Postingan

Menampilkan postingan dengan label Utama

Antara Ikhlas dan Murka: Menggugat Moralitas Pengelolaan Pajak kita

​Belum lama ini, sosok jurnalis senior Andy F. Noya melontarkan pernyataan yang memantik diskusi hangat di ruang publik.  Di tengah tren kenaikan tarif pajak yang kian mencekik, Andy menyuarakan sebuah paradoks kewarganegaraan: ia merasa kecewa kepada negara, namun tetap berkomitmen menjalankan kewajibannya sebagai pembayar pajak yang patuh. ​Persoalannya bukan pada nominal rupiah yang dipotong dari penghasilannya, melainkan pada krisis kepercayaan terhadap mereka yang memegang kunci brankas negara. ​ Kontrak Sosial yang Pincang ​Bagi Andy, hubungannya dengan negara bersifat unik.  Ia bekerja secara mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan tidak pernah "diberi pekerjaan" oleh negara.  Tapi, ia menyadari bahwa setiap keringat yang ia cucurkan memiliki porsi untuk negara.  Inilah bentuk cinta tanah air yang konkret. ​Namun, cinta tersebut kini berbalas keraguan.  Ketika negara terus menuntut kenaikan setoran melalui berbagai instrumen pajak, masyarakat—yang diwaki...

Ironi Negeri "Emas Hijau": Mengapa Rakyat Masih Lapar di Atas Tanah yang Kaya?

Gambar
​ Indonesia sering disebut sebagai zamrud khatulistiwa, sebuah julukan yang bukan sekadar kiasan puitis, melainkan kenyataan geografis.  Namun, di balik angka-angka statistik yang gemerlap, tersimpan sebuah ironi yang menyakitkan: kekayaan alam melimpah, tapi kemiskinan tetap setia mendera sebagian besar rakyatnya. ​ Kelimpahan yang Tak Sampai ke Piring Rakyat ​Data terbaru dari Foreign Agricultural Service, USDA, mencatatkan angka yang fantastis: produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 46,5 juta metrik ton.  Angka ini menempatkan kita sebagai raja sawit dunia.  Belum lagi jika kita bicara tentang nikel yang menktdi rebutan industri baterai global, batubara yang menerangi negara lain, hingga emas yang digali dari perut bumi kita sendiri. ​ Secara logika, dengan kekayaan hutan, laut, dan tambang yang sedemikian rupa, tidak ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk hidup dalam garis kemiskinan.  Namun, kenyataannya? Harga minyak goreng sempat mencekik leher ...

Idul Fitri 2026: KH Kholilurrahman Tegaskan Takwa Sebagai Bekal Terbaik dalam Khotbah di Masjid Al-Istikmal

Gambar
Khotbah KH Kholilurrahman SUMENEP – Suasana khidmat menyelimuti Dusun Pakotan, Desa Pasongsongan, saat ratusan warga memadati Masjid Al-Istikmal untuk melaksanakan salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H pada Sabtu (21/3/2026).  Momentum kemenangan ini menjadi kian bermakna dengan pesan mendalam yang disampaikan oleh khatib, KH Kholilurrahman. Dalam khotbahnya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal ini menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan.  Ia mengingatkan jemaah bahwa esensi dari seluruh rangkaian ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Takwa: Bekal Menuju Keabadian KH Kholilurrahman menyampaikan bahwa di tengah hiruk-pikuk persiapan duniawi dalam merayakan Idul Fitri, umat Muslim tidak boleh lupa pada persiapan yang jauh lebih besar, yakni kehidupan di akhirat. "Sesungguhnya tidak ada bekal yang lebih mulia dan lebih menyelamatkan kita saat menghadap Sang Pencipta selain ketakwaan. Sebaik-baiknya bekal di akhirat adalah takwa," tegasnya di ha...

Menjaga Harmoni di Kota Bahari Sampang: Pelajaran dari Kasus Lyco Cafe

Gambar
​Penutupan sementara Lyco Cafe oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Sampang pada Senin (16/3/2026) bukan sekadar tindakan administratif biasa.  Langkah tegas ini merupakan konsekuensi logis ketika sebuah ruang usaha gagal membaca denyut nadi spiritualitas dan ketertiban masyarakat di sekitarnya. ​ Konflik yang Seharusnya Bisa Dicegah ​Keputusan Satpol PP yang merujuk pada Perda Kabupaten Sampang No. 7 Tahun 2025 tentang Ketertiban Umum adalah langkah yang tepat untuk mendinginkan suasana.  Menggelar acara live music bertajuk "Lyco Ambyar Koplo Time" di tengah suasana khidmat bulan suci Ramadan adalah sebuah ironi yang menyedihkan. ​Ada beberapa poin krusial yang perlu kita renungkan dari kejadian ini: ​1. Minimnya Sensitivitas Moral: Pemilik usaha seharusnya menyadari bahwa menjalankan bisnis di lingkungan masyarakat Muslim—terutama saat Ramadan—membutuhkan tenggang rasa yang tinggi.  Ketika warga sedang khusyuk menjalankan ibadah Tarawih dan Tadarus, dentuman musi...

