Tjoa dan Jejak Sunan Ampel: Narasi Tionghoa Muslim di Tanah Pasongsongan
![]() |
| Penulis (kiri) dan Ibnu Suaidi. |
Di balik pintu kayu jati berusia ratusan
tahun di Desa Pasongsongan, tersimpan rahasia sejarah
yang menepis segala sekat etnisitas.
Salah
satunya berada di kediaman Ibnu Suaidi, sosok lelaki yang membawa garis
keturunan marga "Tjoa".
Rumahnya
yang dibangun abad ke-18 di Jalan Ki Abubakar Sidik bukan sekadar bangunan tua,
melainkan monumen identitas yang unik: Tionghoa Muslim.
Garis
Keturunan yang Bertemu
Dalam
sebuah perbincangan dengan saya di kediamannya, Ibnu Suaidi mengungkap sebuah
fakta mengejutkan, tapi bagi warga Pasongsongan adalah kewajaran.
"Keluarga
besar saya masih ada ikatan keturunan dengan Sunan Ampel," tuturnya pada 1
September 2010 silam.
Pernyataan ini bukan sekadar klaim silsilah.
Ini adalah bukti bahwa di Pasongsongan, darah Tionghoa dan tradisi keislaman
Nusantara telah menyatu berabad-abad.
Akulturasi
yang Melampaui Ekonomi
Peranakan Tionghoa di Pasongsongan memberikan dimensi baru dalam
kebersamaan. Etnis Tionghoa disini adalah bagian integral dari
struktur religius dan sosial.
Mereka tidak hanya datang untuk berdagang, tapi
juga menetap, berasimilasi, dan jadi penjaga tradisi Islam.
Bangunan
rumah mereka memang berarsitektur pecinan, tapi di dalamnya, nilai-nilai
keislaman dan kearifan lokal Madura dijunjung tinggi.
Inilah
yang membuat komunitas pendatang di Pasongsongan tidak pernah merasa sebagai
"tamu".
Pesan
dari Masa Lalu
Kisah
Ibnu Suaidi dan marga Tjoa di Pasongsongan telah menyelesaikan soal perbedaan
identitas sejak abad ke-18.
Di
Pasongsongan, kita bisa belajar bahwa rumah kokoh bukan hanya dibangun dari campuran
semen, tapi rumah kebangsaan yang dibangun di fondasi kerukunan. [k4y]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.