Bagiku tahun 80-an merupakan kenangan manis. Sulit terlupakan. Dimana rindu hanya bisa dititipkan pada angina. Bukan pada layar gawai. Di bawah langit SMA nan jingga, namamu, Tina, adalah doa yang paling sering kupanjatkan. Tapi paling keras kupendam. Aku sadar siapa diriku. Aku adalah cowok dengan sepatu yang mulai menipis solnya. Masa depan yang masih jadi teka-teki. Bagiku, engkau adalah rembulan. Terlalu tinggi untuk kuraih dengan tangan yang kosong. Karena aku tak punya apa-apa, maka kupilih diam sebagai cara terbaik untuk mencintaimu. Namun, ingatan itu selalu pulang setiap kali musim mangga tiba. Aroma manis buah yang masak di pohon seolah membawa jiwaku kembali ke gerbang sekolah itu. Kala itu, kau mendekat, tersenyum lebih manis dari madu, dan menyodorkan sebutir mangga ke tanganku. "Ini untukmu!," ucapmu singkat. Engkau mungkin tak pernah tahu, mangga itu tidak langsung kumakan. Aku memandanginya berjam-jam, membayangkan keberanian yang tidak p...