malah menghormat pada bendera yang ada di depan rumahku.

"Merdeka...!" pekiknya. Lalu pergi. Entah ke mana...
                                                                                        
       .***

Kediri, 16 Agustus 2019

Editor: Yant Kaiy




LihatTutupKomentar