Sejarah Kiai Tumenggung Onggojoyo (Ju’ King): Jejak Saudagar Cina di Pasongsongan Sumenep
Kehadirannya yang diperkirakan
mendarat di pelabuhan pesisir Pasongsongan pada abad ke-17 Masehi membawa
narasi menarik tentang seorang saudagar Tionghoa yang tidak hanya diterima,
tapi juga sangat dihormati masyarakat Madura.
Pemberian gelar ganda
"Kiai" (pemuka agama) dan "Tumenggung" (pejabat) pada
dirinya menyiratkan integritas yang luar biasa; ia berhasil meleburkan identitas
sebagai pendatang asing jadi tokoh sentral yang memadukan kepiawaian berdagang
dengan kearifan lokal.
Dari kacamata ekonomi, dominasi
perdagangan yang dibangun Ju’ King di Pasongsongan adalah sebuah fenomena
kepemimpinan yang visioner.
Fakta bahwa ia mampu mengendalikan
urat nadi niaga di kawasan tersebut hingga beberapa generasi, ini menunjukkan
bahwa ia tidak hanya membangun bisnis, tapi membangun sebuah sistem dan kepercayaan
yang kokoh.
Pasongsongan di bawah pengaruhnya
bertransformasi jadi gerbang ekonomi vital, dimana warisannya bukan sekadar
harta, melainkan etos kerja dan jaringan dagang yang terus hidup dalam memori
kolektif keturunannya hingga hari ini.
Tapi, validasi terbesar atas
ketokohan Ju’ King justru terletak pada peristirahatan terakhirnya di kompleks
pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.
Lokasi pemakaman sakral ini
memberikan legitimasi spiritual yang tak terbantahkan; bahwa Kiai Tumenggung
Onggojoyo bukan sekadar meraup keuntungan duniawi, melainkan sosok yang
memiliki kedekatan mendalam dengan para penyebar Islam di tanah Jawa.
Kisah Ju’ King mengajarkan kita
bahwa sejarah nusantara dibangun di atas anyaman kebersamaan yang indah, dimana
seorang saudagar Tionghoa bisa jadi "Kiai" dan jadi bagian tak
terpisahkan dari sejarah Islam dan ekonomi di bumi Madura. [sh]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.