Postingan

Menampilkan postingan dengan label Utama

Gaji Rp300 Ribu di 2026: Potret Nasib Guru Honorer dan Nakes yang Terlupakan Negara

Gambar
Pemangku kebijakan publik Indonesia pada 2026 katanya sedang sibuk bekerja. Tapi bukan bekerja menaikkan kesejahteraan.  Lebih sibuk merapikan kata-kata di depan kamera televisi.  Sambil lupa melihat angka di slip gaji. Rp 300 ribu. Untuk tenaga kesehatan dan guru honorer.  Negara tersenyum. Dompet mereka menangis. Para pengabdi ini sudah lama jadi tulang punggung. Bukan lima tahun. Ada yang dua puluh tahun lebih.  Mengajar anak bangsa. Merawat orang sakit.  Tapi tetap diperlakukan seperti relawan acara tujuhbelasan. Peroleh ucapan terima kasih.  Bonusnya foto bersama. Soal hidup? Urusan nanti. Urusan Tuhan.  Ironisnya, negara pandai bicara soal masa depan. Soal kemakmuran. Soal SDM unggul. Tapi lupa mengisi perut para penjaganya.  Gaji Rp 300 ribu dianggap wajar. Mungkin karena pengabdian dinilai pakai doa. Bukan rupiah.  Di negeri ini, pengorbanan memang mahal. Yang murah justru penghargaannya. [kay]

Podcast Rhoma–Islah Bongkar Strategi Belanda: Patron Yaman, Kiai Pribumi, dan Haji yang Dibatasi

Gambar
Podcast Rhoma Irama dan Islah Bahrawi terdengar seperti membuka arsip berdebu. Isinya bukan lagu dangdut, tapi politik kolonial.  Belanda ternyata kreatif. Bukan cuma senjata, tapi juga patron. Didatangkanlah orang-orang Yaman. Dipoles jadi kelas utama. Kiai pribumi cukup jadi figuran. Logikanya sederhana. Kalau perlawanan menyala, siram pakai otoritas baru. Maka lahirlah patron “resmi”.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Orang awam menyebutnya sebagai antek Londo. Jabatan sakral, stempel kolonial. Agama pun diberi seragam dinas. Agar perlawanan lebih mudah diatur. Kolonial licik. Parahnya lagi, urusan haji ikut diatur. Rekomendasi Habib Utsman bin Yahya jelas: batasi jemaah dari Indonesia. Bukan soal kesehatan. Bukan soal kapal. Tapi soal ide. Takut pulang membawa api. Kolonialisme memang licin. Bisa pakai meriam. Bisa juga pakai sorban. [kay]

Podcast Rhoma Irama–Islah Bahrawi Bongkar Peran Orang Yaman di Balik Strategi Belanda

Gambar
Podcast Bisikan Rhoma. Dari sebuah podcast. Rhoma Irama duduk berdiskusi dengan Islah Bahrawi. Topiknya serius, tapi rasanya seperti membuka lemari tua sejarah.  Orang-orang Yaman, kata mereka, bukan sekadar datang. Mereka didatangkan. Ada tujuan. Ada misi. Bukan wisata religi. Belanda rupanya cerdik. Perlawanan pribumi dianggap terlalu berisik. Maka dicarilah peredam. Datanglah figur-figur agama dari Yaman. Diberi panggung. Diberi sorban.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Jabatan suci, tapi stempelnya kolonial. Ilustrasinya, penjajahan tak selalu pakai senapan. Kadang cukup fatwa. Tak perlu meriam, asal umat tenang. Perlawanan jadi makruh. Tunduk dianggap berkah.  Podcast ini seperti alarm. Bahwa sejarah bisa dibungkus agama. Dan kita, seringkali, tepuk tangan tanpa baca catatan kaki. [kay]

Gelar Habib Tapi Minim Adab? Fenomena Klaim Nasab vs Ulama Lokal

Gambar
Konon, di urat nadi habib mengalir darah suci. Langsung nyambung ke langit.  Tiket surgawi yang membuat mereka merasa tak butuh lagi paspor kesopanan di bumi nusantara.  Menjual nasab demi posisi, tapi lupa bahwa kehormatan itu dijemput dengan adab, bukan sekadar sertifikat silsilah.  Ulama pribumi yang sudah ratusan tahun menjaga kedamaian negeri ini, tiba-tiba dianggap butiran debu.  Di mata mereka, kiai-kiai lokal hanyalah kasta kelas dua yang tidak punya jalur "orang dalam" menuju surga.  Mengerdilkan ilmu orang lain sambil meninggikan ego sendiri tampaknya sudah jadi hobi.  Kini, kegelisahan imigran Yaman mulai menghantui, saat cermin realitas mulai retak.  Masyarakat sudah mulai cerdas. Bisa bedakan mana emas murni dan mana loyang yang cuma disepuh gelar.  Ternyata, tiket VIP ke surga tidak otomatis didapat hanya karena nama belakang yang kearab-araban jika kelakuan masih jauh dari teladan.  Kalau terus begini, jangan salahkan publik ji...

