Dari Penjaga Sekolah Jadi Pemateri: Kisah Inspiratif Bengkel Sholat di SDN Padangdangan 2 Sumenep
Ramadhan di SDN Padangdangan 2, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, selalu membawa cerita tersendiri bagi saya.
Tahun ini, sekolah memberikan kepercayaan yang luar biasa berat namun mulia: mengawal program "Bengkel Sholat".
Sebuah amanah yang membuat saya menanggalkan sejenak rutinitas harian sebagai penjaga sekolah untuk berdiri di depan anak-anak sebagai pemateri utama.
Akar Ilmu dari Masa Sekolah
Banyak yang mungkin bertanya, dari mana seorang penjaga sekolah memiliki keberanian dan kapasitas untuk membedah detail ibadah?
Jawabannya ada pada masa muda saya.
Dahulu, sembari menempuh pendidikan formal SMA Negeri 1 Ambunten, saya juga mengabdikan diri sebagai santri dan sempat mondok di salah satu Pondok Pesantren di Kecamatan Ambunten.
Masa-masa itulah yang membentuk pondasi spiritual saya. Menyelam sambil minum air, menimba ilmu umum sambil belajar agama.
Di pesantren, saya belajar bahwa agama bukan sekadar hafalan, melainkan praktik yang harus presisi.
Kedisiplinan kyai dan ustadz dalam mengoreksi bacaan serta gerakan sholat saya kala itu, kini coba saya wariskan kepada anak-anak di SDN Padangdangan 2.
Bagi saya, ilmu yang saya dapatkan di Ambunten adalah amanah yang harus terus mengalir, terlepas dari apa pun profesi yang saya jalani sekarang.
Melampaui Sekat Jabatan
Di dalam "Bengkel Sholat" ini, saya ingin menunjukkan bahwa pengabdian kepada pendidikan tidak selalu harus datang dari balik meja guru formal.
Menjadi penjaga sekolah adalah profesi saya untuk mencari nafkah, tapi membagikan ilmu sholat adalah panggilan hati sebagai seorang alumni pesantren.
Saya percaya bahwa setiap orang di lingkungan sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membentuk karakter siswa.
Saya tidak ingin sekat-sekat jabatan formal menghalangi transfer ilmu yang bermanfaat bagi akhirat anak-anak didik kita.
Meluruskan yang Bengkok, Memperbaiki yang Kurang
Dinamakan "Bengkel Sholat" karena fokus saya bukan sekadar ceramah teori.
Saya ingin menjadi "mekanik" yang membantu anak-anak memperbaiki gerakan yang mungkin selama ini kurang sempurna atau bacaan yang terburu-buru.
Dengan ketelatenan yang saya pelajari dari para guru di pesantren dulu, saya mencoba mengoreksi posisi sujud, meluruskan punggung saat ruku', hingga memastikan setiap makhraj huruf terdengar benar.
Saya ingin mereka mengerti bahwa sholat adalah komunikasi sakral yang harus dilakukan dengan penuh penghormatan dan akurasi.
Belajar Tentang Rasa Hormat
Satu hal yang paling menyentuh hati adalah melihat antusiasme para siswa.
Mereka tidak lagi melihat saya hanya sebagai "Pak Penjaga Sekolah", melainkan sebagai guru dan orang tua.
Ini adalah pelajaran berharga bahwa kehormatan seseorang tidak terletak pada seragam yang ia kenakan, melainkan pada manfaat apa yang bisa ia berikan bagi sesama.
Penutup
"Bengkel Sholat" di SDN Padangdangan 2 adalah bukti bahwa setiap sudut sekolah bisa jadi ruang belajar.
Saya bersyukur pihak sekolah memberi ruang bagi potensi internal tanpa melihat status sosial.
Semoga perbaikan-perbaikan kecil yang saya lakukan ini bisa menjadi amal jariyah dan pondasi ibadah yang kokoh bagi anak-anak didik kami. [kay]

