Postingan

Peserta Didik dari Pelosok Desa Pasongsongan Tunjukkan Peningkatan dalam Lomba Seni

Gambar
Salehodin Hr. [Foto: sh] SUMENEP – Penampilan peserta didik dari lembaga pendidikan pelosok desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan terus menunjukkan tren peningkatan tiap tahunnya. Selasa (19/8/2025).  Hal itu diungkapkan Salehodin Hr, salah satu juri dalam lomba pidato bahasa Madura pada Semarak Kemerdekaan RI ke-80 yang digelar di Pendopo Kecamatan Pasongsongan. Dalam keterangannya, Salehodin menegaskan pentingnya profesionalitas para juri dalam menilai penampilan peserta.  “Saya memperingatkan diri sendiri. Kita harus berlaku adil dan bijaksana dalam memberikan nilai, karena kelak pasti akan dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kinerja tim juri yang dinilai sudah melakukan penilaian secara objektif dan maksimal.  “Buktinya, tiap tahun peserta terus mengalami peningkatan, baik dari sisi jumlah maupun kualitas,” tambahnya. Seperti tahun sebelumnya, lomba bidang seni kali ini meliputi lomba baca puisi, lomba pidato bahas...

Penampilan Peserta Didik dari Pelosok Desa Pasongsongan Makin Membaik

Gambar
Salah satu penampilan murid SD. [Foto: sh] SUMENEP – Penampilan peserta didik dari lembaga pendidikan pelosok desa di wilayah Kecamatan Pasongsongan menunjukkan tren semakin membaik dari tahun ke tahun. Selasa (19/8/2025).  Hal tersebut disampaikan Hasbi Ash Siddiqy, salah satu juri lomba baca puisi dalam rangka Semarak Kemerdekaan RI ke-80 Kecamatan Pasongsongan. Menurut Hasbi, kualitas penampilan peserta kian terlihat, baik dari segi penguasaan panggung maupun penghayatan dalam membawakan puisi.  Peserta dari pelosok desa sudah mampu tampil percaya diri dengan persiapan yang cukup matang. Ini sebuah perkembangan yang sangat positif,” ungkapnya. Lomba baca puisi tingkat Kecamatan Pasongsongan itu digelar di Pendopo Kecamatan Pasongsongan dengan peserta dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA se-Kecamatan Pasongsongan.  Pagelaran lomba baca puisi ini jadi salah satu ajang bagi para pelajar untuk menyalurkan bakat dan kreativitas seni, sekaligus memeriahkan HUT Kemerdek...

Ketua Panitia Sampaikan Apresiasi untuk Peserta dan Guru Pendamping Lomba Seni

Gambar
Peserta lomba di Pendopo Kantor Kecamatan Pasongsongan. [Foto: sh] SUMENEP – Ketua panitia lomba, Akhmad Jasimul Ahyak, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan guru pendamping yang telah berpartisipasi dalam Semarak Lomba baca puisi, pidato, dan nyanyi solo dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-80. Senin (18/8/2025).  “Kami mengapresiasi kepada seluruh peserta dan guru pendamping atas perjuangannya mengikuti lomba,” ungkap Jasimul. Menurutnya, kalah dan menang merupakan hal yang wajar dalam setiap kompetisi, tapi semangat dan kebersamaan yang ditunjukkan para peserta adalah hal yang lebih utama. Pagelaran lomba yang diikuti siswa dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/MA ini berlangsung meriah di Kantor Kecamatan Pasongsongan.  Acara tersebut menjadi wadah untuk menumbuhkan bakat, kreativitas, serta semangat kebersamaan antar pelajar di Kecamatan Pasongsongan. [sh]

Dua Murid SDN Soddara 2 Ikut Lomba Baca Puisi Semarak Kemerdekaan RI ke-80

Gambar
Bambang Sutrisno diapit dua siswanya. [Foto: sh] SUMENEP – Dua murid SDN Soddara 2 Kecamatan Pasongsongan turut berpartisipasi dalam lomba baca puisi tingkat SD/MI se-Kecamatan Pasongsongan dalam rangka Semarak HUT Kemerdekaan RI ke-80. Senin (18/8/2025).  Kepala SDN Soddara 2, Bambang Sutrisno, yang turut mendampingi langsung kedua siswanya, menyampaikan harapannya agar mereka bisa tampil maksimal dan melaju ke babak final. Dua siswa SDN Soddara 2 bersama guru pembimbing. [Foto: sh] “Partisipasi siswa kami dalam lomba baca puisi ini jadi ajang untuk mengasah kepercayaan diri sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap seni dan budaya literasi,” ungkap Bambang. Lomba baca puisi tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan lomba seni dalam Semarak Kemerdekaan RI yang digelar di Pendopo Kecamatan Pasongsongan. [sh]

Lomba Sermarak Kemerdekaan RI ke-80 Bidang Seni Kecamatan Pasongsongan

Gambar
Kunti (kanan) bersama para panitia lomba bidang seni. [Foto: sh] SUMENEP  –  Dalam rangka memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, panitia pelaksana lomba seni Kecamatan Pasongsongan menggelar berbagai lomba bagi siswa. Senin (18/8/2025).  Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kecamatan Pasongsongan ini meliputi lomba baca puisi, lomba pidato bahasa Madura, serta lomba nyanyi solo. Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA.  Suasana lomba berlangsung meriah dengan antusiasme siswa dan dukungan para guru pendamping. Salah seorang panitia lomba, Kunti, menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan lomba kali ini panitia memberikan kesempatan tampil lebih dulu bagi lembaga pendidikan yang letaknya agak jauh dari pendopo kecamatan. “Keputusan bijak ini diambil karena banyaknya peserta lomba yang mendaftar, sehingga memudahkan kegiatan lomba,” terang Kunti. Dengan adanya lomba seni ini, diharapkan siswa tidak hanya me...

