Jejak Arsitektur Tionghoa dan Sejarah Ekonomi Desa Pasongsongan
![]() |
| Rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. |
Jika Anda menyusuri Jalan
Abubakar Sidik di Desa Pasongsongan, Sumenep, langkah Anda akan disambut oleh
deretan bangunan tua yang seolah menghentikan waktu.
Arsitektur rumah-rumah tempo dulu milik warga peranakan
Tionghoa ini bukan sekadar pemandangan estetik; mereka adalah saksi bisu dari
sebuah "Imperial Niaga" yang pernah bertahta di ujung barat utaraMadura.
Dulu, pelabuhan Pasongsongan
adalah urat nadi perdagangan yang sibuk. Di sinilah etnis Tionghoa membangun
supremasi ekonomi mereka.
Selama beberapa dekade, mereka merajai roda perniagaan
tanpa sekat, mengendalikan arus keluar-masuk barang, dan menciptakan era
kemakmuran yang sulit terbendung.
Bangunan-bangunan kokoh yang kita lihat hari ini adalah
sisa-sisa kejayaan yang pernah mereka capai melalui ketekunan di dunia
perdagangan.
Angin Perubahan Era 80-an
Tapi, sejarah memiliki cara sendiri untuk berputar.
Memasuki era 80-an, dominasi absolut tersebut mulai meredup.
Seiring perubahan zaman, kontrol ekonomi makro di
Pasongsongan mengalami transformasi.
Kekuatan ekonomi tidak lagi terpusat di satu kelompok,
melainkan mulai terdistribusi melalui sebuah balancing system—sistem keseimbangan antara kaum
imigran dan warga pribumi.
Menariknya, transisi ini
tidak menyisakan luka atau konflik. Di Pasongsongan, redupnya sinar keemasan
niaga etnis Tionghoa tidak berarti kekalahan.
Sebaliknya, itu adalah momen dimana kedua belah pihak
mulai bersinergi dengan lebih setara.
Mereka tidak lagi bersaing untuk saling menjatuhkan,
melainkan berkolaborasi membangun menara perekonomian desa yang lebih mantap.
Warisan yang Tetap Berdiri
Kini, walau kekuatan ekonomi telah berpindah tangan dan
menyebar, "ruh" dari masa kejayaan itu tetap melekat pada
dinding-dinding rumah tua di sepanjang jalan Desa Pasongsongan.
Nuansa arsitektur yang kontras dengan rumah penduduk asli
adalah pengingat bahwa kemajuan Pasongsongan hari ini adalah hasil dari
dialektika panjang antara etnis pendatang dan pribumi.
Pasongsongan membuktikan
bahwa kejayaan boleh berganti, tapi sinergi yang terbangun di atas rasa saling
menghargai akan tetap jadi fondasi paling kokoh bagi kemakmuran sebuah wilayah.
[k4y]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.