Menjaga Nadi Leluhur: Teladan Nyata Kepala SDN Panaongan 3 dalam Melestarikan Macopat Madura

Simak aksi nyata Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3, dalam menyelamatkan Macopat Madura dari kepunahan. Dari ruang kelas hingga panggung Jawa Timur
Agus Sugianto: Sosok Pendekar Budaya di Balik Pelestarian Macopat Madura
Agus Sugianto, Kepala SDN Panaongan 3. [Foto: Kay]

Malam Minggu di kediaman Bapak Marsuhan, di Desa Panaongan-Pasongsongan, mendadak terasa sakral. 

Alunan tembang Macopat yang sarat akan nilai filosofis menggema, menembus kesunyian malam di tengah gelaran yang diinisiasi Lesbumi MWC NU Pasongsongan. 

Di antara deretan tokoh yang hadir pada Sabtu malam, 4 April 2026 tersebut, sosok Agus Sugianto, S.Pd., Kepala SDN Panaongan 3, mencuri perhatian. 

Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pernyataan sikap atas keberpihakan pada jati diri budaya Madura.

Ada pesan tersirat amat kuat dari kehadiran seorang pendidik di acara kebudayaan seperti ini. 

Setidaknya, ada tiga alasan fundamental mengapa kehadiran sosok Agus Sugianto jadi sangat krusial dan patut diapresiasi.

1. Kedekatan Geografis, Membangun Sinergi

Secara praktis, lokasi pagelaran kali ini memang berada di sekitar lingkungan SDN Panaongan 3. 

Tapi, lebih dari sekadar jarak tempuh, kehadiran Agus Sugianto menunjukkan bahwa sekolah tidak boleh jadi "menara gading" yang terisolasi dari masyarakat. 

Dengan kehadiran sang Kepala Sekolah, tercipta hubungan harmonis antara institusi pendidikan formal dan kegiatan kultural masyarakat. 

Ini adalah bukti bahwa pendidikan karakter berbasis kearifan lokal dimulai dari kepedulian pimpinannya terhadap apa yang terjadi di sekeliling sekolah.

2. Komitmen Pendidikan: Dari Kurikulum ke Panggung Kompetisi

Alasan kedua terasa lebih mendalam. Di bawah kepemimpinan Agus Sugianto, SDN Panaongan 3 bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. 

Sekolah ini telah bertransformasi jadi benteng pertahanan seni tradisional dengan adanya pelatihan khusus Macopat Madura bagi para peserta didik.

Hasilnya pun tidak main-main. Komitmen ini telah membawa nama baik Kabupaten Sumenep ke tingkat provinsi. 

Berulangkali, delegasi dari SDN Panaongan 3 dipercaya mewakili Sumenep dalam lomba Macopat Madura di Jawa Timur yang berpusat di Surabaya. 

Tentu sebelumnya telah melewati seleksi ketat antar sekolah di tingkat Kabupaten Sumenep. 

Terbukti pula, Sulaiman adalah salah satu siswa SDN Panaongan 3 berhasil meraih juara di Jawa Timur. 

Dan, kehadiran Agus di pagelaran Lesbumi malam itu adalah bentuk dukungan moril bagi ekosistem seni yang juga ia bangun di sekolahnya. 

Ia ingin menunjukkan kepada siswa dan wali murid bahwa seni yang dipelajari di kelas memiliki tempat yang terhormat di tengah masyarakat.

3. Melawan Kepunahan dengan Kepedulian

Alasan yang paling menyentuh nurani adalah rasa prihatin Agus Sugianto terhadap kondisi Macopat Madura saat ini. 

Di tengah gempuran budaya populer dan digitalisasi, seni Macopat kini berada di ambang kepunahan. 

Banyak generasi muda mulai asing dengan cengkok dan sastra tinggi yang terkandung di dalamnya.

Agus Sugianto memahami bahwa jika para pendidik tidak lagi peduli, maka tamatlah riwayat warisan leluhur ini. 

Kehadirannya di kediaman Bapak Marsuhan adalah manifestasi dari kepeduliannya yang tinggi. 

Ia ingin memastikan bahwa api semangat Macopat tetap menyala, baik di ruang kelas maupun di lingkungan sosial.

Penutup

Langkah Agus Sugianto, S.Pd. memberikan kita sebuah pelajaran berharga: bahwa melestarikan budaya bukan hanya tugas seniman atau budayawan, melainkan tanggung jawab kolektif, terutama bagi mereka yang bergerak di dunia pendidikan.

Lewat kehadirannya, kita diingatkan bahwa untuk menjaga agar Macopat tetap hidup, kita butuh lebih dari sekadar rasa bangga; kita butuh aksi nyata, keberpihakan, dan ketulusan untuk terus "nembang" di tengah perubahan zaman. 

Apa yang dilakukan di SDN Panaongan 3 adalah teladan kecil dengan dampak besar bagi masa depan kebudayaan Madura. [kay]

LihatTutupKomentar