Semarak Lomba Seni Siswa Meriahkan HUT RI ke-80 di Pasongsongan

Gambar
Agus Sugianto (paling kiri) bersama para panitia lomba seni. [Foto: sh] SUMENEP – Dalam rangka memeriahkan Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI ke-80, Kecamatan Pasongsongan menggelar berbagai lomba seni siswa yang berlangsung semarak. Senin (18/8/2025).  Kegiatan ini meliputi lomba baca puisi, lomba pidato bahasa Madura, dan lomba nyanyi solo. Rencananya, lomba tersebut digelar selama tiga hari. Tapi, antusiasme peserta yang begitu tinggi membuat panitia menambah durasi pelaksanaan jadi empat hari. “Karena jumlah peserta membludak, terpaksa kami tambah waktunya jadi 4 hari,” ungkap Agus Sugianto selaku koordinator panitia lomba seni.  Seluruh rangkaian lomba seni siswa ini dipusatkan di Pendopo Kecamatan Pasongsongan.  Suasana penuh semangat kebersamaan dan kreativitas tampak mewarnai jalannya acara, sekaligus menjadi bentuk nyata partisipasi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. [sh]

CERPEN: Bagai Pembantu di Rumah Sendiri

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur, seorang suami yang penuh tanggung jawab.  Setiap bulan, gajinya sebagai ASN ia serahkan semua kepada istrinya, Tona.  Hanya beberapa lembar uang buat transportasi ke tempat kerja.  Baginya, kebahagiaan keluarga adalah harga mati, dan Tona adalah pusat dari semua itu. Tapi, belakangan ini Tona kerap murung.  Rutinitas sehari-hari membuatnya merasa terjebak.  Pagi-pagi ia harus menyiapkan sarapan, lalu mencuci dan membersihkan rumah.  Siang menjemur pakaian, sore kembali ke dapur menyiapkan makan malam.  Malamnya, ia harus kembali memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. "Mas, aku merasa hidupku hanya di dapur, sumur, dan kasur. Aku tak ubahnya pembantu di rumah sendiri," keluh Tona.  Debur terdiam, hatinya tercekat.  Ia tak pernah membayangkan, pengorbanan dan rasa tanggung jawab yang ia jaga ternyata membuat istrinya merasa terikat.  Dengan suara pelan ia berkata, "Tona, aku tak pernah menganggapmu seperti...

CERPEN: Berkubang di Lumpur Kemarau

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur adalah seorang suami yang penuh tanggung jawab.  Sejak awal menikah, ia berjanji pada dirinya, bahwa nafkah keluarganya harus terpenuhi dari hasil keringatnya.  Setiap bulan, begitu gaji ASN-nya cair, Debur menyerahkan semuanya kepada istrinya, Tona.  Hanya selembar uang bensin yang ia sisakan di dompet, sekadar untuk ongkosnya berangkat dan pulang kerja. Tona sering terharu melihat kesungguhan suaminya.  Tapi belakangan ini, kegelisahan tak bisa ia sembunyikan.  Penyebabnya; anak sulung mereka diterima di perguruan tinggi, anak kedua bersiap masuk SMA, dan anak ketiga sudah waktunya masuk SMP.  Biaya yang menunggu terasa bagai gunung yang menjulang. Malam itu, di ruang tamu sederhana, Tona menunduk sambil menahan air mata.  Debur duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya dengan hangat. “Jangan khawatir, Ton,” ucap Debur pelan. “Selama aku masih bisa bekerja, Insya Allah anak-anak akan sekolah. Kita jalani pelan-pelan,...

SMA Annidhamiyah Kelas X Raih Juara 3 Lomba Menghias Kelas Semarak HUT RI ke-80

Gambar
Paling kiri: Fatillah Alfi Maghfirah. [Foto: sh] PAMEKASAN – Dalam rangka memeriahkan Semarak Lomba Dirgahayu Republik Indonesia ke-80, Lembaga Pendidikan Islam Annidhamiyah menggelar berbagai lomba, salah satunya lomba menghias kelas. Ahad (17/8/2025).  Kelas X SMA Annidhamiyah berhasil meraih juara 3 dalam ajang tersebut.  Ketua kelas X, Fatillah Alfi Maghfirah, menyampaikan rasa syukurnya meski hanya membawa pulang juara 3.  “Kami merasa puas walau meraih juara 3. Kerjasama tim merupakan pengalaman yang sangat berharga dan menjadi bahan evaluasi yang mahal harganya,” ungkap Fatillah. Sebagai informasi, Lembaga Pendidikan Islam Annidhamiyah berada di Dusun Jeppon, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Kabupaten Pamekasan.  Lembaga ini menaungi jenjang pendidikan mulai dari RA, MI, SMP, hingga SMA, serta merupakan bagian dari Pondok Pesantren Annidhamiyah. [sh]

Lomba Penjelajahan Pramuka Meriahkan HUT RI ke-80 di Pasongsongan

Gambar
Panitia pelaksana lomba Pramuka. [Foto: sh] SUMENEP – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, panitia pelaksana lomba Kemerdekaan RI Kecamatan Pasongsongan menggelar kegiatan lomba penjelajahan Pramuka. Kamis (14/8/2025).  Kegiatan yang berpusat di SMPN 1 Pasongsongan itu diikuti dengan penuh antusias oleh peserta dari kalangan pelajar tingkat SD/MI.  Kendati cuaca cukup panas, semangat peserta tidak surut sedikit pun. Salah satu peserta penjelajahan dari SDN Panaongan 3 Pasongsongan. [Foto: sh] Agus Sugianto, selaku Sekretaris Gerakan Pramuka Kwartir Ranting Pasongsongan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar perlombaan, tapi juga jadi wadah bagi generasi muda untuk produktif dan berkolaborasi. “Lomba penjelajahan Pramuka merupakan salah satu sarana bagi peserta untuk mengasah keterampilan, melatih kerja sama tim, serta meningkatkan jiwa nasionalisme,” ungkapnya. Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian acara HUT R...

