Merdeka dari Kompeni, Menuju Penjajahan Mandiri



Sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa. Setelah melewati masa "magang" penderitaan di bawah ketiak bangsa asing selama ratusan tahun, kita akhirnya berhasil membuktikan satu hal: kita tidak butuh orang Belanda atau Jepang untuk membuat rakyat sendiri merasa terasing di tanah airnya.

Setelah 80 tahun menghirup udara yang katanya bernama "merdeka," kita harus memberikan apresiasi setinggi-langitnya kepada para penguasa yang telah berhasil memodernisasi konsep kolonialisme menjadi jauh lebih efisien dan dikemas dengan rapi dalam bungkus protokol negara.

Estetika "Dijajah Bangsa Sendiri"

Dahulu, VOC mengambil rempah-rempah kita dengan paksa. Betapa kuno dan kasar. Sekarang, para pemegang kebijakan melakukannya dengan jauh lebih elegan. Hutan digunduli bukan demi pembangunan, melainkan demi "investasi"—istilah keren untuk mengubah paru-paru dunia menjadi tumpukan angka di rekening pribadi.

Gunung dikeruk, tambang dikorupsi, dan laut dikuras habis. Semua ini dilakukan atas nama pertumbuhan ekonomi, meski yang tumbuh subur hanyalah perut-perut mereka yang duduk di kursi empati yang sudah lama berdebu.

Nasionalisme: Menu Spesial yang Mengenyangkan

Paling mengagumkan adalah saat para pejabat kita berbicara tentang nasionalisme. Sungguh mengharukan melihat seseorang yang baru saja menandatangani kenaikan pajak bagi rakyat kecil, berbicara dengan suara bergetar tentang "cinta tanah air" di depan podium mewah.

Mungkin definisi nasionalisme telah bergeser. Sekarang, mencintai tanah air berarti:

- Tanah untuk mereka bangun real estat mewah.

- Air untuk mereka kuasai sumber mata airnya.

- Rakyat untuk mereka peras melalui pajak yang semakin kreatif jenisnya.

"Jangan ajarkan kami cara mencintai negara ini jika nasionalisme Anda hanyalah hiasan bibir yang digunakan untuk menutup bau amis korupsi hasil bumi."

Kado 80 Tahun: Pajak Naik, Harapan Turun

Kita harus bangga. Di usia ke-80 ini, rakyat tidak lagi dikejar-kejar bayonet, melainkan dikejar-kejar tagihan dan aturan yang menjerat. Sementara pejabat sibuk memastikan piring mereka tetap penuh, rakyat diminta untuk "prihatin" dan "berkorban demi bangsa."

Selamat tinggal kolonialisme kuno, selamat datang di era "Penjajahan Organik." Di mana penindas dan yang ditindas memiliki warna paspor yang sama, menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, namun hidup di dua dunia yang berbeda: yang satu di istana, yang satu di antara sisa-sisa hutan yang sudah gundul.

Merdeka dari Kompeni, Menuju Penjajahan Mandiri


Komentar

Trending

Olimpiade Musim Dingin 2026 Ramai di Dunia, Indonesia Sibuk Bahas MBG

Soa-soal Bahasa Madura Kelas III

Jurnal Pembelajaran PPG Modul 2 Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai

Perbedaan Tanah di Bulan dan di Bumi

Antologi Puisi “Erosi Malam” (10)

Jurnal Pembelajaran Mendalam dan Asesmen 2.0 (Umum) dengan Topik Pendekatan Understanding by Design dalam Perencanaan Pembelajaran

Suara Mahasiswa, Teror Kritik Prabowo, dan Tragedi Anak NTT yang Terlupa

Soal-soal Bahasa Madura Kelas IV SD

Soal dan Kunci Jawaban Bahasa Madura PAS Kelas IV SD

Peringati Milad ke-31, Ponpes Annidhamiyah Pasean Gelar Doa Bersama dan Tahlil