Postingan

Menampilkan postingan dengan label Utama

Gelar Habib Tapi Minim Adab? Fenomena Klaim Nasab vs Ulama Lokal

Gambar
Konon, di urat nadi habib mengalir darah suci. Langsung nyambung ke langit.  Tiket surgawi yang membuat mereka merasa tak butuh lagi paspor kesopanan di bumi nusantara.  Menjual nasab demi posisi, tapi lupa bahwa kehormatan itu dijemput dengan adab, bukan sekadar sertifikat silsilah.  Ulama pribumi yang sudah ratusan tahun menjaga kedamaian negeri ini, tiba-tiba dianggap butiran debu.  Di mata mereka, kiai-kiai lokal hanyalah kasta kelas dua yang tidak punya jalur "orang dalam" menuju surga.  Mengerdilkan ilmu orang lain sambil meninggikan ego sendiri tampaknya sudah jadi hobi.  Kini, kegelisahan imigran Yaman mulai menghantui, saat cermin realitas mulai retak.  Masyarakat sudah mulai cerdas. Bisa bedakan mana emas murni dan mana loyang yang cuma disepuh gelar.  Ternyata, tiket VIP ke surga tidak otomatis didapat hanya karena nama belakang yang kearab-araban jika kelakuan masih jauh dari teladan.  Kalau terus begini, jangan salahkan publik ji...

Negeri Kaya, Rakyat Merantau: Hidup Pahit Tentang Indonesia yang Katanya Makmur

Gambar
Indonesia dikenal sebagai negeri yang katanya makmur. Tanahnya subur. Lautnya luas. Gunungnya kaya.  Tapi rakyatnya akrab dengan kata “pas-pasan”.  Kekayaan alam seperti etalase toko. Bisa dilihat. Sulit dibeli. Lapangan kerja katanya ada. Tapi sering hanya di spanduk. Di pidato. Di baliho besar.  Di dunia nyata, lowongannya sempit. Antrenya panjang. Upahnya pendek.  Maka banyak rakyat memilih jalan jauh. Ke negeri orang. Mengirim rindu bersama devisa. Ironisnya, mereka masih diminta cinta tanah air. Diminta setia. Diminta bangga.  Padahal perut tidak bisa hidup dari slogan. Cinta tanah air itu soal rasa aman dan sejahtera. Bukan hafalan.  Jadi jangan heran, jika yang paling patriotik justru yang terpaksa pergi. [kay]

Lapangan Kerja Lebih Dibutuhkan Rakyat daripada MBG Makan Gratis

Gambar
Masyarakat Indonesia sebenarnya lebih menyukai program lapangan kerja ketimbang MBG.  Bukan karena menolak makan gratis. Tapi karena mereka lebih suka bekerja daripada disuapi.  Lapangan kerja memberi penghasilan. MBG hanya memberi piring. Yang satu berkelanjutan. Yang lain cepat habis. Masyarakat sebenarnya tidak minta disuapi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan.  Dengan bekerja, ada penghasilan. Dengan penghasilan, ada pilihan.  Dan dengan pilihan, keluarga bisa makan bergizi tanpa harus antre program.  Lucunya lagi, rakyat dianggap tak paham gizi. Seolah tanpa program, mereka lupa cara memasak sayur.  Padahal sejak dulu, mereka tahu apa yang sehat untuk keluarganya.  Yang kurang bukan pengetahuan. Tapi akses kerja.  Karena gizi terbaik tetap lahir dari keringat sendiri. [kay]

MBG Pasongsongan: Antara Makan Gratis, Cemas Orang Tua, dan Usulan UMB

Gambar
MBG akhirnya datang juga. Pekan ini. Hampir merata. Masuk ke sekolah-sekolah di Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. Anak-anak menyambutnya dengan sorak kecil dan perut kosong.  Bagi mereka, gratis itu selalu terdengar lezat. Soal gizi, nanti belakangan. Yang penting bisa makan bareng teman. Di luar pagar sekolah, cerita jadi lain. Sebagian orang tua gelisah. Ada kabar keracunan di daerah lain.  Pesan berantai lebih cepat dari sendok makan. MBG pun berubah wujud.  Dari Makan Bergizi Gratis jadi Makan Bikin Galau. Anak disuruh hati-hati, tapi tetap lapar. Lalu muncul ide brilian. Mengapa tidak uang saja? Lebih fleksibel, katanya.  Anak bisa beli sesuai selera. Usulan ini jujur dan kreatif.  Tapi kalau begitu, namanya jangan MBG. Ganti saja UMB (Uang Makan Bergizi).  Soal bergizinya? Itu urusan nanti. Hehehe. [kay]