CERPEN: Hubungan Terlarang

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur berdiri terpaku di depan cermin kamar mandi, wajahnya pucat diterpa cahaya lampu yang redup.  Air masih menetes dari rambutnya, membasahi lantai.  Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Tona—mertuanya—masuk dengan langkah tergesa, wajahnya tampak kalut. “Debur…” suara Tona bergetar, entah karena sedih, entah karena dorongan emosi yang tak mampu ia bendung. Sebelum sempat berkata-kata, Tona memeluknya erat.  Pelukan itu bukan sekadar pelukan ibu mertua pada menantunya; ada rasa sepi, ada luka lama yang meledak.  Debur kaget, tubuhnya kaku. “Ibu… jangan begini,” bisik Debur, tapi suaranya terdengar lemah.  Ia tahu ini salah, tapi ada kerinduan manusiawi yang tiba-tiba membelenggunya. Malam itu, batasan hancur. Mereka larut dalam bisu dan dosa. Tapi, setelah semuanya terjadi, sunyi lebih mencekam daripada apa pun.  Tona terduduk di lantai, menutup wajah dengan kedua tangannya.  “Astaghfirullah… apa yang kita lakukan, Bur?” suaran...

CERPEN: Sungai Air Mata Sepasang Kekasih

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Di masa kuliah, Tona dan Debur tak terpisahkan.  Mereka sering jadi tim dalam berbagai kegiatan kampus, dari lomba debat, organisasi kemahasiswaan, hingga proyek sosial.  Kebersamaan itu membuat Debur yakin, suatu hari ia akan melamar Tona. Akan tetapi, semua berubah tatkala Debur tanpa sengaja mengetahui siapa sebenarnya Tona.  Di balik sikapnya yang sederhana, Tona adalah anak dari keluarga berpengaruh dan berharta, pemilik perusahaan besar. Berhari-hari Debur memikirkan itu.  Ia merasa kecil, minder, dan tak pantas.  Rencana lamaran yang sudah ia susun rapi perlahan ia lipat dan simpan di laci pikirannya.  Sedangkan Tona menunggu kabar yang tak kunjung datang. Debur memilih diam, takut melangkah ke dunia yang terasa terlalu tinggi baginya. Dulu dua sahabat berdiri sejajar, kini jarak tak terlihat mulai membentang, bukan karena Tona berubah, tapi karena Debur mundur. [sh]

CERPEN: Malam Duka dan Tangan Kosong

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur duduk diam di kursi bus, menatap jendela yang dipenuhi bayangan lampu jalan.  Di sampingnya, ibunya menahan air mata.  Sejak kabar ayahnya dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi,  hidup mereka kelam.  Rumah megah, mobil, tabungan di bank, bahkan uang dan perhiasan yang disembunyikan di ruang bawah tanah, semuanya disita negara. Bus malam yang mereka tumpangi memasuki jalan sempit menuju kampung halaman.  Tak ada koper besar, tak ada kotak kardus - hanya tas lusuh berisi pakaian seadanya.  Begitu turun di depan gang kecil, angin malam menyapa dengan dingin yang menusuk tulang. Lampu-lampu rumah tetangga sudah padam.  Suara jangkrik bersahutan di kegelapan.  Debur menggenggam tangan ibunya erat-erat, berjalan pelan di jalan tanah yang kering.  Mereka pulang, tapi bukan sebagai keluarga yang dulu dikenal kaya, melainkan sebagai orang asing yang kembali membawa cerita pahit. Di ujung gang, rumah kayu tua peninggala...

CERPEN: Kemelaratan yang Tak Pernah Lulus Seleksi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur sudah lebih dari dua puluh tahun mengajar sebagai guru honorer.  Pagi, siang, bahkan malam ia habiskan untuk mempersiapkan materi, membimbing murid, dan menghadiri rapat sekolah.  Tidak ada gaji yang layak, hanya honor seadanya.  Tapi Debur tetap bertahan, percaya bahwa pengabdian akan dibalas oleh negara. Kenyataan berbicara lain.  Ketika seleksi PPPK datang, Debur kembali gagal.  Bukan sekali, tapi berkali-kali.  Pemerintah, seolah buta, tak melihat keriput di wajahnya yang lahir dari lelah mendidik anak bangsa. Ironisnya, Tona, guru honorer baru empat tahun, lulus seleksi PPPK.  Bagi Debur, itu seperti pil pahit yang harus ditelan sambil menahan air mata.  Bukan karena iri, tapi karena keadilan yang diimpikannya selama ini ternyata hanyalah cerita di atas kertas. Di meja belajarnya yang reyot, Debur menatap tumpukan buku dan catatan muridnya.  “Jika pengabdian tak dihargai, untuk apa kata ‘pahlawan tanpa tanda ja...

