Sang Penyair
Aku tidak tahu siapa
namanya yang sebenarnya. Tetapi orang-orang di kampungku biasanya memanggil
dengan sebutan “Mbah Puisi”. Perawakannya tinggi dan kurus. Usianya sekitar
setengah abad, mungkin juga lebih. Rambutnya panjang lurus dan sudah penuh
uban. Kulitnya kuning. Lengannya ditumbuhi bulu-bulu halus. Hidungnya mancung
mirip orang Eropa. Satu keistimewaan yang tidak pernah absen untuk melakukannya
adalah membaca puisi.
Jika malam sudah larut,
yang terdengar cuma suara Mbah Puisi menyusuri jalan-jalan kampung kami. Di
sela-sela suara peronda serta lolongan anjing, dan itu sudah bukti bahwa Mbah
Puisi mulai beraksi melakukan kebiasaan rutinnya. Ia akan kelayapan di setiap
sudut kampung, bahkan sampai ke kampung tetangga. Buku lapuk yang termakan usia
selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Dalam kesunyian kampung seperti malam ini, suara khas Mbah
Puisi sayup-sayup terdengar. Sepertinya menghadang datangnya fajar atau
meninabobokan orang-orang yang pada mendengkur berkubang air liur setelah
seharian bekerja berat.
Apa kelakuan Mbah Puisi
itu ada yang menyuruhnya? Menurut keterangan yang kudapat dari banyak orang,
tak ada seorang pun yang memerintahkan
si Mbah untuk tugas semacam itu. Bahkan Pak Kades agaknya juga tidak
tahu-menahu dengan kebiasaan si Mbah itu. Maka wajar pula jika tidak satu orang
pun yang menghiraukan atas pekerjaan aneh lelaki tua itu.
Tak pernah digaji. Tak
pernah diperintah, tapi ia ibarat burung malam yang menyetubuhi sepi,
memamerkan suaranya yang khas. Masih menurut cerita orang yang umurnya sebaya
dengan usia Mbah Puisi. Laki-laki renta itu hidup menyendiri di sebuah rumah
mewah, sebelum di kampong ini banyak pendatang baru. Tapi itu dulu dan kini
tinggal cerita burung saja.
Ia tidak dan belum
pernah kawin, kata para tetanggaku kemarin. Kekayaannya akhirnya ludes lantaran
untuk menyumbang pembangunan sebuah mesjid atau panti asuhan. Tak jarang pula
ia kalau ada orang miskin dibantunya dengan ikhlas. Setelah itu ia hanya hidup
tanpa kawan di sebuah gubuk sederhana, berdinding bambu. Kekayaan utamanya
adalah buku, Koran dan majalah, ditambah sebuah mesin ketik tua yang sudah
karatan. Malah orang-orang kampung sekarang menganggap Mbah Puisi “orang
sinting”. Keterlaluan. Betapapun orang-orang kampung pada benci pada lelaki
tua-bangka itu, tapi bagiku memiliki catatan tersendiri. Perasaanku terdorong
untuk mengenalnya lebih dekat lagi untuk menyingkap orang aneh itu. Terlebih
aku punya bakat dalam menulis puisi, begitu sebagian teman-temanku bilang pada
sebuah kesempatan ketika aku mengikuti ajang pencarian bakat di salah salah
satu media massa di kota kecilku.
Begitulah. Ketika aku
pulang dari sekolah, di sudut rumah bambu kulihat sosok Mbah Puisi tengah asyik
mengetik. Aku mengintipnya. Di ruangan yang pengap. Ia mencemari ruangan itu
dengan asap nikotin. Aku penasaran. Aku masuk secara diam-diam. Pintu depan
yang hanya muat satu orang kuketuk. Seketika suara mesin ketik terhenti.
Konsentrasinya buyar demi melihat kedatanganku. Ia terjingkat. Mata itu menatap
dingin ke wajahku. Dari sinar matanya dapat kuterjemahkan, ada keresahan yang
menggelayut di garis-garis parasnya.
“Selamat siang, Mbah!”
kataku uluk salam.
Ia tidak menjawab. Aku
gusar, tapi cepat-cepat aku lempar senyuman tulus padanya.
“Agaknya Mbah sibuk
dengan mengetik? Eh, mengetik apa, Mbah?” ujarku tak peduli dengan sikap lelaki
di hadapanku.
“Puisi,” balasnya datar
dan serak.
“Eh… puisi? Untuk
siapa, Mbah?”
“Ya, untuk siapa saja
yang mau. Untuk dikirim ke media cetak.”
“O ya?” seruku tak
terkontrol.
“Ada apa anak muda?”
