Belajar dari Mandela: Mengapa Ketidakadilan Adalah "Inkubator" Perlawanan?
Nelson Mandela, sang tokoh kemanusiaan dunia, pernah melontarkan peringatan keras yang masih sangat relevan hingga hari ini.
Ia menyatakan bahwa terorisme dan kekerasan seringkali bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba dari ruang hampa, melainkan reaksi
terhadap penindasan yang sistematis.
Mandela dengan tegas berkata:
"Sangat tidak berguna bagi pemerintah untuk terus-menerus berbicara tentang reformasi, sementara mereka tetap mempertahankan kondisi yang memicu kekerasan."
Ia menunjuk dua hal utama sebagai biang keladi: kemiskinan dan kurangnya pendidikan.
Keduanya adalah "inkubator"
utama bagi rasa putus asa yang pada akhirnya meledak menjadi tindakan ekstrem.
Realita di Balik Janji Elit
Jika kita menarik pemikiran Mandela ke dalam konteks tanah air saat ini, rezim di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto perlu menaruh perhatian serius.
Kita harus jujur pada keadaan: rakyat mulai merasa jenuh, bahkan muak, dengan rentetan janji manis para elit politik.
Di atas panggung pidato, kemakmuran selalu dijanjikan, namun di meja
makan rakyat kecil, kenyataannya tetaplah pahit.
Kemiskinan masih jadi pemandangan harian yang kontras dengan gaya hidup mewah para pemegang kekuasaan.
Ketika kesenjangan ini kian lebar, benih-benih ketidakpuasan mulai tertanam.
Rakyat tidak hanya merasa kekurangan secara ekonomi, tapi
juga merasa ditindas berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada
kepentingan mereka.
"Teroris Gaya Baru" dan Ancaman Ketidakstabilan
Sadar atau tidak, ketika ruang untuk menyuarakan ketidakadilan tertutup dan perut rakyat tetap lapar, maka rasa putus asa akan mencari jalannya sendiri.
Inilah yang dikhawatirkan bisa melahirkan "teroris gaya baru".
Terorisme ini mungkin tidak
selalu berbentuk fisik, tepi bisa berupa pembangkangan sipil yang masif atau
hilangnya kepercayaan total terhadap institusi negara.
Rezim saat ini harus memahami bahwa keamanan negara tidak bisa hanya dijaga dengan kekuatan militer atau aparat penegak hukum.
Keamanan sejati lahir dari rasa keadilan tanpa nilai tawar.
Jika pemerintah terus
"bermain-main" dengan nasib rakyat dan membiarkan penindasan
sistematis terjadi lewat kebijakan yang timpang, maka stabilitas nasional
sedang dalam ancaman nyata.
Kembali ke Kemanusiaan
Mengabaikan kemiskinan dan penindasan adalah cara tercepat untuk menghancurkan sebuah negara dari dalam.
Pemerintah tidak boleh hanya sibuk bersolek dengan kata "reformasi"
jika praktik di lapangan masih melanggengkan penderitaan rakyat.
Merujuk pada pesan Mandela, sudah saatnya kebijakan negara benar-benar jadi obat bagi kemiskinan dan pendidikan menjadi alat pembebasan, bukan sekadar komoditas.
Sebelum rasa putus asa itu berubah jadi bara api yang tak terkendali, keadilan harus ditegakkan seadil-adilnya di bumi Nusantara. [kay]