MBG, Makan Berani Setelah Giliran Teman Duluan

Gambar
Berita baik pekan ini bersama kotak makan bernama MBG.  Ia tiba di sekolah-sekolah Kecamatan Pasongsongan Sumenep dengan wajah rapi dan janji gizi.  Tapi, tidak semua siswa menyambutnya dengan senyum.  Sebagian justru menatapnya curiga, teringat pesan orang tua di rumah: jangan dimakan dulu, takut keracunan.  MBG pun mendadak berubah dari menu makan siang jadi bahan uji nyali. Di kelas, drama kecil pun terjadi. Ada siswa yang memilih menunggu, menahan lapar sambil mengamati.  Temannya membuka kotak lebih dulu, lalu makan dengan tenang.  Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Tak ada pingsan, tak ada teriakan, apalagi sirene. Hanya sendawa kecil dan wajah kenyang. Baru setelah itu, rasa takut berubah jadi rasa lapar. MBG akhirnya disantap, tanpa upacara.  Kisah ini sederhana. Di negeri ini, makanan sering harus lulus “uji teman sebangku”.  Kepercayaan publik, rupanya, masih perlu bumbu utama: contoh nyata, bukan sekadar sosialisasi . [kay]

NU Terlalu Sibuk ke Atas, Warga Ribut ke Bawah: Retaknya Harmoni Organisasi

Gambar
NU adalah organisasi besar. Begitu besar sampai pengurus di atas dan warga di bawah tampak hidup di dua alam berbeda. Yang satu di ruang rapat ber-AC, yang lain di lapangan penuh perdebatan. Keduanya sama-sama NU, tapi rasanya seperti sedang tidak satu grup WhatsApp. Para pengurus terlihat sibuk. Sibuk rapat, sibuk manuver, sibuk lobi. Saking sibuknya, suara warga kecil terdengar seperti notifikasi yang disenyapkan. Sementara itu, di bawah, warga NU ribut soal nasab. Debat panas. Persaudaraan memanas. Tapi tenang saja, di atas semuanya tetap adem. Saat warga saling bersitegang, para elit tampak khusyuk jaga kepentingan pribadi. Katanya demi organisasi. Meski anehnya, yang kenyang selalu itu-itu saja. Rakyat diminta sabar. Diminta dewasa. Diminta jangan ribut. Padahal yang paling jarang turun tangan justru para pemilik mikrofon. NU tidak akan runtuh. Terlalu besar untuk itu. Tapi kepercayaan bisa bocor pelan-pelan. Kalau pemimpin terus sibuk mengurus perut sendiri, sementa...

Kekompakan Luar Biasa: KKG Gugus 02 Pasongsongan Bahas Sekolah Ramah Anak di SDN Panaongan 3

Gambar
Sundari, S.Pd (kanan) SUMENEP – Pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan kembali digelar dengan penuh antusias. Kamis (5/2/2026). Kali ini giliran SDN Panaongan 3 jadi tuan rumah bagi para pendidik yang ingin memperdalam strategi pendidikan lewat tema menarik: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.” Ada hal yang berbeda dan membanggakan dalam rapat kali ini. Tingkat kehadiran peserta menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini turut diamini Sundari, S.Pd., guru PAI (Pendidikan Agama Islam) dari SDN Padangdangan 1. "Rapat KKG 02 kali ini terbilang sangat sukses. Hampir seluruh guru, kepala sekolah, hingga tenaga kependidikan hadir dengan kompak dan tepat waktu. Semangat kebersamaan seperti ini yang kita butuhkan untuk maju bersama," ungkap Sundari ketika dimintai komentarnya oleh awak media. Menurut perempuan dari dua orang anak ini menjelaskan, bahwa rapat kali ini bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum pentin...

Sinergi Pendidik di Gugus 02 Pasongsongan: Wujudkan Sekolah Ramah Anak Melalui Inklusivitas

Gambar
Sariman, S.Pd (kiri). SUMENEP   – Semangat kolaborasi antar-pendidik kembali terlihat dalam pertemuan rutin Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 02 Kecamatan Pasongsongan. Kamis (5/2/2026). Pertemuan bulan ini diselenggarakan di SDN Panaongan 3, dengan mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika pendidikan modern: “Merajut Inklusivitas: Membangun Sekolah Ramah Anak.” Tema ini dipilih untuk memperkuat pemahaman guru mengenai pentingnya menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan setiap anak, terlepas dari latar belakang maupun kondisi fisiknya. Hadir sebagai pemateri utama adalah Sariman, S.Pd., yang merupakan tenaga pendidik dari SDN Soddara 1. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa inklusivitas bukan sekadar menerima siswa berkebutuhan khusus, melainkan tentang bagaimana kurikulum dan pola pengajaran bisa beradaptasi dengan kebutuhan unik setiap individu. "Sekolah ramah anak dimulai dari hati seorang guru yang mampu melihat potensi ...