Globalisasi Film Horor Amerika



Artikel Film: Yant Kaiy

Film-film horor senantiasa menjadi box office. The Lost Boys, misalnya, selama masa putar 6 minggu di gedung bioskop dapat meraup keuntungan sebesar Rp 500 juta. Film Alien, film yang berkisah tentang monsters, selama masa putar 50 hari di gedung bioskop mengeruk uang kurang lebih sebesar Rp 1 miliar. Itu semua merupakan hal yang sangat mencolok apabila dibandingkan dengan film jenis lain yang rata-rata tiap minggunya hanya menghasilkan Rp 65 juta.

Tidak hanya di gedung bioskop, di pusat palwa video pun film-film horor selalu banyak peminatnya. Di salah satu palwa dilaporkan, bahwa film-film horor menduduki puncak penyewaan video, mengalahkan film-film jenis lain, seperti film action.

Menurut sejarahnya, perintis pembuat film yang menegakkan bulu roma itu, diawali dengan film yang dibuat berdasarkan cerita Frankenstein yang dibuat di Amerika, tahun 1910. Tetapi menurut Steven C. Earli dalam bukunya An Introduction to America Movies, film horor baru bangkit sekitar 1920-an itu pun di Jerman.

Hal yang menarik yang perlu dicatat dalam sejarah film-film horor produksi Amerika, umumnya banyak yang memuat sindiran-sindiran sosial. Misalnya, Dawn of The Dead (1979), film horor tersebut banyak menyindir konsumerisme yang merajalela di Amerika; The Crzies (1973), isinya merefleksikan pengalaman para tentara Amerika yang maju ke medan perang melawan Vietnam.

Sebenarnya film-film horor di Barat telah mengalami metamorfose. Pada 1930-an, film horor klasik yang banyak menggambarkan roh-roh dan drakula yang bangkit dari kuburnya lalu bergentayangan. Dekade 1940-an, pada tahun ini film-film horor banyak yang menayangkan zombie dan setan kuburan.

Dan, kejenuhan para penonton telah membuat para sutradara untuk mengubah film horor bentuk itu. Maka, kalangan sutradara membuat bentuk lain, yaitu karakter komik, seperti monster. Nah, dengan bentuk film horor semacam itu banyak peminatnya. Hal itu terlihat dengan berhasilnya film horor Abbot and Castello Meet Frankenstein.

Seputar 1950-an, film film horor telah banyak mengalami perkembangan menggembirakan. Misalnya The Thing, yang menggambarkan makhluk gundul kesukaannya meminum darah manusia. Juga pada tahun ini dibuat juga film The Attack of the Giant Leeches, film horor ini banyak yang menyukainya. Night of The Living Dead, dalam produksi film ini banyak para penonton tertegun apabila menyaksikan film ini. Film horor tersebut berisikan, zombie yang memakan perut manusia.

Di 1960-an, film-film horor membuka ulah manusia yang sakit. Seperti dalam Psycho, menggambarkan seorang pemilik motel yang memiliki identitas lain sebagai pembunuh ibu kandungnya.

Pada 1970-an, para penonton diizinkan untuk melihat dunia klenik. Pada dekade ini, fungsi special effect sangat dominan, apalagi film horor dalam supernatural, seperti dalam Exorcist. Terlihat juga peran special effect yang kian canggih, sehingga membuat film horor semakin mencekam serta menarik untuk dinikmati.

Pada dekade 1990-an, banyak pekerja film horor yang berasal dari cerita komik, seperti Beetlejuice, Fright Night, The Witches, dan Gremlin. Di Hollywood, Julia Robert dan Keifer S bermain dalam Flatliners (lima mahasiswa kedokteran yang untuk sementara ingin mencoba kehidupan di akhirat); The Tales From The Dark Side; Arachnophobia (laba-laba yang menyerbu sebuah kota)

Lalu timbul pertanyaan, jenis-jenis film horor bagaimanakah yang akan hadir pada dekade selanjutnya.[]

 

Diolah dari berbagai sumber

Publish: Koran Berita Yudha (22/12/1991) 

LihatTutupKomentar