Kumpulan Puisi “Virus” (14)



Karya: Yant Kaiy

Penyesalan Sebuah Kematian

jasadku telah terkubur bersama berjuta penyesalan tiada bertepi seperti halnya laut tidak berpantai. kini aku

tak dapat berbuat banyak atas sesal yang melimpah-ruah di dnda ini, senantiasa bergelegak tak pernah henti. mulutku terkunci rapat; tanganku seakan terborgol kuat; kakiku terpasung erat. hanya mata, hidung, kuping, pere-

saan serta otak juga masih dapat bekerja sebagai saksi untuk kematianku ini.

 

kematian ini membawaku pada suatu kenyataan lautan dosa terpendam di hati mereke; orang-orang yang tak berdaya. aku tak dapat berbuat kasih-sayang sepenuh jiwa terhadap anak-istri. cintaku tertambat pada para pelacur, meja judi, minuman keras, merampok, jambret, garong, mencopet, bahkan jadi pembunuh bayaran.

 

akhir hayat tak beruntung diselimuti kemursalan setelah sebutir peluru merobek batok kepalaku. dalam kematianku yang sadar akan segela kesalahan diri di alam penuh cobaan ini, semoga menjadi tauladan bagi sesama manusia agar mereka tahu, hidup di dunia ini janganlah suka melanggar larangan yang telah digariskan Sang Pencipta.

percayalah terhadapku, kalau engkau tidak menghendaki kematianmu seperti diriku.

Pasongsongan, 29/02/92

 

Perasaan Cinta

rasa cinta tak selamanya dapat dimiliki tiap insan. benci selalu ada di sanubari; marah selalu ada di muka; kesombongan selalu ada di raga; iri selalu ada di mata; keserakahan selalu ada di lenganmu, terbalut dengan angkara-murka yang takkan sirna begitu saja pada insan berhati bejat.

 

rasa cinta tak selamanya dapat dimiliki tiap insan. ular mati oleh tongkatmu; burung mati oleh sangkarmu; ikan mati oleh kotoranmu; buaya mati oleh keserakahanmu; badak mati oleh uangmu merayap pada kantong-kantong manusia tidak bertanggung-jawab.

 

rasa cinta tak selamanya dapat dimiliki tiap insan. orang perempuan muda membuang bayinya di semak belukar terpencil, takut aib menimpa dirinya. seorang ayah tak bekerja, ibarat benalu menempel pada istrinya (sang istri bekerje membanting tulang, sementara sang ayah hanya duduk merokok, minum kopi, membaca koran sambil meletakkan kaki di atas meja) .

 

apakah itu yang memang disebut sepotong cinta sejati?...

Pasongsongan, 29/02/92



LihatTutupKomentar