Ilmu Allah VS Teknologi Manusia Terkini
Opini:
Yant Kaiy
Suatu malam habis acara tahlilan di rumah teman, sengaja
saya dengan beberapa tetangga tidak langsung pulang. Biasa kalau di kampung,
para tetangga baik laki-laki dan perempuan kumpul-kumpul dulu di rumah yang
baru kehilangan anggota keluarganya. Tujuannya menghibur agar tidak terus
berkubang di lembah duka cita.
Diantara hadirin, ada salah
satu diantara mereka paling pintar daripada lainnya. Orang berbicara tentang
bisnis online, dia mampu menguasai jalannya pembicaraan. Yang lain berbicara
politik, ia bisa memberikan opini cerdas dari sekian banyak komentar. Pokoknya
dia bisa melahap habis topik pembicaraan apa saja.
Akhirnya yang lain kalah argumen dari dia. Hebat, decak hadirin. Dia gampang
menelikung semua buah pemikiran hadirin yang tak sejalan. Maka kami menjadi
makmum. Kami hanyut dalam irama bicaranya. Sikapnya yang meniscaya melumat
habis ide-ide kami.
Di riwayat hidupnya, dia
alumnus perguruan tinggi swasta terkemuka di Malang. Dia pemilik LSM (Lembaga
Swadaya Masyarakat) cukup disegani (sebut: ditakuti) oleh beberapa kalangan
karena kepintarannya. Pintar menakut-nakuti mereka yang “pelit” memberi angpau.
Nah, ketika berbicara gadget,
dia terpeleset. Ia mengatakan, kalau smartphone karya teknologi super hebat di
jagad raya ini. Siapa orang yang pegang hand-phone android, ia akan bisa
melakukan apa saja.
Dalam hati saya mengatakan,
kalau teknologi masa kini mampu berbuat apa saja, lantas kemana Tuhan selama
ini. Hidup manusia itu bergantung sama Tuhan, bukan sama teknologi.
Dalam Al-Qur’an Allah
berfirman dengan jelas sekali:
“Katakanlah (wahai Muhammad):
“Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku,
sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Rabbku habis (ditulis),
meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [al-Kahfi/18:109].
“Dan mereka bertanya kepadamu
tentang Ruh maka katakanlah, Ruh itu urusannya Tuhanku dan tidaklah kalian
diberi ilmu kecuali sedikit.” [al-Isra’/17:85].
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta),
ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan
habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana.” [Lukman/31:27]
Dari ayat-ayat Al-Qur’an di
atas bisa ditarik benang merah bahwa ilmu manusia tidak mampu berbuat apa-apa
ketika ruhnya dicabut. Bisakah teknologi hasil buatan manusia itu mengembalikan
ruh yang hilang dari jasadnya?.

