Ciuman di Bawah Hujan
Mendung pekat bergayut.
Mengantar senja yang kian menua. Orang-orang bergegas mencari perlindungan di
antara hujan yang mulai jatuh dan kian melebat. Sungguhpun demikian jalanan
tetap marak bahkan menimbulkan kemacetan di ruas jalan di depan tempatku berteduh.
Maklumlah malam Minggu.
"Mau menyeberang ya, mbak? " tanyaku pada perempuan
tengah baya yang termangu-mangu di trotoar sedari tadi. "Mari
kuseberangkan..." lanjutku tanpa
basa-basi sembari mengambil alih payung yang ada di tangannya. Setapak demi
setapak kami pun melangkah di antara padatnya arus lalu lintas yang merayap.
Kurengkuh pundak perempuan itu agar ia tak basah oleh air hujan.
"Terima kasih..." ucapnya lembut setelah kami sampai
di seberang. Ia pun tersenyum. Manis sekali dengan deretan gigi bak untaian
mutiara, indah dan rapi. Sesaat aku tertegun menatap wajahnya. Ada tahi lalat
di dagu kirinya, mengingatkanku pada srseorang. Ah, siapa gerangan ?
"Se...sebentar ! " ucapku ketika ia ingin melangkah
meninggalkanku yang masih termangu-mangu di tepi jalan. Ia pun mengurungkan
niatnya dan menatap ke arahku. Mata kami saling memandangi.
"Ya, Tuhan...bukankah kau Eliz? Eliza Maharani? " pekikku tertahan, tapi
ia masih ragu mengamatiku dari ujung
rambut hingga kaki.
"Be...benarkah....om Herry ?"
"Ya, aku !" kataku meyakinkannya.
Tak kuduga Eliza langsung menyergapku, memeluk badanku. Beberapa saat kami terdiam
dalam keharuan hingga alunan adzan maghrib menyadarkanku.
"Bagaimana untuk
merayakan pertemuan kita yang tidak sengaja ini sekaligus kita buka puasa di Rumah Makan Halal depan itu, "
kataku lagi menawarkan ajakan, seperti masa dua puluh tahun silam. Eliza
menggangguk dan tersenyum. Kami segera mencari tempat duduk yang ideal menghadap
ke jalan raya.
"Dulu kita selalu berbuka puasa di sini, ya? " ucapku
meretas kebekuan.
"Iya," jawab Eliza pelan seraya aku pun menuliskan
menu yang hendak kami pesan.
"Kamu ingin makan apa Eliza? Ataukah seperti kesukaanmu
dulu saja? "
"Boleh..." lagi-lagi ucapnya datar.
Aku pun segera nenuliskan dua porsi rajungan biru saus tiram plus lemon tea milk, menu wajib Eliza
dulu. Hujan belum juga reda. Restoran
itu sangat padat pengunjung. Sayup terdengar How Can I tell Her yang mengalun dari audio recorder semakin membuat atis di hati.
"Sekarang kamu di mana, Eli? Maksudku tempat tinggalmu," tanyaku
kemudian.
"Tetap di kota ini, Om.."
"Oh ya? Terus
tinggalmu tetap di rumah ya dulu itu ? "
Eliza mengangguk.
"Kata tetangga sebelah rumahmu, kamu di Jakarta? "
"Ya, itu dulu, sejak sebulan lalu aku balik lagi ke Blitar
dan...."
"Dan bersama keluargamu, kan? " tukasku tak sabar.
Aneh, ia menggeleng pelan.
"Kenapa? "
Eliza tidak segera menjawab masih berusaha menikmati
minumannya.
"Aku masih seperti yang dulu..."
"Maksudmu? " aku mengerutkan keningku.
"Ya. Aku masih tetap sendiri...." akunya jujur.
"Hah? " aku terperanjat.
Seketika ada riak di hatiku. Tak kusangka ia masih sendirian.
Masa dua puluh dua tahun memang bukan ukuran sebentar untuk sebuah perpisahan.
Terus terang Eliza dulu sempat berpacaran denganku. Ia keponakan Saidi
sahabatku.
