Gadis dalam Bus
Cerpen: Yant Kaiy
Satu minggu sudah aku berada di Jakarta. Udara di kota ini
jauh berbeda dengan tempat tinggalku, Sumenep. Garing dan panas. Suasana ini
telah membuatku tidak betah tinggal di rumah kontrakan sempit.
Memang kakakku sering mengajak jalan-jalan ke beberapa plaza
dan makan di situ. Tapi entah kenapa aku tetap tidak kerasan. Jiwaku lebih enak
di alam pedesaan. Kakakku lebih mengimpikan suasana yang hingar-bingar.
Ia bekerja di perusahaan farmasi di Kawasan Industri Polugadung Jakarta Timur.
Akhirnya kakakku mengijinkan aku pulang. Ia memberikan
pilihan; naik pesawat, bus, dan kereta. Aku memilih bus karena ada bus langsung
Jakarta – Sumenep. Kalau naik pesawat dan kereta sudah pasti turun di Surabaya.
Setelah itu baru melanjutkan naik bus lagi menuju kotaku. Ini tentu akan
merepotkan buatku yang membawa barang agak banyak.
Aku diantar ke terminal bus Pulogadung. Sebelum naik terlebih
dulu membeli tiket dan mendapatkan nomor tempat duduk. Ternyata aku dapat
tempat duduk bersama seorang gadis. Aku tak pedulikan ia karena aku sudah punya
kekasih lebih cantik darinya. Jujur saja, aku tipe lelaki setia. Itu kata
banyak temanku.
“Asli mana, Mas?” tanya gadis dengan seutas senyum
bersahabat.
“Sumenep?”
“Aku Bangkalan.”
“O…”
Ia menawarkan minuman dan snack. Aku menolaknya dengan
lembut. Bus pun mulai meninggalkan terminal. Ketika memasuki tol aku langsung
tidur. Sudah menjadi kebiasaan kalau naik kendaraan roda empat aku tidur.
Aku terbangun ketika bus berhenti di rumah makan.
“Kita sholat dan makan dulu, Mas,” ajaknya penuh perhatian
kendati masih baru kenal.
Gadis itu mengekor di belakangku. Aku menuju toilet dan
ambil wudhu’. Selesai sholat lalu menuju ruang makan. Tiket bus ditukar
makanan. Baru tiga sendok menyuap makanan, gadis berambut lurus dari Bangkalan
duduk pas di hadapanku. Tak ada sedikit perasaanku tertarik padanya.
“Maaf mengganggu. Namaku Khadijah, Mas. Panggilannya Ica.
Dari tadi aku lupa memperkenalkan diri,”
ucapnya tanpa beban apa pun sembari menjulurkan tangannya. Kami berjabat
tangan.
“Debur.”
“Nama yang gagah.”
“Terima kasih!”
Setelah itu, Khadijah terus bercerita tentang dirinya.
Tentang kekasihnya yang mendua. Ia pandai menempatkan pembicaraan. Sesekali ada
humor menghias. Nuansa kebersamaan di hatiku mulai tumbuh. Seolah diantara kami
seperti sudah lama kenal.
Sebelum kami berpisah, kami saling tukar nomer hand-phone.
Khadijad turun di Bangkalan dan aku melanjutkan perjalanan lagi ke Sumenep,
kota ujung timur Pulau Madura.
Dua hari kemudian aku menghubunginya, tapi tak pernah ada
jawaban. Baru pada malam hari telponku diangkat, tapi bukan suara Khadijah.
“Ini siapa? Khadijah ya?”
“Bukan. Saya ibunya. Anda Siapa?” terdengar suaranya agak
serak.
“Saya temannya, Bu. Khadijah ada, Bu?”
“Maaf, Nak. Khadijah mengalami kecelakaan saat baru pulang
dari Jakarta. Jiwanya tidak tertolong.”
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun.”
Pasongsongan,
10/2/2020