Santet (VII)



Santet (VII)

Puisi: Yant Kaiy

 

mari kita menyadari bersama

merenung lebih lama sembari bercermin

berjalan di rel kebenaran selamanya

adalah sikap terpuji tiada tandingnya

 

karena santet tidek ubahnye fitnah maha dahsyat

karena santet tidak ubahnya kepalsuan yang memalukan

karena santet tidak ubahnya kelicikan berbelit-belit

karena santet tidak ubahnya omong kosong belaka

karena santet tidak ubahnya kemunafikan menyesatkan

karena santet tidak ubahnya tai busuk menyengat hidung

karena santet tidak ubahnya anggur memabukkan

yang melemahkan akal manusia

yang merongrong iman manusia

 

tipu muslihat santet mengagumkan

memperdaya manusia tidak henti-hentinya

biar kita menyekutukan Tuhan

biar kita ber-Tuhan selain Allah

biar kita menyembah jin dan sebangsanya

biar kita menjadi pengikut iblis

biar kita kekal di api neraka

o, kenapa kita begitu mudah terpancing

kenapa kita terbawa pada ketololan

kenapa kita begitu gampang terkecoh

kenapa kita terlalu ceroboh

kenapa....?

 

padahal engkau adalah manusia arif

padahal engkau adalah manusia alim

padahal engkau adalah manusia pintar

padahal engkau adalah manusia mengerti

tetapi masalah kematian engkau dustakan

tetapi masalah kematian engkau kelabakan

tetapi masalah kematian engkau tidak tahan

tetapi masalah kematian engkau kaitkan dengan sentet

manusia macam apa engkau?

 

dibilang penghianat tidak mau

dibilang pengecut marah-marah

dibilang bodoh justru mendamprat

repot jadinya. hidupmu seperti kapas dipermainkan angin sepanjang masa, melayang terus melayang.... begitu hinanya hidupmu.

 

Pasongsongan, awal 1996 



LihatTutupKomentar