CERPEN: Cinta yang Tak Ternilai

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Tona dikenal cantik, cerdas, dan memesona.  Cinta yang Tak Ternilai Tapi, hati Tona seolah tak tersentuh oleh semua kemewahan itu. Di tengah persaingan sengit itu, hadir Debur; seorang pria sederhana yang hidup pas-pasan.  Ia tak punya harta, tak punya jabatan, hanya punya keberanian dan ketulusan.  Debur tak pernah membanjiri Tona dengan hadiah, tapi selalu hadir ketika Tona butuh sandaran.  Ia mendengar, memahami, dan menghargai Tona bukan sebagai “hadiah” yang harus dimenangkan, melainkan sebagai jiwa yang layak dicintai. Lama-lama, Tona merasakan sesuatu yang berbeda.  Keberadaan Debur membuatnya merasa aman, dicintai, dan dihargai apa adanya.  Pada akhirnya, di tengah hiruk pikuk pria-pria kaya yang berlomba memikatnya, Tona memilih Debur—pria sederhana yang berhasil menundukkan hatinya dengan ketulusan yang tak ternilai. []

KKKS Pasongsongan Bersama BKPSDM Sumenep Gelar Validasi Data Non ASN Pelamar PPPK

Gambar
Kegiatan validasi data tenaga honorer Kecamatan Pasongsongan. [Foto: sh] SUMENEP – Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Pasongsongan bekerja sama dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep menggelar kegiatan validasi data non ASN pelamar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap II formasi tahun 2024.  Kegiatan ini dipusatkan di SDN Pasongsongan 1, Kecamatan Pasongsongan. Kamis (14/8/2024). Sekretaris KKKS Pasongsongan, Agus Sugianto, mengungkapkan bahwa proses validasi berjalan dengan tertib dan lancar berkat koordinasi yang baik antar pihak terkait. “Pendataan ini merupakan sebuah proses menuju tahapan lebih lanjut bagi tenaga honorer menuju gerbang PPPK paruh waktu,” jelas Agus Sugianto. Hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas Bina SD Kecamatan Pasongsongan, Abu Supyan, seluruh kepala SDN dan SMPN se-Kecamatan Pasongsongan, beserta operator dan bendahara sekolah.  Validasi ini dilakukan untuk memastikan ke...

Kepala Disbudporapar Sumenep Pimpin Apel Pagi, Tekankan Semangat Pramuka dalam Bekerja

Gambar
Mohammad Iksan memberikan pesan singkat. [Foto: sh/vend] SUMENEP – Apel pagi pegawai Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep berlangsung khidmat di halaman kantor setempat, Selasa (14/8/2025).  Dalam amanatnya, Mohammad Iksan mengajak seluruh pegawai untuk meneladani nilai-nilai yang terkandung dalam semangat Pramuka. “Dengan semangat Pramuka marilah kita tingkatkan kemampuan, tingkatkan kinerja, kerja keras, kerja cerdas, dan bekerja dengan ikhlas!” tegasnya di hadapan seluruh peserta apel. Ia menekankan, semangat tersebut penting untuk diterapkan dalam setiap tugas dan pelayanan publik agar program kerja Disbudporapar bisa terlaksana secara maksimal. Apel pagi ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kedisiplinan dan kekompakan aparatur di lingkungan Disbudporapar Sumenep, sekaligus memupuk motivasi kerja menjelang peringatan Hari Pramuka. [sh]

KKKS Pasongsongan dan BKPSDM Sumenep Gelar Validasi Data Non ASN Pelamar PPPK Tahap II

Gambar
Agus Sugianto bersama salah satu siswanya. [Foto: sh] SUMENEP – Besok, Kamis (14/8/2025), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Pasongsongan bersama Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep dijadwalkan melaksanakan validasi data non ASN pelamar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap II formasi tahun 2024.  Kegiatan akan dipusatkan di SDN Pasongsongan 1, Kecamatan Pasongsongan. Sekretaris KKKS Pasongsongan, Agus Sugianto, menegaskan pentingnya kehadiran seluruh tenaga honorer dalam proses validasi ini. “Tidak ada alasan untuk tidak hadir. Karena hal ini menyangkut masa depan agar lebih baik,” tegas Agus Sugianto, Rabu (13/8/2025). Lebih lanjut, Kepala SDN Panaongan 3 ini menjelaskan, bahwa pendataan ini menjadi salah satu langkah untuk memberikan peluang kepada tenaga honorer agar bisa diangkat sebagai PPPK paruh waktu. Validasi ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam memastikan data tenaga...

KKKS Pasongsongan Bersama BKPSDM Sumenep Gelar Validasi Data Non ASN Pelamar PPPK Tahap II

Gambar
Imanur Maulid Efendi. [Foto: sh] SUMENEP – Besok, Kamis (14/8/2025), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Pasongsongan bersama Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Sumenep, dijadwalkan melakukan validasi data non ASN pelamar Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap II formasi tahun 2024.  Kegiatan tersebut akan dipusatkan di SDN Pasongsongan 1, Kecamatan Pasongsongan. Validasi ini merupakan tindak lanjut dari surat BKPSDM Sumenep Nomor 800.1.2.2/947/2025 yang mengatur pelaksanaan seleksi dan penempatan tenaga PPPK sesuai kebutuhan formasi di masing-masing wilayah. Imanur Maulid Efendi, salah seorang tenaga honorer asal Kecamatan Pasongsongan yang kini telah menjadi PPPK di Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang dinilainya sangat memperhatikan nasib tenaga honorer. “Semoga semua rekan-rekan saya yang dulu sama-sama berjuang bisa tercover...

