Pasongsongan: Simfoni Tiga Etnis di Pesisir Madura
![]() |
| Bentuk rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. |
Di ujung barat utara Sumenep, Desa Pasongsongan berdiri
sebagai bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan beban. Desa ini
bukan sekadar titik geografis, melainkan laboratorium sosial tempat etnis Arab,
Tionghoa, dan Pribumi (Madura) merajut harmoni tanpa gesekan selama
berabad-abad.
Kunci kedamaian Pasongsongan terletak pada akar budayanya
yang terbuka. Sebelum pengaruh besar Islam dan perdagangan masuk, masyarakatnya
telah lebih dulu dipengaruhi nilai-nilai Hindu dan Buddha.
Karakter "terbuka" inilah yang jadi modal utama
warga lokal dalam menyambut pendatang tanpa rasa curiga.
Religi dan Perniagaan
Kedua bangsa pendatang
memainkan peran strategis yang saling mengisi:
Etnis Arab: Hadir dengan
pendekatan santun dalam menyebarkan ajaran Islam hingga menyatu dalam
spiritualitas warga.
Peranakan Tionghoa: Jadi
penggerak utama nadi perekonomian melalui jaringan niaga dan pelabuhan.
Kedua etnis ini tidak
mendominasi, melainkan berkolaborasi dengan warga pribumi membentuk pola
sosial-budaya yang terus berevolusi secara damai.
Hingga kini, rekam jejak Pasongsongan bersih dari gesekan
horizontal. Bukti fisik kemakmuran dan toleransi ini masih berdiri kokoh di
sepanjang Jalan Kiai Abubakar Sidik melalui deretan bangunan tua berasitektur
Pecinan.
Meskipun peta kekuatan ekonomi bergeser di era 80-an,
transisi tersebut terjadi lewat balancing
system yang sehat tanpa ada pihak yang merasa dikalahkan.
Penutup
Pasongsongan mengajarkan
kita bahwa Indonesia yang majemuk bisa tetap kokoh jika setiap elemen bersedia
bersinergi.
Dari pesisir ini, kita belajar bahwa toleransi bukan
sekadar kata-kata, melainkan sebuah menara kemakmuran yang dibangun bersama di
atas pondasi saling menghargai. [k4y]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.