Menakar Animo Masyarakat Tentang Bakal Calon Bupati Sumenep
Semarak komentar di beberapa
warung kopi di belahan pelosok desa di Kota Keris Sumenep mulai bermunculan dan
tak bisa dibendung lagi. Dukung-mendukung kandidat dari beberapa Bakal Calon (Balon)
Bupati Sumenep periode 2020-2024 juga menjadi isu yang kian menghangat. Tak
pelak di beberapa media sosial juga santer, karena tak ada isu yang skalanya
lebih besar di Januari ini setelah selesai pelantikan para Kepala Desa pada
Desember 2019 kemarin.
Beberapa responden yang sempat
saya temui tampak meniscaya dengan Balon idolanya. Kadang ada beberapa
perdebatan kecil sebagai manifestasi dukungan penuh. Sehingga lahirlah konsep
untuk saling mempengaruhi. Tanpa disadari mereka mulai terseret ke ranah
persaingan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai pendukung tak tergoyahkan.
Ada beberapa faktor mereka
menjadi pembela “buta”; diantaranya karena nasab Balon Bupati dari orang
terhormat dari sisi ketokohannya. Bisa jadi dia adalah guru agamanya. Wajar
sang pemilih mendukungnya karena ingin menunjukkan baktinya sebagai seorang
murid. Lalu kapan lagi akan membalas budi.
Faktor kedua yang tak sangat
kuat, adanya ikatan famili. Baik dengan dirinya atau keluarganya. Apalagi sang
pemilih sebelumnya telah banyak dibantu dalam banyak hal.
Faktor ketiga adanya pertemanan.
Dalam budaya kita, teman baik tak ubahnya seperti saudara kandung. Bisa jadi
lebih intim daripada saudara kandung.
Sedangkan pemilih (responden) di
posisi netral adalah mereka yang tidak memiliki jaringan dengan Balon Bupati
Sumenep. Mereka yang berada di posisi ini kadang mudah diombang-ambingkan
dengan situasi dan kondisi. Namun ada pula yang bersikap menutup diri. Ia
senantiasa menyibukkan dirinya dengan aktivitas. Baginya tidak terlalu urgen,
tapi ia merasa wajib untuk menentukan pilihannya.
Untuk pemilih abu-abu adalah
mereka yang hantam-kromo. Baginya siapa pun orang yang akan duduk di nomer satu
di Kota Keris Sumenep sama saja. Slogan dan propaganda dari Balon Bupati tidak
membuatnya kepincut. Tapi ketika ada bantuan sosial mereka berada di garis
depan.
Itulah warna-warni pemilih di
Kabupaten Sumenep. Barangkali di daerah lain realita ini juga berlaku.

