Antara Ikhlas dan Murka: Menggugat Moralitas Pengelolaan Pajak kita
Belum lama ini, sosok jurnalis senior Andy F. Noya melontarkan pernyataan yang memantik diskusi hangat di ruang publik. Di tengah tren kenaikan tarif pajak yang kian mencekik, Andy menyuarakan sebuah paradoks kewarganegaraan: ia merasa kecewa kepada negara, namun tetap berkomitmen menjalankan kewajibannya sebagai pembayar pajak yang patuh. Persoalannya bukan pada nominal rupiah yang dipotong dari penghasilannya, melainkan pada krisis kepercayaan terhadap mereka yang memegang kunci brankas negara. Kontrak Sosial yang Pincang Bagi Andy, hubungannya dengan negara bersifat unik. Ia bekerja secara mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan tidak pernah "diberi pekerjaan" oleh negara. Tapi, ia menyadari bahwa setiap keringat yang ia cucurkan memiliki porsi untuk negara. Inilah bentuk cinta tanah air yang konkret. Namun, cinta tersebut kini berbalas keraguan. Ketika negara terus menuntut kenaikan setoran melalui berbagai instrumen pajak, masyarakat—yang diwaki...