Dua Wajah Paradoks: Perlindungan Dalam Negeri vs. Pengabaian Domestik
Dunia politik internasional seringkali menyuguhkan pemandangan yang ironis.
Di satu sisi, kita melihat negara yang secara eksternal bertindak agresif namun sangat protektif terhadap warganya sendiri.
Di sisi lain, ada negara yang tampak damai secara global, namun kebijakannya secara perlahan mencekik harapan hidup rakyatnya sendiri.
Perbandingan antara Israel dan Indonesia dalam hal "kepedulian terhadap warga" memunculkan refleksi pahit tentang tujuan sebenarnya dari sebuah kekuasaan.
Israel: Benteng Bagi Warganya, Neraka Bagi Tetangganya
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel menjalankan kebijakan yang sangat kejam dan destruktif terhadap rakyat Palestina.
Namun, jika kita melihat ke dalam "pagar" mereka sendiri, muncul realitas yang berbeda.
Pemerintah Israel menempatkan keselamatan dan kesejahteraan warganya sebagai prioritas absolut.
Dari sistem pertahanan Iron Dome yang melindungi setiap jengkal pemukiman, hingga sistem kesehatan dan jaminan sosial yang sangat komprehensif, Israel menunjukkan bahwa mereka "hadir" untuk rakyatnya.
Bagi warga Israel, negara adalah pelindung yang memastikan mereka memiliki standar hidup tinggi dan rasa aman, meski hal itu dibangun di atas penderitaan bangsa lain.
Ada kontrak sosial yang kuat di sana: negara meminta loyalitas, dan sebagai imbalannya, negara memberikan jaminan hidup yang maksimal.
Kendati begitu, tindakan kejam Israel tidak dibenarkan oleh hukum apapun.
Indonesia: Kebijakan Tanpa Wajah dan "Kematian" Harapan
Berbeda dengan Indonesia. Kita tidak sedang berperang dengan negara tetangga, namun banyak rakyat merasa sedang "berperang" melawan kebijakan pemerintahnya sendiri.
Kebijakan yang tidak populis—mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, pelemahan perlindungan tenaga kerja, hingga sistem pendidikan yang amburadul—menciptakan suasana dimana rakyat merasa ditinggalkan.
Kebijakan-kebijakan ini mungkin tidak membunuh secara instan dengan peluru, tapi ia membunuh secara perlahan melalui:
- Hilangnya Harapan Hidup: Sulitnya mencari kerja dan rendahnya upah membuat generasi muda kehilangan visi masa depan.
- Ketidakpastian Ekonomi: Kebijakan yang lebih memihak pada investasi besar dibanding kesejahteraan akar rumput.
- Beban Psikologis: Rakyat dipaksa mandiri secara ekstrem tanpa jaring pengaman sosial yang mumpuni dari negara.
Perbandingannya menjadi sangat kontras. Israel menunjukkan betapa sebuah negara bisa sangat "peduli" secara internal meski kejam secara eksternal.
Sementara di Indonesia, tanpa adanya musuh dari luar, kebijakan domestiknya justru seringkali terasa seperti serangan terhadap kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Negara seharusnya tidak hanya hadir untuk memungut pajak atau membuat regulasi, tapi untuk memastikan rakyatnya memiliki alasan untuk terus bermimpi.
Jika kebijakan terus menerus membuat rakyat sengsara, maka perlahan-lahan negara sedang menghancurkan aset terpentingnya: kepercayaan dan harapan rakyatnya sendiri.[kay]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.