Cermin Chomsky di Tanah Papua: Ketika Militerisme Menjadi Bahan Bakar Perlawanan

Gambar
Noam Chomsky, sang linguis sekaligus kritikus sosial paling tajam abad ini, pernah melontarkan tesis yang menampar wajah kekuatan global:  "Jika kita ingin berhenti menjadi sasaran terorisme, kita harus berhenti menjadi pelakunya."   Bagi Chomsky, terorisme bukan sekadar aksi kekerasan tanpa sebab (random acts of violence), melainkan sebuah reaksi atas intervensi militer, eksploitasi ekonomi, dan ketidakadilan sistemik yang dipaksakan oleh kekuatan besar terhadap entitas yang lebih lemah. Jika kita menarik garis merah pemikiran Chomsky ke dalam konteks domestik Indonesia, maka cermin itu akan mengarah tepat ke satu titik panas yang tak kunjung mendingin: Papua. Kekerasan yang Melahirkan Kekerasan Chomsky berargumen bahwa kebijakan luar negeri yang intervensionis sering kali menjadi akar masalah.  Di Papua, kita melihat pola serupa namun dalam skala internal.  Selama berpuluh-puluh tahun, pendekatan keamanan (security approach) yang kaku telah menjadi "menu ut...

Angin Segar dari Mandapa: THR PPPK Paruh Waktu dan Bukti Kepedulian Bupati Sumenep

Gambar
​Kabar gembira menyelimuti ribuan tenaga kerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep menjelang Lebaran 2026.  Di tengah hiruk-pikuk persiapan hari raya, sebuah kebijakan progresif muncul sebagai oase bagi para Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.  Bupati Sumenep secara resmi memastikan bahwa mereka juga akan menerima Tunjangan Hari Raya (THR) tahun ini. ​Langkah ini bukan sekadar janji lisan. Kepastian hukumnya telah tertuang dalam Peraturan Bupati Sumenep Nomor 11 Tahun 2026.  Peraturan ini merupakan perubahan atas Perbup Nomor 10 Tahun 2026 mengenai teknis pemberian THR dan gaji ketiga belas yang bersumber dari APBD 2026. ​ Mengapa Kebijakan Ini Patut Diapresiasi? ​Ada beberapa alasan mengapa langkah Bupati Sumenep ini layak disebut sebagai bentuk perhatian yang luar biasa: ​Asas Keadilan Sosial: Dengan menyertakan PPPK Paruh Waktu sebagai penerima THR, pemerintah daerah menunjukkan bahwa kontribusi setiap pegawai, sekecil apa pun jam kerj...

Merdeka dari Kompeni, Menuju Penjajahan Mandiri

Gambar
Sungguh sebuah pencapaian luar biasa. Sangat menakjubkan dan jadi catatan bersejarah.  Setelah melewati masa "magang" penderitaan di bawah ketiak bangsa asing selama ratusan tahun, kita akhirnya berhasil membuktikan satu hal: kita tidak butuh orang Belanda atau Jepang untuk membuat rakyat sendiri merasa terasing di tanah airnya. Setelah 80 tahun menghirup udara yang katanya bernama "merdeka," kita harus memberikan apresiasi setinggi-langitnya kepada para penguasa.  Mereka telah berhasil memodernisasi konsep kolonialisme jadi jauh lebih efisien dan dikemas dengan rapi dalam bungkus protokol negara. Estetika "Dijajah Bangsa Sendiri" Dahulu, VOC mengambil rempah-rempah kita dengan paksa. Betapa kuno dan kasar.  Sekarang, para pemegang kebijakan melakukannya dengan jauh lebih elegan.  Hutan digunduli bukan demi pembangunan, melainkan demi "investasi"—istilah keren untuk mengubah paru-paru dunia jadi tumpukan angka di rekening pribadi. Gunung dikeruk,...

Menangkal Terorisme, Menjaga Keutuhan: Belajar dari "Lensa Annan"

Gambar
Mantan Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan, pernah memberikan peringatan keras kepada dunia: "Terorisme tumbuh subur di mana terdapat konflik yang tak kunjung usai, pelanggaran hak asasi manusia, diskriminasi, dan pengucilan politik." Pesan ini bukan sekadar retorika diplomatik; ini adalah sebuah diagnosis sosiopolitik yang radikal. Annan menegaskan bahwa senjata hanya bisa membunuh teroris, tapi tidak bisa membunuh terorisme. Untuk menghancurkan ideologi kekerasan, kita harus menghancurkan alasan di balik keputusasaan. Akar Masalah: Bukan Sekadar Ideologi Bagi Annan, terorisme adalah produk sampingan dari rasa ketidakadilan global. Ketika individu atau kelompok merasa hak asasi mereka diinjak-injak, aspirasi politik mereka dikucilkan, dan identitas agama atau etnis mereka didiskriminasi, "kekerasan" seringkali muncul sebagai pilihan terakhir yang tragis. Dalam konteks ini, terorisme bukanlah penyebab masalah, melainkan simptom dari kegagalan nega...