“Ingin berkenalan
dengan, Mbah. Bolehkah?”
Ia termangu sejenak.
Tapi lewat jemari tangannya dapat kutangkap isyarat kalau ia menyilakan aku
duduk. Aku menurut dan duduk di kursi yang beranyamkan rotan hampir jebol. Ia
sendiri masuk dan mengambil sesuatu.
Aku terkesima. Buku
lusuh bertumpuk-tumpuk agaknya antologi puisi yang ditulis dengan tangan. Ada
beberapa buku lain yang merupakan kliping sajak yang sudah dipublikasikan di
koran atau majalah. Sementara ia sedang
melanjutkan mengetik, dan aku asyik
mencermati kalimat-kalimat pendek indah karyanya. Puas, setelah membaca, aku
pun pamit pulang dan kali ini Mbah Puisi membalas dengan senyuman lebar.
Esoknya aku datang dan
selalu datang lagi. Kami semakin karib,
bahkan semakin saling membutuhkan. Tapi yang belum sempat kukorek, keberadaan
Mbah Puisi yang aneh suka melantunkan syair-syair tiap malam. Dan rupanya Mbah
Puisi tidak suka jika aksinya itu banyak orang yang mengetahuinya. Termasuk
aku. Aneh, benar-benar ajaib.
Pada suatu senja. Kami
terlibat percakapan yang agak bebas. Mbah Puisi rupanya mencanangkan
“keterbukaan” buat aku. Bahkan lebih familier.
“Kenapa kamu suka
mengunjungiku, Kacong?” tanyanya tanpa ekspresi.
“Saya ingin belajar
mengarang pada si Mbah,” jawabku jujur.
“Siapa yang menyuruhmu,
Kacong?”
“Tuhan, Mbah,” jawabku
lagi sekenanya. Mbah Puisi menikam manik-manik mataku lalu menhela napas.
Menghisap dalam-dalam asap kretek yang terus mengepul.
“Kamu akan menyesal
kalau belajar padaku, Cong.”
“Kenapa, Mbah?”
“Aku tidak bisa
memberikan apa-apa.”
“Saya hanya mau
belajar, Mbah. Tidak lebih.”
Mbah Puisi
terdiam. Hening beberapa lamanya,
sebelum suaranya keluar lagi dari
bibirnya yang terkatup rapat-rapat.
“Yah…kalau begitu,
baiklah, asalkan kamu sungguh-sungguh. Dengan demikian, ternyata masih ada seseorang
yang mau bersahabat dengan Mbah. Aku bangga. Aku bahagia,” katanya lirih. Aku
terkejut karena dari kedua sudut matanya bergayutan air bening. Air itu meleleh
lewat pipinya yang mulai mengendor. Pelan mirip anak sungai.
“Terima kasih, Mbah!
Terima kasih!” kupeluk tubuh ringkihnya kuat-kuat. Dia semakin sesenggukan. Aku
sendiri tak mengerti, kenapa harus ada tangis diantara kami. Tangis yang susah
kumaknai.
Selanjutnya aku pulang.
Ada kenangan manis yang sukar terhapuskan dari memori otakku.
Paginya lagi. Aku
mempercepat langkah menuju gubuk reyot.
“Mbah! Mbah! Saya
datang. Bukakan pintu, Mbah!” teriakku memanggil-manggil namanya, tapi tetap
diam tidak ada sahutan dari dalam.
“Mbah?! Bukakan
pintunya, bukakan, Mbah!” teriakku galau. Tetapi tetap tak ada jawaban dari
Mbah Puisi. Aku curiga. Mulai kudobrak pintu itu dan aku pun menyerbu masuk. Pandanganku tertuju pada
meja kerja Mbah Puisi. Tidak ada mesin ketik miliknya. Mengerling lagi ke sudut
ruangan, seketika mataku terbelalak. Kuyakini lagi pemandangan yang agak
ganjil. Mbah Puisi tergolek. Pucat. Kugoyang-goyangkan tubuhnya. Tidak
bergerak. Aku undur ke belakang. Dan mataku semakin kabur, kepalaku spontan
pening. Aku berteriak histeris.
“Mbah, puisiii…”
kutubruk jasad yang sudah kaku itu.
Dalam kepanikan.
Orang-orang berebut untuk lebih dulu masuk ke pondok Mbah Puisi. Aku dengan
isak tangis memperhatikan sebuah sajak yang ditulis di atas kertas folio.
Bunyinya begini:
Lahirlah
Berkaryalah
Dan
Matilah dengan damai!
“Oh, Tuhan…” hanya itu yang keluar dari bibirku. Ya, hanya
itu.-
*Sanggar
Adinda Pasongsongan-Sumenep

