Menjaga Bahasa Ibu Lewat Dongeng Perang Udara Joko Tole
Di tengah derasnya arus informasi digital, tradisi berdiskusi jadi ruang yang kian berharga. Ketika masyarakat lebih akrab dengan tayangan singkat di media sosial. Ada suasana tersendiri saat menghadiri diskusi rutin mingguan di Gedung MWC NU Pasongsongan, Sumenep. Selasa malam, 21 Juli 2026, jadi momen yang amat berkesan bagi saya. Bukan sekadar jadi bagian dari lingkaran diskusi yang selalu hangat, malam itu saya mendapat kehormatan untuk berdiri di depan kawan-kawan sebagai narasumber. Membawa sebuah karya sastra fabel dan tutur berbahasa Madura: dongeng Joko Tole Aperrang Kalaban Dempo Abang. Diskusi pekanan di MWC NU Pasongsongan, selama ini selalu jadi ruang yang hidup untuk menukar gagasan, merawat ingatan kolektif, dan membumikan isu-isu keumatan serta kebudayaan. Tapi, mengangkat sastra tutur Madura dalam majelis tersebut memberikan nuansa unik—sebuah perjumpaan antara tradisi lokal, nilai spiritual, dan imajinasi kolektif kita sebagai warga Madura...