Postingan

Menampilkan postingan dengan label Utama

Dilema Guru PPPK Paruh Waktu: Semangat Mengabdi, Kantong Teruji

Gambar
Januari 2026 jadi babak baru. Ribuan guru PPPK Paruh Waktu resmi bertugas. Ada rona bahagia di wajah mereka. Tapi, di balik itu tersimpan kecemasan nyata. Jadi guru baru bukan perkara mudah. Bulan-bulan pertama adalah masa paling berat. Dompet mereka diuji habis-habisan. Gaji belum cair. Beban utama adalah biaya operasional. Banyak guru ditempatkan jauh dari rumah. Jarak tempuh puluhan kilometer. Biaya bensin melonjak drastis. Belum lagi jika harus beli makanan, pengganjal perut. Padahal, status "baru bekerja" berarti belum ada pemasukan stabil. Mereka wajib memutar otak untuk bertahan hidup. Sebagian terpaksa berhutang demi bisa berangkat ke sekolah. Dedikasi memang tidak bisa diukur dengan uang. Tapi, guru juga manusia biasa. Mereka butuh makan dan biaya transportasi. Semangat mengajar jangan sampai padam karena beban finansial. Pemerintah perlu menaruh atensi khusus persoalan ini. Kebijakan yang meringankan beban mereka sangat dinanti. Jangan biarkan pahlawan...

Penuh Haru, SDN Padangdangan 1 Gelar Acara Lepas Pisah untuk Tiga Guru Terbaiknya

Gambar
Guru dan staf SDN Padangdangan 1. [k4y] SUMENEP -- Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti SDN Padangdangan 1, Kecamatan Pasongsongan, saat menggelar acara lepas pisah bagi tiga guru berdedikasi. Selasa (13/1/2026). Acara yang berlangsung di lingkungan sekolah dihadiri seluruh jajaran guru dan staf sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka. Ketiga guru yang dilepas itu adalah Zainal Arifin, Ahmad Sarkawi, dan Pak Muji. Zainal Arifin dan Ahmad Sarkawi melanjutkan tugas di sekolah baru dengan status guru PPPK Paruh Waktu. Sementara Pak Muji resmi mengakhiri masa baktinya dan memasuki masa purna tugas. Yudi Harianto (kiri) Kepala SDN Padangdangan 1, Matrasit, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras dan loyalitas yang telah diberikan ketiganya bagi kemajuan sekolah. "Kami mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasi dan kontribusi yang telah diberikan oleh ketiga teman sejawat kami. Semoga mereka selalu sukses dan bahagia di tempat ...

Gelar Ngunduh Mantu Mewah, CEO PT Bintang Banyu Urip Sambut Menantu Asal Solo di Yogyakarta

Gambar
MS Arifin (kanan) bersama besan. [k4y] YOGYAKARTA – Suasana khidmat dan penuh kebahagiaan menyelimuti salah satu gedung pernikahan terbaik di Yogyakarta baru-baru ini. Ahad (11/1/2025).  CEO PT Bintang Banyu Urip, MS Arifin, menggelar prosesi acara "Ngunduh Mantu" untuk putra sulungnya bernama Mada yang baru saja mempersunting gadis pujaan hati asal Solo, Lala namanya.  Acara yang berlangsung megah ini jadi momen penyatuan dua budaya serta mempererat tali silaturahmi keluarga besar PT Bintang Banyu Urip.  Kehadiran mempelai wanita dari Solo menambah nuansa keanggunan tradisional dalam perayaan yang tertata apik tersebut. Dihadiri Pejabat dan Tokoh Penting Hajatan besar ini tidak hanya jadi momen keluarga, tapi juga jadi ajang pertemuan tokoh-tokoh penting.  Sejumlah pejabat daerah di Yogyakarta tampak hadir memberikan ucapan selamat dan doa restu kepada kedua mempelai.  Kehadiran para tokoh ini menunjukkan jejaring sosial dan rasa hormat yang tinggi terhadap sos...

Warisan Turun-Temurun: Inilah Beragam Cara Nelayan Pasongsongan Menangkap Ikan

Gambar
Perahu nelayan Pasongsongan. [k4y] Eksistensi Desa/Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep sebagai pusat perikanan terbesar di Madura adalah sebuah prestasi budaya sekaligus ekonomi. Metode-metode berikut bukan sekadar cara mencari makan, melainkan identitas yang menghubungkan manusia dengan lautnya. Sebagai masyarakat, kita patut bangga bahwa di tengah gempuran modernitas, nelayan Pasongsongan tetap memegang teguh pakem-pakem leluhur sambil tetap produktif menyuplai kebutuhan protein bagi masyarakat luas. Menjaga kelestarian laut Pasongsongan berarti menjaga piring-piring kita tetap terisi dengan ikan-ikan segar berkualitas terbaik. Kekuatan utama nelayan Pasongsongan dalam mendapatkan ikan terletak pada ragam metode tangkapnya. Mereka tidak hanya bergantung pada satu cara, melainkan memiliki klasifikasi teknik yang disesuaikan dengan jenis ikan dan kondisi alam. Berikut adalah warisan teknik yang masih lestari hingga kini: Majeng & Ngoncor: Majeng menjadi potret...

