Catatan Nestapa Guru Sukwan
Pasangan suami-istri muda yang
sama-sama mengabdi pada negara lewat jalur pendidikan. Keduanya mengajar di
salah satu SD Negeri di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Mereka sudah
dikaruniai dua orang putri cantik. Yang sulung sudah kelas IV SD, dan adiknya
masih berusia kurang lebih dua tahun setengah.
Kalau berangkat mengajar bocah
kecilnya dititpkan pada neneknya. Rumah tangga muda ini kalau bangun tidur agak
pagi. Sehabis sholat subuh mereka sangat kompak mengerjakan tugasnya setiap
pagi. Sang istri memasak, mempersiapkan sarapan sambil menyapu halaman. Si
suami mencuci baju dan memberikan rumput pada sapinya. Setelah itu mereka
membangunkan kedua anaknya dan memandikannya. Kemudian mereka sarapan bersama.
Jam 06.30 WIB mereka berangkat
mengendarai sepeda motor. Pulang dari mengajar mereka berdua masih disibukkan
lagi dengan berbagai tugas rumah lainnya. Sang suami menyabit rumput untuk
pakan sapinya. Si istri mencuci piring sambil mempersiapkan putrinya sekolah
lagi ke Madrasah Diniyah.
Selepas sholat ashar lelaki tegap
itu menjajakan kerupuk yang dibungkus plastik ke beberapa toko dan warung. Alasannya
menjadi guru sukwan hanya cukup untuk beli bensin sepeda motornya saja. Maka
dengan pontang-panting sang suami mencari penghasilan tambahan. Kalau tidak
begitu dari mana mereka mendapatkan belanja dan jajan sekolah anaknya.
Saat adzan magrib suami muda ini
menjadi imam sholat bersama para santri kecil yang belajar mengaji hingga
selesai sholat isya. Tidak berhenti sampai di situ, karena pasangan ini harus
membungkus kerupuknya untuk dijajakan besok.
Begitulah catatan harian dari
pasangan guru sukwan. Seluruh waktunya habis dalam pengabdian yang tak
terbatas. Tapi Allah SWT. sangat sayang pada umat-Nya yang terus istiqomah,
tidak kendor berikhtiar. Barangkali dengan proses ikhtiar ikhlas inilah hidup
seseorang akan mendapatkan ketenteraman sejati. Kendati tidak bergelimang
harta, tapi tetap kaya hati.
Jujur saja, saat saya menulis
opini ini air mata saya menetes tak terbendung. Ada haru yang membuncah,
menyesakkan dada, menyeruak tanpa tedeng aling-aling ke dinding hati. Maaf,
bukan maksud saya untuk memprovokasi Anda. Semangat kerja yang tak kenal lelah
mereka membuat saya prihatin. Tapi saya tidak bisa peduli.
Bagi saya prihatin hanya sebatas
getaran (nuansa) hati semata. Sedangkan peduli adalah action untuk menolong dan
membantu mengangkis penderitaan yang menimpa terhadap makhluk ciptaan-Nya.
Tentu semampu kita.
Dan, ketika ada angin segar datang;
tentang pengambilan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) tahun 2019 diumumkan
lewat group WA sekolah mereka, pasangan muda ini membacanya dengan suasana hati
bahagia. Lewat HP androidnya mereka membaca sekali lagi. Opss… Ternyata usia
mereka sudah lebih 35 tahun. Mereka agak kecewa dengan realita itu. Tapi mereka
punya harapan bahwa Allah SWT. tidak pernah tidur, Dia akan senantiasa menolong
umat yang lemah lewat doa-doa yang dipanjatkan.
Entah sampai kapan pengabdian
mereka sebagai guru sukwan bisa menikmati buah perjuangannya. Mereka sudah
tujuh belas tahun menjadi pendidik dengan honor Rp 10.000,- per hari.
Ada beberapa teman suami-istri
ini yang juga kecewa berat karena pengambilan CPNS tahun ini tidak mengakomodir
guru sukwan saja, yang penting punya ijasah sarjana strata satu (S-1) sudah
bisa ikut tes asal usianya tidak lebih 35 tahun.
Pertanyaannya sekarang, apakah
Anda akan prihatin atau peduli dengan ini semua? Saya tidak butuh jawaban Anda
lewat lisan, tapi saya butuh komentar Anda lewat hati. Sebab mulut bisa
berkilah, tapi hati tidak. Selamat berkontemplasi sejenak!

