Darah dan Air Mata
Pentigraf: Yant Kaiy
Darahku kini sudah tidak sebiru langit lagi. Ia sudah
tercemari tindak kejahatan pencucian uang Ayah dari hasil korupsi beragam
proyek fiktif. Rupaku sudah tidak berbentuk menyerupai manusia. Setiapkali aku bercermin
maka tampak noda-dosa berbongkah-bongkah di hadapanku. Ternyata cermin itu
telah berulangkali memperingatkan sikapku sebagai anak pejabat tinggi negara bersarang
kesenangan dan berfoya-foya. Diriku lupa daratan tempat di mana kakiku
berpijak.
Tapi aku tetap bangga memiliki Ayah yang telah mencurahkan
perhatiannya terhadap kami sehingga bisa mengenal jalan terbaik bagi masa depan
diri kami. Ya, kami percaya kalau Ayah berbuat aib itu karena adanya mata
rantai berbagai kepentingan beberapa orang. Ayah terjebak dari permainan itu.
Ayah khilaf tidak menggunakan jurus terbaik agar bisa mengelabui penegak
keadilan. Kejahatan berjamaah Ayah melibatkan orang-orang terbaik di nusantara
ini. Tapi mereka licin bagai belut,
mereka licik seperti iblis, sehingga tindak pidana mereka tak terendus semut
sekalipun. Luar biasa hebat. Sangat mengagumkan bagiku yang tak bisa membuka
mulutku sebagai aksi protes.
Akhir dari segala hikayat Ayah berada di balik tembok sunyi
penuh penyesalan. Berulangkali Ayah keluar-masuk rumah sakit dengan pengawalan
ketat akibat kencing manis menggerogoti tubuh ringkihnya. Sampai pada ujung
kematiannya, Ayah masih bisa berpesan kepada kami agar tetap menjadi orang baik dan bermanfaat bagi
banyak orang. Duh, Gusti! Air mata kami
menggenangi sajadah.
Pasongsongan, 20/2/2020