Cinta Terkubur di Masalembu


Hasil gambar untuk foto orang galau


Cerpen: Yant Kaiy

Debur sudah tidak tahan lagi untuk segera bisa berjumpa dengan anak-istrinya. Debur lebih tiga tahun bekerja di Malaysia. Tiga tahun baginya bukan waktu sebentar. Karena terdesak kebutuhan hidup, ia rela meninggalkan anaknya yang menginjak umur dua tahun. Sungguh berat ia meninggalkan orang yang dicintainya.

Dengan naik bus menuju kota kelahirannya, pikirannya menerawang jauh tentang pertemuannya sesaat lagi. Bus memasuki terminal kedatangan. Debur menyisir pandangan sambil turun dari bus. Ia tak menemukan kedua orang yang dicintainya. Hanya kedua kakak Debur yang menyambut kepulangannya.

“Dimana Fera?” tanya Debur.
“Kita cerita di rumah saja, Bur!” singkat Rohim, kakak Debur yang pertama.

Debur penasaran. Ada sesuatu yang disembunyikan dari kedua saudaranya itu. Mereka bertiga kemudian meluncur ke tempat tinggalnya.

Di rumah Debur sudah berkumpul keluarganya, menyambut kepulangan Debur. Mereka yang hadir tak banyak bicara.

“Kemana Fera istriku?” tanya Debur.
“Dia lari dengan lelaki lain,” sahut istri Rohim.
“Apa?” Debur seolah tak percaya dengan ucapan itu. “Kenapa kalian tak memberitahukan aku? Kenapa harus menyembunyikan semua ini?” suara Debur nadanya mulai meninggi.
“Tenang saudaraku! Maksud dan tujuan kami menyembunyikan ini karena sejak satu tahun kamu berangkat, istrimu hamil dengan lelaki lain.”
“Siapa yang menghamilinya?”
“Yono temanmu.”
“Kurang ajar,”  teriak Debur dengan mata memerah. “Tega-teganya mereka mengkhianatiku. Lalu Rina anakku?”
“Ia dibawa Fera,” sahut Halis, kakak Debur nomer dua.

Kemarahan Debur kian menjadi.

“Besok aku ke Pulau Masalembu sendirian.”
“Kau harus buat perhitungan dengan Yono, Bur. Fera itu istrimu. Ini soal harga diri seorang suami,”  ujar Halis ikut arus kemarahan Debur.
“Benar. Yono mesti diberi pelajaran,” tambah istri Rohim.

Dengan menaiki kapal penumpang, Debur menuju Pulau Masalembu yang ditempuh selama sehari lebih perjalanan dari Pelabuhan Kalianget. Pulau Masalembu masuk dalam wilayah Kabupaten Sumenep Madura. Ia langsung menuju Kepala Desa setempat.

Debur menceritakan perihal maksud kedatangannya secara rinci. Akhirnya Pak Kades memanggil Fera. Mantan istri Debur itu datang dan ditempatkan di ruang sebelah. Sedangkan Rina kecil langsung memeluk Debur. Air mata debur mengalir bak anak sungai.

“Demi nama Allah. Saya Debur. Berikrar di hadapan para hadirin, utamanya Pak Kades. Bahwa saya akan menceraikan Fera. Saya tidak akan membuat perhitungan (carok) dengan suami Fera, asal ia mau bertanggung jawab sepenuhnya. Sebaliknya, saya akan kembali lagi kalau suaminya itu bertingkah yang tidak-tidak.”

Sepulang dari Masalembu, Debur langsung menikah dengan gadis lebih muda dari Fera dan masih perawan. Debur punya prinsip: Kalau dirinya dalam duel menang, hasilnya akan masuk penjara. Tapi kalau kalah carok, maka ia akan masuk kuburan. Toh, Fera lebih cinta pada Yono ketimbang dirinya.


Pasongsongan, 11/2/2020

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep Observasi Karakter Pancasila di SDN Padangdangan 2

SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Siap Berlaga di Olimpiade PAI Jawa Timur

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III