Santet (I)



Santet (I)

Puisi: Yant Kaiy

 

awas…

santet menyebar liar dimana-mana

menyusup ke sela-sela kehidupan

menyeruak ke dinding iman tipis

memporak-porandakan ketentraman harmonis

bahkan dapat menumbangkan harapan esok pagi

memusnahkah kedamaian di sanubari

berganti dunia hitam penuh misteri

lalu manusia sibuk mencari perisai diri

 

awas…

santet tidak bersayap dan berkaki

tidak bermata dan berhati suci

namun santet dapat menyerang siapa saja disuka

membabi-buta, tak mengenal iba sama sekali

malah mampu menyiksa anak manusia

hingga nyawa meregang, melayang

seperti cacing kepanasan, menggelepar-gelepar

 

awas…

santet senantiasa mencari kelengahan kita

tidak mengenal ruang dan waktu

tidak pernah pandang bulu

santet lebih pintar dari akal bulus kita

membuat sesuatunya menjadi nyata

seringkali membikin mata kita terbelalak

santet memang terlalu bengis, kejam, galak, dan garang terhadap makhluk bernyawa. kini santet menjadi dagangan laris. banyak juga pembelinya, dan begitu beragam kebutuhan mereka: ada yang karena dendam dan keserakahan, ada yang karena iri dan kebencian, atau karena persaingan untuk saling melenyapkan. yang jelas, dengan santet mereka dapat membunuh di balik layar lawan-lawannya. yang jelas, mereka terbebas dari tuntutan yang macam-macam warnanya.

Pasongsongan, awal 1996 



LihatTutupKomentar