KKKS Pasongsongan Gelar Validasi Data Non ASN Pelamar PPPK Tahap II

Gambar
Agus Sugianto,S.Pd (kanan). [Foto: sh] SUMENEP— Besok, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Pasongsongan dijadwalkan melaksanakan validasi data tenaga non ASN yang mendaftar seleksi PPPK tahap II formasi tahun 2024.  Kegiatan ini akan berlangsung di SDN Pasongsongan 1, Kecamatan Pasongsongan. “Validasi data ini menindaklanjuti surat BKPSDM Sumenep nomor 800.1.2.2/947/204.4/2025,” jelas Agus Sugianto, sekretaris KKKS Kecamatan Pasongsongan, Rabu (13/8/2025). Agus menyebut, kegiatan ini menjadi kabar baik bagi para tenaga honorer di wilayah Pasongsongan, karena menjadi langkah awal dalam proses PPPK paruh waktu.  “Kami berharap semua peserta mempersiapkan dokumen dengan lengkap agar proses berjalan lancar,” pungkasnya. [sh]

Guru PPPK PAI Hadir, Masalah Baru Muncul

Gambar
Kehadiran guru PPPK Pendidikan Agama Islam (PAI) di sejumlah SD Negeri ternyata membawa persoalan baru yang tak pernah dipikirkan implikasinya.  Di beberapa sekolah, sebelumnya sudah ada lebih dari satu guru PAI honorer yang bertahun-tahun mengabdi.  Begitu guru PPPK PAI ditempatkan, guru honorer PAI tersebut terpaksa dialihkan jadi guru kelas. Akibatnya, guru honorer PAI kehilangan jam mengajar PAI sama sekali.  Lebih dari itu, mereka otomatis tak bisa mendaftar di akun SIAGA—pintu resmi untuk mengakses program dan kebijakan Kementerian Agama RI.  Tanpa jam mengajar PAI, peluang mengikuti program peningkatan kompetensi, insentif, atau bahkan sekadar terdata pun pupus. Situasi ini jelas memukul semangat para guru honorer yang sudah lama berjuang di lapangan.  Mereka bukan hanya kehilangan kesempatan, tapi juga kehilangan pengakuan.  Seharusnya pemangku kebijakan tidak hanya fokus menempatkan guru PPPK, tapi juga memikirkan nasib guru honorer yang terdampak ...

Guru PPPK PAI: Hadir Membawa Berkah atau Luka?

Gambar
Kata orang, kehadiran guru PPPK PAI di SD Negeri adalah wujud perhatian pemerintah terhadap pendidikan agama.  Tapi, mari kita jujur, apakah semua guru di lapangan merasakannya sebagai berkah? Di sejumlah sekolah, guru PAI honorer yang telah setia mengabdi berpuluh tahun, kini harus pindah haluan jadi guru kelas.  Alasannya sederhana; kursi mengajar PAI sudah penuh.  Tanpa jam mengajar PAI, mereka otomatis “terlempar” dari akun SIAGA Kemenag.  Dan tanpa akun SIAGA, selamat tinggal sertifikasi, selamat tinggal tunjangan, selamat tinggal peluang. Lucunya, kita sering dengar kata “pemerataan” dalam pidato-pidato indah.  Tapi, mengapa pemerataan ini terasa seperti meratakan nasib guru honorer ke arah bawah?  Pemerintah tentu punya niat baik.  Hanya saja, niat baik tanpa perhitungan matang bisa seperti menabur benih di tanah yang sudah penuh.  Mungkin sudah saatnya kebijakan penempatan guru PPPK mempertimbangkan sejarah pengabdian guru yang lebih dulu ...

Kehadiran Guru PPPK PAI di SD Negeri: Harapan atau Masalah Baru?

Gambar
Kehadiran guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Pendidikan Agama Islam (PAI) di SD Negeri seharusnya jadi kabar baik.  Tapi, di lapangan justru memunculkan persoalan baru.  Bagaimana tidak, di sejumlah sekolah sebelumnya sudah ada lebih dari satu guru PAI honorer yang setia mengabdi bertahun-tahun. Kedatangan guru PPPK PAI membuat sebagian guru honorer harus beralih tugas jadi guru kelas.  Konsekuensinya, mereka kehilangan jam mengajar PAI sehingga tidak bisa mendaftar di akun SIAGA milik Kementerian Agama RI.  Padahal, tanpa akun tersebut, pupuslah peluang mereka untuk mendapatkan berbagai program dan kebijakan pemerintah, mulai dari sertifikasi hingga tunjangan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan pengangkatan PPPK tanpa perencanaan distribusi yang matang bisa menimbulkan efek samping serius.  Guru honorer yang telah berjuang lama justru terpinggirkan.  Harus ada solusi yang adil, misalnya pembagian jam mengajar yang proporsional ata...

Guru Honorer, Ijazah PAI, dan Jalan Buntu di SIAGA

Gambar
Ironis rasanya, ketika seorang guru honorer yang telah mendedikasikan diri lebih 20 tahun sebagai guru kelas di sebuah SD Negeri justru terjebak dalam kebijakan yang tidak berpihak.  Ijazahnya S1 Pendidikan Agama Islam (PAI), tapi karena mengajar sebagai guru kelas, ia tidak memiliki jam mengajar PAI minimal 6 jam per minggu.  Akibatnya, ia tidak bisa mendaftar di akun SIAGA - sistem yang menjadi gerbang segala peluang bagi guru agama. Masalahnya, ketika namanya tak tercatat di SIAGA, semua kesempatan untuk mendapatkan pelatihan, tunjangan, atau jalur sertifikasi otomatis tertutup.  Padahal, kompetensi dan pengabdian tidak semestinya diukur hanya dari kotak-kotak administrasi. Kondisi ini menjadi potret nyata betapa kebijakan pendidikan seringkali kaku dan tidak melihat realitas di lapangan.  Guru honorer seperti ini terjebak di ruang abu-abu: mengajar penuh hati, nmun tidak diakui secara sistem.  Kalau dibiarkan, bukan hanya semangat guru yang padam, tapi juga ...