Negeri Kaya, Rakyat Merantau: Hidup Pahit Tentang Indonesia yang Katanya Makmur

Gambar
Indonesia dikenal sebagai negeri yang katanya makmur. Tanahnya subur. Lautnya luas. Gunungnya kaya.  Tapi rakyatnya akrab dengan kata “pas-pasan”.  Kekayaan alam seperti etalase toko. Bisa dilihat. Sulit dibeli. Lapangan kerja katanya ada. Tapi sering hanya di spanduk. Di pidato. Di baliho besar.  Di dunia nyata, lowongannya sempit. Antrenya panjang. Upahnya pendek.  Maka banyak rakyat memilih jalan jauh. Ke negeri orang. Mengirim rindu bersama devisa. Ironisnya, mereka masih diminta cinta tanah air. Diminta setia. Diminta bangga.  Padahal perut tidak bisa hidup dari slogan. Cinta tanah air itu soal rasa aman dan sejahtera. Bukan hafalan.  Jadi jangan heran, jika yang paling patriotik justru yang terpaksa pergi. [kay]

Lapangan Kerja Lebih Dibutuhkan Rakyat daripada MBG Makan Gratis

Gambar
Masyarakat Indonesia sebenarnya lebih menyukai program lapangan kerja ketimbang MBG.  Bukan karena menolak makan gratis. Tapi karena mereka lebih suka bekerja daripada disuapi.  Lapangan kerja memberi penghasilan. MBG hanya memberi piring. Yang satu berkelanjutan. Yang lain cepat habis. Masyarakat sebenarnya tidak minta disuapi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan.  Dengan bekerja, ada penghasilan. Dengan penghasilan, ada pilihan.  Dan dengan pilihan, keluarga bisa makan bergizi tanpa harus antre program.  Lucunya lagi, rakyat dianggap tak paham gizi. Seolah tanpa program, mereka lupa cara memasak sayur.  Padahal sejak dulu, mereka tahu apa yang sehat untuk keluarganya.  Yang kurang bukan pengetahuan. Tapi akses kerja.  Karena gizi terbaik tetap lahir dari keringat sendiri. [kay]

MBG Pasongsongan: Antara Makan Gratis, Cemas Orang Tua, dan Usulan UMB

Gambar
MBG akhirnya datang juga. Pekan ini. Hampir merata. Masuk ke sekolah-sekolah di Kecamatan Pasongsongan-Sumenep. Anak-anak menyambutnya dengan sorak kecil dan perut kosong.  Bagi mereka, gratis itu selalu terdengar lezat. Soal gizi, nanti belakangan. Yang penting bisa makan bareng teman. Di luar pagar sekolah, cerita jadi lain. Sebagian orang tua gelisah. Ada kabar keracunan di daerah lain.  Pesan berantai lebih cepat dari sendok makan. MBG pun berubah wujud.  Dari Makan Bergizi Gratis jadi Makan Bikin Galau. Anak disuruh hati-hati, tapi tetap lapar. Lalu muncul ide brilian. Mengapa tidak uang saja? Lebih fleksibel, katanya.  Anak bisa beli sesuai selera. Usulan ini jujur dan kreatif.  Tapi kalau begitu, namanya jangan MBG. Ganti saja UMB (Uang Makan Bergizi).  Soal bergizinya? Itu urusan nanti. Hehehe. [kay]

MBG, Makan Berani Setelah Giliran Teman Duluan

Gambar
Berita baik pekan ini bersama kotak makan bernama MBG.  Ia tiba di sekolah-sekolah Kecamatan Pasongsongan Sumenep dengan wajah rapi dan janji gizi.  Tapi, tidak semua siswa menyambutnya dengan senyum.  Sebagian justru menatapnya curiga, teringat pesan orang tua di rumah: jangan dimakan dulu, takut keracunan.  MBG pun mendadak berubah dari menu makan siang jadi bahan uji nyali. Di kelas, drama kecil pun terjadi. Ada siswa yang memilih menunggu, menahan lapar sambil mengamati.  Temannya membuka kotak lebih dulu, lalu makan dengan tenang.  Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Tak ada pingsan, tak ada teriakan, apalagi sirene. Hanya sendawa kecil dan wajah kenyang. Baru setelah itu, rasa takut berubah jadi rasa lapar. MBG akhirnya disantap, tanpa upacara.  Kisah ini sederhana. Di negeri ini, makanan sering harus lulus “uji teman sebangku”.  Kepercayaan publik, rupanya, masih perlu bumbu utama: contoh nyata, bukan sekadar sosialisasi . [kay]