Petis Pancetan: Mahakarya Kuning dari Ujung Barat Utara Sumenep
![]() |
| Perahu tradisional Desa Pasongsongan. |
Di ujung
barat utara Kabupaten Sumenep, tepat di perbatasan Pamekasan, berdiri Desa
Pasongsongan yang masyhur dengan julukan Desa Petis Pancetan.
Lebih dari sekadar bumbu
dapur, petis bagi warga Pasongsongan adalah identitas, sejarah, dan nafas
kehidupan yang terangkum dalam satu rasa.
Petis
Pancetan lahir dari kesabaran. Ia bukan produk instan, melainkan hasil olahan
air rebusan ikan segar yang dimasak di atas perapian hingga mengental dan
pekat.
Proses penguapan yang lama
ini menciptakan tekstur kuning berkilau dengan cita rasa gurih yang
mendalam—sebuah ekstraksi kejujuran masyarakat pesisir dalam mengolah rezeki
laut.
Bagi
penduduk setempat, penganan ini adalah penyelamat meja makan. Di saat sulit, ia
hadir sebagai pengganti lauk utama.
Tapi di saat senggang, ia
menjadi kunci kelezatan rujak pedas yang dinikmati bersama. Di sinilah letak
magisnya: Petis Pancetan jadi ruang temu bagi masyarakat Pasongsongan yang
majemuk—baik pribumi, Arab, maupun Tionghoa—untuk duduk bersama dalam satu
harmoni rasa.
Di tengah serbuan penyedap
rasa modern, Petis Pancetan tetap berdiri kokoh sebagai simbol ketahanan
budaya. Ia membuktikan bahwa warisan leluhur yang diproses dengan ketulusan
tidak akan pernah lekang oleh zaman.
Menikmati Petis Pancetan
bukan sekadar mencicipi kuliner, melainkan meresapi filosofi kesabaran dan
kemandirian masyarakat Pasongsongan yang terus terjaga hingga kini.[k4y]

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.