Tayub Madura, Penambah Semarak dalam Pesta Pernikahan Desa

Gambar
Hairus Samad (foto atas kiri). (Foto: sh)  SUMENEP - Di sejumlah pelosok desa wilayah Kota Keris Sumenep, seni tayub Madura masih jadi pelengkap utama dalam hajatan pernikahan.  Bagi masyarakat desa, tayub bukan sekadar hiburan, melainkan simbol semaraknya sebuah pesta dan wujud kebersamaan warga. Menurut Hairus Samad, S.Sos., tokoh masyarakat Sempong Barat, Desa/Kecamatan Pasongsongan, kehadiran tayub memberi warna tersendiri bagi acara pernikahan. "Bagi sebagian besar masyarakat di pelosok desa, acara hajatan pernikahan yang tidak ada pagelaran seni tayubnya, kurang semarak," ujar Hairus, yang dikenal peduli pada pelestarian budaya Madura. Sebagai tokoh muda Pasongsongan, Hairus melihat tayub bukan hanya tradisi seni, tapi juga perekat sosial.  Musik yang mengalun, gerakan tari yang anggun, dan interaksi penari dengan para tamu menjadi ruang silaturahmi yang mempererat ikatan antarwarga. Di tengah derasnya arus modernisasi, seni tayub menghadapi tantangan.  Tapi b...

Tayub Madura, Jiwa yang Menghidupkan Pesta Pernikahan Desa

Gambar
Sunayan, pakar Macopat Madura. [Foto: sh] SUMENEP - Di pelosok-pelosok desa wilayah Kota Keris Sumenep, seni tayub Madura masih menjadi magnet budaya yang sulit tergantikan.  Dalam banyak hajatan, terutama pernikahan, kehadiran tayub bukan sekadar hiburan; ia adalah simbol kebersamaan, kegembiraan, dan penghormatan bagi para tamu. Menurut Sunayan, tokoh masyarakat Sempong Barat, Kecamatan Pasongsongan, pagelaran tayub ibarat nyawa dalam pesta pernikahan. Senin (11/8/2025)  "Bagi sebagian besar masyarakat di pelosok desa, acara hajat pernikahan yang tidak ada pagelaran seni tayubnya, ibarat nasi tanpa sayur," ujarnya.  Sunayan, yang juga pakar Macopat Madura dan tergabung dalam perkumpulan Macopat Lesbumi Pasongsongan, memahami betul makna tayub dalam struktur sosial budaya Madura. Sayangnya, di tengah arus modernisasi, tayub kerap disalahpahami atau bahkan dihindari.  Padahal, jika dilihat dari kacamata budaya, tayub adalah wujud ekspresi seni rakyat yang memadukan m...

CERPEN: Bila Hujan tak Mau Turun

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur duduk di teras rumah Tona, menatap perempuan itu. Dalam.  Ada raut letih di wajahnya, tapi juga keteguhan yang sulit digoyahkan. Sejak perceraian itu, Tona memilih hidup sendiri.  Mantan suaminya telah meninggalkan luka di hatinya.  Pukulan demi pukulan, makian demi makian, telah memberangus kepercayaan Tona pada kata cinta. "Aku cuma nggak mau mengulang hidup di neraka yang sama," ujar Tona pelan ketika Debur mencoba membicarakan pernikahan. Debur mengangguk, walau hatinya sesak. Ia paham rasa takut itu, tapi juga prihatin melihat Tona menutup rapat pintu hatinya.  "Kalau aku carikan calon yang baik, yang bisa jaga kamu, mau?" tanyanya hati-hati. Tona menggeleng tanpa menoleh. Debur terdiam sejenak, lalu memberanikan diri. "Bagaimana kalau aku?" Perempuan itu tak menatapnya, tak juga menjawab. Hanya angin sore yang menyapu hening di antara mereka. Debur tersenyum pahit. Kadang, luka masa lalu terlalu dalam untuk dijangkau oleh t...

CERPEN: Aku Memilihmu jadi Imamku

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur awalnya hanya iseng membuka aplikasi media sosial di malam yang lengang.  Ia menemukan profil seorang wanita bernama Tona.  Foto profilnya menampilkan wajah yang tampak lebih tua dari usianya, dengan senyum seadanya.  Dalam percakapan, Tona mengaku berusia 36 tahun, janda dua anak.  Entah mengapa, meski fotonya biasa saja, Debur merasa nyaman ngobrol dengannya. Hari-hari berlalu, obrolan mereka makin intens.  Mereka saling curhat, bercanda, bahkan saling mengirim voice note.  Hingga suatu malam, Tona mengajak jumpa darat. Di kafe kecil pinggir kota, Debur menunggu dengan sedikit gugup. Lalu seorang wanita muda berkulit cerah, berambut panjang, dan bermata teduh melangkah masuk.  Debur tertegun—itu Tona. Cantik, segar, dan jelas jauh lebih muda dari pengakuannya. "Ini… kamu?" tanya Debur setengah tak percaya. Tona tersenyum, duduk di hadapannya.  "Foto dan usia di profil itu hanya untuk menguji. Aku ingin tahu siapa yang ...