Antara Nyawa dan Jaring: Potret Ketangguhan dan Transformasi Nelayan Pasongsongan

Gambar
Perahu tradisional Pasongsongan. [k4y] Keberanian di Atas Gelombang Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, telah lama dikenal sebagai rumah bagi para petarung samudera. Nelayan di wilayah ini memiliki reputasi sebagai sosok yang tangguh dan pemberani. Bagi mereka, laut bukan sekadar bentang air, melainkan ladang pengabdian untuk menghidupi keluarga. Dengan nyali yang melampaui batas normal, mereka rela bertaruh nyawa, hidup berbumbungkan langit dan berbumikan air laut, jauh dari dekapan anak dan istri. Sebuah adagium ironis sering terdengar: "Nelayan Pasongsongan lebih takut lapar daripada mati." Ungkapan ini menggambarkan betapa kerasnya desakan ekonomi sehingga maut seolah menjadi urutan kedua. Namun, di balik keberanian yang terkesan "konyol" bagi sebagian orang, tersimpan filosofi keyakinan yang mendalam saat mereka membelah badai demi sesuap nasi. Tragedi dalam Ingatan: Catatan Kelam Masa Lalu Sejarah perjalanan nelayan Pasongsongan tidak lepas dari kisah-...

Menara Ekonomi Pasongsongan: Saat Sinergi Melampaui Kompetisi Etnis

Gambar
Dalam teori ekonomi klasik, persaingan seringkali dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kemajuan. Tapi, Desa Pasongsongan di ujung barat utara Kabupaten Sumenep punya narasi berbeda. Disini, sejarah mencatat bahwa kemakmuran tidak dibangun di atas reruntuhan pihak lain, melainkan melalui sebuah "Menara Ekonomi" yang dipahat bersama oleh etnis peranakan Tionghoa dan warga pribumi Madura. Pasongsongan telah lama jadi titik temu strategis. Kepiawaian dagang etnis Tionghoa yang mengakar kuat di wilayah pesisir bertemu dengan kearifan lokal dan daya tahan warga pribumi. Kolaborasi ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan kebutuhan. Etnis Tionghoa membawa jaringan perniagaan yang luas, sementara warga pribumi menyediakan basis sosial dan sumber daya lokal yang tak ternilai. Filosofi Balancing System Titik balik paling menarik terjadi pada era 80-an. Secara perlahan tapi pasti, kendali ekonomi makro yang sebelumnya didominasi oleh etnis Tionghoa mulai bergeser....

Tjoa dan Jejak Sunan Ampel: Narasi Tionghoa Muslim di Tanah Pasongsongan

Gambar
Penulis (kiri) dan Ibnu Suaidi. Di balik pintu kayu jati berusia ratusan tahun di Desa Pasongsongan , tersimpan rahasia sejarah yang menepis segala sekat etnisitas. Salah satunya berada di kediaman Ibnu Suaidi, sosok lelaki yang membawa garis keturunan marga "Tjoa". Rumahnya yang dibangun abad ke-18 di Jalan Ki Abubakar Sidik bukan sekadar bangunan tua, melainkan monumen identitas yang unik: Tionghoa Muslim. Garis Keturunan yang Bertemu Dalam sebuah perbincangan dengan saya di kediamannya, Ibnu Suaidi mengungkap sebuah fakta mengejutkan, tapi bagi warga Pasongsongan adalah kewajaran. "Keluarga besar saya masih ada ikatan keturunan dengan Sunan Ampel," tuturnya pada 1 September 2010 silam. Pernyataan ini bukan sekadar klaim silsilah. Ini adalah bukti bahwa di Pasongsongan, darah Tionghoa dan tradisi keislaman Nusantara telah menyatu berabad-abad. Akulturasi yang Melampaui Ekonomi Peranakan Tionghoa di Pasongsongan memberikan dimensi baru dalam ke...

Jejak Arsitektur Tionghoa dan Sejarah Ekonomi Desa Pasongsongan

Gambar
Rumah peranakan Tionghoa di Pasongsongan. Jika Anda menyusuri Jalan Abubakar Sidik di Desa Pasongsongan, Sumenep, langkah Anda akan disambut oleh deretan bangunan tua yang seolah menghentikan waktu. Arsitektur rumah-rumah tempo dulu milik warga peranakan Tionghoa ini bukan sekadar pemandangan estetik; mereka adalah saksi bisu dari sebuah "Imperial Niaga" yang pernah bertahta di ujung barat utaraMadura. Dulu, pelabuhan Pasongsongan adalah urat nadi perdagangan yang sibuk. Di sinilah etnis Tionghoa membangun supremasi ekonomi mereka. Selama beberapa dekade, mereka merajai roda perniagaan tanpa sekat, mengendalikan arus keluar-masuk barang, dan menciptakan era kemakmuran yang sulit terbendung. Bangunan-bangunan kokoh yang kita lihat hari ini adalah sisa-sisa kejayaan yang pernah mereka capai melalui ketekunan di dunia perdagangan. Angin Perubahan Era 80-an Tapi, sejarah memiliki cara sendiri untuk berputar. Memasuki era 80-an, dominasi absolut tersebut mulai mered...