Catatan: Yant Kaiy Adakalanya kita harus mengalah, namun bukan kita surut ke belakang dalam membela harga diri itu, walau kita melawan...
Catatan: Yant Kaiy Sekali lagi, sepuas dahaga saya menghaturkan syukur ke hadirat-Nya dalam melapangkan dada ini biar semuanya berlalu s...
  Catatan: Yant Kaiy Ketika akan mengantologikan puisi-puisi yang pernah saya baca pada setiap kesempatan, baik di panggung terbuka atau...
In Memoriam Yuli (IX) Puisi: Yant Kaiy   bukankah kau sudah tahu, saat ini aku telah berdua walau tak secantik parasmu walau tak...
  In Memoriam Yuli (VIII) Puisi: Yant Kaiy   Yuli, engkau dapat melukiskan sendiri tentang tersiksanya aku kala itu sungguh, tak a...
In Memoriam Yuli (VII) Puisi: Yant Kaiy   masih terngiang di daun telinga ketika sumpah-serapahmu keterlaluan terhadapku masih ter...
  In Memoriam Yuli (VI) Puisi: Yant Kaiy   sisa penyesalan yang telanjang-bulat sontak meraibkan ibaku menjadi kebencian meremukka...
In Memoriam Yuli (V) Puisi: Yant Kaiy   detik ini kuibaratkan kau adalah makanan lezat kumakan, kau.... masuk dalam perutku te...
  In Memoriam Yuli (IV) Puisi: Yant Kaiy   aku seketika tersentak jantungku seolah mau copot saat kumelihat Yuli bermesraan dengan...
  In Memoriam Yuli (III) Puisi: Yant Kaiy   akhirnya kau jatuh ke pangkuanku setelah diriku melewati jalan berliku penuh onak dan ...
  In Memoriam Yuli (II) Puisi: Yant Kaiy   tiap kali kuberjumpa dengannya selalu saja Yuli berpenampilan genit sulit juga ternyata...