CERPEN: Debur dan Bayang-Bayang Korupsi

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur cukup muak tiap kali menonton berita tentang para koruptor di Indonesia.  Hukuman mereka seringkali ringan, bahkan beberapa tetap bisa hidup mewah di balik jeruji.  Ironisnya, ayahnya sendiri adalah salah satu dari mereka, seorang koruptor yang kini mendekam di penjara karena kasus suap. Ayah Debur dulu menyuap pejabat negara agar dimudahkan mendapatkan proyek.  Katanya, kalau tidak menyuap, ia pasti kalah bersaing dengan pihak lain yang juga main uang.  Bagi ayahnya, suap hanyalah “biaya masuk” dunia bisnis. Debur tidak pernah membela perbuatan ayahnya, meski ia paham alasan di baliknya.  Ia justru melihat bahwa alasan semacam itu adalah akar busuk yang membuat negeri ini sulit berubah.  “Kalau semua orang berpikir begitu, kapan negara ini bisa bersih?” batin Debur. Kini, tiap mendengar janji pemerintah soal pemberantasan korupsi, Debur tersenyum miris.  Bagi dia, korupsi bukan sekadar kejahatan, tapi juga warisan mental yan...

CERPEN: Sujud Debur tanpa Batas

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur tumbuh jadi lelaki perkasa, meski masa lalunya tak pernah luput dari bisik-bisik hinaan.  Ia adalah anak pelacur.  Tapi Debur tidak menundukkan kepala karena malu.  Ia justru menengadahkan hati kepada Tuhan. Ia yakin, Tuhan Maha Pengampun.  Tiap malam, Debur sujud lama di atas sajadah, merintih dalam doa.  Ia memohon ampun bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk ibunya.  Debur tidak pernah membenci ibunya.  Justru, ia menyimpan rasa sayang yang dalam, meski tak diungkapkan dengan kata-kata.  Dalam tiap tetes air matanya, terselip doa agar ibunya selamat di akhirat kelak. Baginya, masa lalu hanyalah ujian. Dan sujud yang panjang adalah jalan pulangnya. []

CERPEN: Cinta di Ujung Senja

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Bagi Debur, usia bukanlah penghalang untuk menemukan cinta.  Menjelang kepala lima, ia masih perjaka.  Hidupnya dihabiskan untuk bekerja keras, membangun usaha kecil di kota.  Ia tak pernah berpikir akan menikah, hingga Tona hadir. Tona, janda beranak dua, membawa warna baru dalam hidupnya. Senyumnya mencaikan kesepian yang telah lama membeku di hati Debur.  Banyak tetangga mencibir, menuduh Debur buta mata. Tapi Debur hanya tersenyum.  Baginya, kebahagiaan tak perlu persetujuan siapa pun. Selesai akad nikah, Debur merasa seperti lelaki paling beruntung di dunia.  Bukan karena Tona sempurna, tapi karena Tona menerima dirinya. Bagi Debur, cinta bukan soal usia atau masa lalu, melainkan keberanian untuk memilih satu hati dan menjaganya. []

Cerpen: Nasi Sudah Jadi Bubur

Gambar
By: Suriyanto Hasyim Debur pulang dari Jakarta dengan hati penuh rindu.  Seminggu terakhir, ia bekerja keras menjaga toko kelontong yang sedang berkembang.  Wajah Tona dan tawa dua buah hati mereka selalu membayang di kepalanya.  Ia membayangkan pelukan hangat keluarga saat pintu rumah dibuka. Tapi, yang menyambutnya hanyalah sunyi.  Pintu terkunci, tirai rumah tergerai kusam.  Debur mengintip ke dalam, kosong. Tak ada suara, tak ada jejak. Dari bisik tetangga, ia mendengar kabar pahit: Tona telah pergi.  Ia tergoda oleh seorang lelaki berharta, yang bahkan sudah memiliki istri.  Lelaki itu membawanya pergi jauh, meninggalkan segala yang pernah mereka bangun bersama. Yang lebih menusuk hati, kedua anaknya ikut dibawa kabur Tona.  Amarah Debur sempat mendidih, mengguncang dadanya.  Tapi ia hanya bisa terdiam, menatap langit sore yang meredup.  Semua sudah terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Bagi Debur, tak mungkin lagi merangkai cinta yang te...

Kenapa Hukuman Mati untuk Koruptor di Indonesia tidak Bisa Dibuat?

Gambar
Di negeri ini, hukuman mati bagi koruptor seolah cuma bahan obrolan di warung kopi.  Dibicarakan dengan penuh semangat, tapi begitu masuk meja parlemen atau ruang sidang, langsung mengecil seperti lilin kehabisan oksigen. Padahal, orang awam pun tahu: koruptor adalah biang kemiskinan.  Mereka mencuri uang yang seharusnya membangun jalan, sekolah, rumah sakit, dan lapangan kerja.  Akibatnya, rakyat harus hidup dengan gaji pas-pasan, harga melambung, dan layanan publik setengah hati. Sayangnya, rakyat Indonesia sudah terlalu sering di-PHP (Pemberi Harapan Palsu). — dijanjikan pemberantasan korupsi, tapi yang muncul hanya drama tangkap-menangkap.  Para koruptor bisa tersenyum di penjara, bahkan kadang keluar dengan remisi bak pahlawan. Kalau negara memang serius, kenapa tidak berani menegakkan hukuman mati bagi para perampok uang rakyat?  Atau mungkin, yang duduk di kursi kekuasaan takut karena mereka sendiri atau koleganya bisa masuk daftar eksekusi? Rakyat sudah ...

