Aku Khawatir Dia Jadi Miliknya
Pentigraf: Yant Kaiy
Setiap persaingan apa pun akan melahirkan perasaan khawair.
Seseorang harus mempersiapkan mentalnya menuju jurang kekalahan. Begitulah,
kita sering mendengar kalimat itu dari orang bijak. Tapi seberapa banyak orang
yang tidak khawatir menghadapi situasi semacam ini? Seperti kekhawatiranku
terhadap Maghfirah. Dia kekasihku yang telah banyak mengorbankan waktu dan
perasaannya menemaniku dalam suka maupun duka.
Maghfirah menggantikan posisi Rika di hatiku. Rika
berselingkuh dengan teman kerjanya. Lalu kuputuskan dia. Maghfirah sebelumnya
juga punya pacar, tapi pacar dia sering besikap kasar padanya. Maghfirah pun
akhirnya pergi dari kehidupannya. Ia jatuh ke pangkuanku dalam keadaan yang
tidak sempurna lagi karena kedua orang tuanya meninggal dunia. Akhirnya ia
menjadi pramusaji di rumah makan, menyambung hidup karena harta kekayaan
warisan orang tuanya disita oleh bank. Ia pun tinggal di rumah kos dekat tempat
tinggalku.
Perubahan drastis dari orang kaya jadi miskin merupakan
perjalanan hidup menyedihkan. Mereka menyudutkan Maghfirah atas “dosa” orang
tuanya. Aku mengangkisnya dari dasar sumur derita, namun orang tuaku keberatan
jika aku menikahinya. Aku tak mau Maghfirah jatuh ke tangan orang lain. Ia gadis
tidak egois, penyabar, murah hati, mau mengerti aku apa adanya. Ia gadis
impianku.
Pasongsongan, 22/2/2020