Dulu ia gadis yang punya segalanya. Wajahnya aduhai. Tinggi
semampai. Mengingatkanku pada Zaskia Gotik. Saat itu ia lepas SMA. Awalnya,
dulu aku suka disuruh mengantarnya ke mall, atau sekadar "makan
angin" di halaman Istana Gebang. Lama-lama, dan diam-diam tumbuh benih-benih cinta
pertama di hati kami. Tapi sayang, ia segera hijrah ke Jakarta dan aku diangkat
guru di Madura.
Sejak itu kami tidak pernah jumpa lagi. Konon ia ikut serta Mas
Yitno, pamannya ke ibu kota dan kuliah di UI.
"Bagaimana keadaan Tante Nur, Om? Tentu masih secantik
dulu, kan?" tiba-tiba tanya Eliza.
Aku pun tidak segera menjawab. Seolah ada sesuatu yang
mengganjal di kerongkonganku hingga menu yang sehatusnya nikmat terasa sampah
di lidah.
"Tante Nur masih sehat, kan, Om? " ulangnya.
"Dia telah pergi, Eli..."
"Ke mana ?"
"Menghadap Allahi. Kanker payudara..."
" Innalillahi wa
inna illaihi rojiun...." ucapnya lirih dan tertelan. Ia tertunduk dan
ketika mengangkat wajahnya ada air kristal yang bergulir melalui pipinya.
Kuambil tissu. Kuusap airmatanya. Ia terpaku sesaat. Di luar sana hujan masih
belum juga reda. Masih menyisakan renai gerimis. Jalanan jadi kuyup dan atis.
"Terus anak-anak ke mana? "
"Ia sudah mentas semua, Eli... " kataku. "Yang
sulung di Kediri namanya Widya Harum Maharani. Maaf kedua anakku mengambil nama
belakangmu. Yang kedua bernama Erinda Maharani di Jember, dan bungsuku Ayu Dyah
Gumilar kini ikut suaminya di Solo. Aku sendiri tetap di rumahku yang
dulu." lanjutku panjang lebar. Wajah Eliza tampak semakin melankolis.
"Usia Om berapa? "
"Enam satu. Baru pensiun setahun lalu. Kamu? "
"Empat lima."
"NKRI harga mati ya?" candaku ingin meretas kebekuan.
"Maksudmu? "
" Empat lima kan angka kemerdekaan. Mempertahankan NKRI!
" jelasku.
"Haha..." Eli tergelak. Suasana pun jadi cair.
Di luar petang kian membayang. Kami pun segera angkat kaki dari
restoran legendaris itu. Menapak di trotoar nan basah. Kotaku terbalut kuyup di
malam yang kian beringsut. Kami berjalan berdampingan.
"Aku dingin Om, ayo naik taksi, " ujarnya.
"Kita naik bentor
saja ya, seperti dulu kita kan suka naik becak keliling kota? "
Eli tersenyum. Kami masuk ke becak motor. Kulepas jaket kulitku
dan kupasang ke tubuhnya. Eliza tidak menolak, bahkan ketika kudekap erat-erat.
"El..." suaraku nyaris tertelan.
"Aku inginkan kamu menggantikan dia...aku masih
mencintaimu. Seperti dulu....maukah kamu...?" sambungku.
Eli cuma memandang wajahku.
"Mau ya? "
kataku lagi. Ia diam saja, termasuk saat kukecup keningnya. Di luar hujan turun
lagi. Lebih deras.
"Kita ke mana, Boss? " teriak Abang Becak membuatku
tergagap.
"Jalan Seruni, Pak! "
"Timur Balai Kota, ya ?"
"Iya, dekat Apotek Sumberwaras ! " balasku. Bentor
pun pun melaju merobek malam minggu. Sesaat kemudian berhenti di tempat yang
kami tuju. Untung hujan sudah reda di antara semayup alunan adzan Isya' ketika langkah kami sampai
di mulut gang jalan.
"Kuantar sampai di sini saja ya, El..." kataku.
"Ya." balasnya, "dan terima kasih atas
semuanya..." lanjutnya.
Eliza pun memasuki gang itu, setelah sejenak kami saling
menatap. Kupandangi langkahnya seolah ada beban luka di punggungnya. Malam
semakin merangkak. Pelan tapi pasti dan tubuh Eliza pun hilang di ujung
gang....**
(Simpang Lima Gumul, 08/02/2020)
Editor: Yant Kaiy