Hukuman Mati: Harapan yang Selalu Mandek di Indonesia

Gambar
Di Indonesia, hukuman mati ibarat tong kosong nyaring bunyinya —menggelegar dalam wacana, tapi tak berisi kenyataan.  Kendati presiden Prabowo pernah bilang akan menegakkan hukuman mati bagi para koruptor, namun penerapannya kerap tersendat oleh tarik-menarik kepentingan politik, hukum, dan moral. Ironisnya, masyarakat awam sudah paham betul bahwa korupsi adalah akar dari banyak penderitaan—mulai dari infrastruktur terbengkalai, layanan publik setengah hati, hingga kemiskinan yang diwariskan lintas generasi.  Koruptor bukan sekadar pencuri uang negara, mereka adalah perampas hak hidup layak jutaan rakyat. Tapi, ketika berbicara soal hukuman mati bagi koruptor, kita terjebak dalam retorika tanpa aksi.  Ada yang berdalih soal hak asasi, ada pula yang sibuk menimbang “kepastian hukum” yang entah kapan datang.  Akibatnya, korupsi tetap tumbuh subur, sementara rakyat hanya bisa menggigit bibir menatap ketidakadilan yang terus berulang. Kalau negara tak berani menegakkan h...

Ijazah Jokowi, Misteri Negara Rasa Dagelan

Gambar
Kasus ijazah mantan Presiden Joko Widodo ini sudah kayak drama Korea tanpa ending—bedanya, nggak ada adegan romantis, yang ada cuma rakyat kebingungan.  Dari dulu ribut, ribut, ribut… tapi ijazah aslinya tidak nongol juga. Lucunya, Pak Jokowi ini kayak pemain sinetron yang tahu bikin semua orang penasaran, tapi justru diam saja sambil senyum.  Ya, mungkin strateginya begini: “Kalau rakyat bingung soal ijazah, mereka nggak sempat ngomongin harga beras.” Cerdas? Mungkin. Licin? Jelas. Padahal, kalau mau, tinggal buka map, tunjukin ijazah, selesai.  Tapi tidak.  Misteri ini dibiarkan menggantung, bikin masyarakat debat sampai urat leher keluar, sementara elite politik duduk manis sambil makan popcorn. Kalau terus begini, jangan heran jika nanti kasus ijazah ini diwariskan ke cucu kita sebagai “warisan budaya tak benda”—karena bendanya sendiri nggak pernah kelihatan. [sh]

Ijazah Jokowi, Misteri yang Lebih Seru dari Sinetron

Gambar
Kasus ijazah mantan Presiden RI, Joko Widodo, ini rasanya sudah kayak sinetron Ramadhan yang tayang tiap tahun: Plotnya itu-itu saja, tapi penontonnya tetap heboh.  Bedanya, kali ini tokohnya nggak kunjung kasih “bukti asli” yang dinanti-nanti. Yang bikin geleng-geleng kepala, Jokowi masih belum mau menunjukkan ijazahnya ke publik.  Padahal kalau cuma buka map ijazah, foto, lalu upload ke Instagram, selesai urusannya. Hehehe...  Tapi entah kenapa, ini malah kayak nonton magician yang mau menunjukkan trik sulap… tapi triknya tak pernah kelar. Jadinya orang bertanya-tanya: Ini sengaja biar semua penasaran, atau cuma cara kreatif buat bikin rakyat lupa sama isu-isu lain?  Kalau benar begitu, ya selamat—triknya sukses, bung!  Tapi jujur, kalau terus begini, kasus ini bisa masuk rekor MURI sebagai “Misteri Nasional yang tak Pernah Tamat”.  Jadi, Pak Jokowi, ayolah kita akhiri sinetron ini sebelum ratingnya turun gara-gara penonton bosan. [sh]

Polemik Ijazah Jokowi, Misteri yang Tak Kunjung Usai

Gambar
Kasus dugaan ijazah mantan Presiden RI, Joko Widodo, kembali mencuat dan menimbulkan kegaduhan di ruang publik.  Kisruh ini seolah tak pernah usai, memantik pro-kontra tajam di tengah masyarakat. Yang membuat publik heran, Jokowi hingga kini belum mau menunjukkan ijazahnya.  Padahal, langkah sederhana itu bisa jadi cara paling mudah untuk menghentikan spekulasi.  Sikap diam ini justru memunculkan berbagai pertanyaan: Apakah ini strategi untuk membuat orang terus penasaran?  Atau malah sebagai upaya mengalihkan perhatian dari isu-isu lain yang lebih penting? Apapun alasannya, kasus ini menunjukkan betapa lemahnya transparansi pejabat publik di negeri ini.  Mengulur jawaban hanya akan memperpanjang kegaduhan dan membuat rasa percaya masyarakat semakin terkikis. [sh]

Kades Pasongsongan Ucapkan Terima Kasih atas Dukungan untuk Musik Tongtong “Angin Ribut” di Yogyakarta

Gambar
MS Arifin (mengenakan pakaian adat Madura) bersama grup musik tongtong Angin Ribut. [Foto: sh] SUMENEP – Kepala Desa Pasongsongan, Ahmad Saleh Harianto, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberangkatan dan penampilan grup musik tongtong Angin Ribut dalam ajang Festival Indonesian Street Performance: Nusantara Menari di Yogyakarta. “Ucapan terima kasih tak terhingga kepada Kepala Disbudporapar Sumenep dan Bapak MS Arifin (Owner Ramuan Banyu Urip) yang telah ikut mensupport Angin Ribut selama berada di Yogyakarta,” ucap Harianto ketika ditemui di Kantor Desa Pasongsongan. Jumat (8/8/2025).  Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada para pengurus, anggota, serta seluruh masyarakat Pasongsongan yang telah berperan aktif dan memberi dukungan penuh, khususnya kepada para pemain musik tongtong yang telah membawa nama baik desa. Angin Ribut, grup musik tongtong asal Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, berhasil memukau penonton saat tampi...