Ironi SDN di Sumenep: Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Pernahkah Anda membayangkan sebuah sekolah dasar yang saat upacara bendera, barisannya tidak lebih panjang dari antrean di gerai bakso?
Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Ini nyata dan sedang terjadi.
Di Sumenep, ada sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) kini berada dalam kondisi kritis; jumlah muridnya bisa dihitung dengan jari tangan.
Melihat ruang kelas yang lebih banyak berisi bangku kosong daripada canda tawa siswa tentu memicu sebuah pertanyaan besar: Kemana perginya anak-anak kita?
Magnet Sekolah "Tetangga"
Jika kita telusuri, faktor utamanya bukan karena angka kelahiran di Sumenep menurun drastis.
Masalahnya justru ada pada kompetisi di "halaman rumah" sendiri.
Di banyak desa, SDN berdiri berdampingan dengan lembaga pendidikan swasta di bawah naungan Kemenag—seperti Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Menariknya, sekolah swasta ini dikelola langsung oleh masyarakat sekitar.
Disinilah letak titik baliknya. Ada ikatan emosional dan kultural yang kuat antara pengelola dan orang tua siswa.
Mengapa SDN Mulai "Kalah Saing"?
Menurut hemat saya, ada beberapa alasan mengapa SDN kini seolah jadi pilihan kedua:
• Sentimen Keagamaan: Di daerah dengan kultur religius kental seperti Sumenep, sekolah yang menawarkan porsi pendidikan agama lebih banyak (khas Kemenag) seringkali dianggap lebih "menjamin" masa depan akhlak anak.
• Kekuatan Komunal: Karena dikelola masyarakat setempat, ada rasa memiliki (sense of belonging). Tokoh masyarakat yang mengelola sekolah swasta biasanya memiliki pengaruh lebih besar dalam meyakinkan orang tua dibandingkan birokrasi sekolah negeri.
• Fleksibilitas: Sekolah swasta seringkali lebih lincah dalam berinovasi dan menyesuaikan diri dengan keinginan warga lokal dibandingkan SDN yang gerakannya terkadang dibatasi aturan administratif kaku.
Solusi atau Sekadar "Merger"?
Pemerintah daerah biasanya mengambil jalan pintas dengan melakukan regrouping atau penggabungan sekolah.
Tapi, apakah itu menyelesaikan akar masalah?
Mungkin sudah saatnya SDN di Sumenep tidak lagi tampil "biasa-biasa saja". SDN perlu melakukan re-branding.
Jika tetangga sebelah kuat di sisi agama, SDN harus bisa membuktikan bahwa mereka unggul disisi kreativitas, fasilitas, atau metode pembelajaran yang lebih modern tanpa meninggalkan nilai lokal.
Penutup
Sekolah, baik itu negeri maupun swasta, sejatinya punya tujuan sama: mencerdaskan anak bangsa.
Tapi membiarkan SDN mati perlahan karena kekurangan murid juga merupakan pemborosan aset negara.
Dibutuhkan sinergi, bukan sekadar kompetisi saling "rebut" murid.
Lantarsn pada akhirnya, kita butuhkan bukan sekadar sekolah ramai, tapi pendidikan yang mampu memanusiakan manusia, dimana pun gedungnya berada. [kay]

