Cinta Seumur Kecambah

cinta seumur kecambah


Cerpen: Yant Kaiy

Hidup memang pilihan bagi setiap insan di atas muka bumi ini. Tapi ketika pikiran seseorang telah disusupi amarah, maka pikiran itu tak lagi berjalan di atas rel norma yang berlaku. Sikap sabar berganti sangar menakutkan. Sikap tabah menjadi takabur. Pikiran manusia itu akan sempit, stagnan, dan cenderung lupa daratan.

Seperti Debur pagi ini yang tidak bisa mengendalikan amarahnya demi melihat kekasihnya tertangkap mata sedang berduaan dengan Joko. Sinta ternyata gadis “gampangan” jatuh cinta. Asal mau traktir makan dan belanja di swalayan cintanya tergadai.

Usia pacaran Debur dan Sinta hanya seumur cambah. Sinta adalah teman Debur semasa SMA beda kelas. Kini mereka sama-sama menempuh pendidikan di salah satu pergurun tinggi. Debur tidak terlalu dalam mengenal kepribadian Sinta. Maklum, karena Debur lagi punya perhatian ke Adelia.

Disaat Debur lagi proses ‘pendekatan’ pada Adelia, lalu ada Sinta yang mendekatinya setiap ada kesempatan. Karena perhatian Sinta itulah akhirnya Debur mulai tumbuh benih cinta di hatinya. Benih cinta yang tak diimpikan sebelumnya ada untuk Sinta.

Perlahan tapi pasti, hasrat untuk mencintai Adelia tergerus. Debur menyambut cinta Sinta dengan mesra.

“Aku kecewa sama Sinta. Joko itu kan teman kita.”
“Joko kan tidak tahu kalau kamu pacaran sama Sinta. Semestinya kamu yang pasang garis polisi di tempat kos Sinta, bahwa Sinta itu milikmu,” pintas Adelia setengah bercanda.
Debur jadi ikut tersenyum.
“Ngaco kamu, Lia.”
“Habisnya kamu frustrasi gitu, Bur. Cewek cantik kan tidak cuma dia. Kamu kan laki-laki, kamu bebas memilih.”
“Emang memilih kekasih seperti memilih biji kacang, gitu. Memang banyak gadis lain, tapiuntuk menjadikan kekasih itu butuh selera. Aku mencintai Sinta karena ada dia memiliki perhatian khusus terhadapku. Tidak hanya sekali. Akhirnya aku kepincut sama dia. Tapi cinta dia hanya seumur cambah,” kesan Debur tentang Sinta.
“Kau lupakan saja dia!” tukas Adelia enteng.
“Tidak mudah cari gantinya.”
“Mobil saja punya ban serep. Masak kamu tidak punya ban cadangan.”
“Ada.”
“Siapa?”
“Kau.”
“Ih. amit-amit.”

Debur tertawa. Adelia tersenyum malu-malu kucing. Tapi ketika tangan Debur memegang tangan gadis berambut panjang itu, Adelia tidak menolaknya.

Pasongsongan, 13/2/2020


Postingan populer dari blog ini

Siswa SDN Padangdangan 2 Pasongsongan Berhasil Tembus Semifinal Olimpiade PAI Jatim 2026

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III