Postingan

Menampilkan postingan dengan label Utama

Ijazah Jokowi Tak Kunjung Ditunjukkan, Cinta Rakyat Berubah Jadi Kekecewaan

Gambar
Berita itu beredar seperti kabar lama yang diputar ulang. Soal ijazah asli yang tak kunjung hadir. Seorang negarawan diminta menunjukkan kertas, bukan kebesaran. Rakyat menunggu dengan sabar, lalu lelah. Ironis, di negeri administrasi, justru administrasi jadi misteri. Kekecewaan pun tumbuh rapi. Bukan karena benci, tapi karena cinta yang kebablasan.  Rakyat hanya ingin teladan. Bukan drama.  Ketika pertanyaan dijawab dengan diam, spekulasi jadi hiburan murah. Artinya, keheningan disebut kebijaksanaan. Yang lebih getir, sebagian rakyat malah tersandung hukum. Hanya karena bertanya. Hanya karena berharap.  Negeri ini memang ramah slogan, tapi alergi klarifikasi.  Di sini, cinta pada pemimpin bisa berujung sidang. Dan ijazah tetap jadi legenda. [kay]

MBG dan Sekolah: Program Makan Gratis atau Cara Halus Membuat Pelajar Bergantung?

Gambar
Pemerintah datang ke sekolah dengan senyum paling tulus.  Membawa kotak makan. Diberi nama program mulia. MBG.  Katanya demi gizi. Katanya demi masa depan. Tapi di balik nasi hangat, logika ikut didinginkan. Anak-anak pun belajar hal baru. Datang ke sekolah bukan untuk berpikir. Tapi menunggu makan siang.  Buku bisa lupa. Lapar jangan. Pelan-pelan, ketergantungan tumbuh. Gratis terasa wajib.  Negara hadir, tapi otak disuruh libur. Ironisnya, ini disebut investasi pendidikan. Padahal yang ditanam bukan nalar, tapi kebiasaan menengadah.  Sekolah jadi kantin. Guru kalah pamor dengan lauk pauk.  Dan kita tepuk tangan. Karena pembodohan kini dibungkus gizi. [kay]

Suku Madura di Mana-Mana: Kerja Keras, Iman Kuat, dan Elegi Kehidupan Rantau

Gambar
Berbicara soal Suku Madura memang susah luput dari sorotan.  Mereka ada di mana-mana. Dari pasar sampai proyek. Dari kota besar sampai pelosok.  Bukan karena ingin terkenal. Tapi karena kerja keras memang jarang bisa disembunyikan. Di tanah rantau, etos kerja jadi identitas. Bangun pagi. Pulang sore. Kadang malam. Capek itu biasa. Mengeluh itu bonus.  Maknanya, yang malas sering heran. Kok bisa kuat? Kok bisa tahan?  Padahal jawabannya sederhana. Karena hidup tidak menunggu niat. Rasa percaya diri mereka juga sering disalahpahami. Dibilang nekat. Dibilang terlalu yakin.  Padahal mereka hanya bersandar pada iman. Mayoritas Muslim. Percaya rezeki sudah diatur. Tinggal ikhtiar yang jangan dihemat.  Kalau gagal, coba lagi. Kalau jatuh, berdiri.  Karena bagi mereka, Allah SWT tidak pernah salah kirim rezeki. [kay]

Terobosan Baru: Pusat Therapy Buta Warna Indonesia Beri Harapan Nyata Bagi Penderita Buta Warna

Gambar
​ YOGYAKARTA – Harapan baru bagi penderita buta warna kini hadir di Indonesia. Jumat (13/2/2026).  Metode terapi yang telah dikenal luas dan diakui di luar negeri, kini sukses diadaptasi oleh Pusat Therapy Buta Warna Indonesia.  Dengan rekam jejak yang meyakinkan, banyak pasien dilaporkan sukses pulih setelah menjalani rangkaian perawatan di institusi ini. ​CEO PT Bintang Banyu Urip Internasional, Sersan MS Arifin, mengungkapkan bahwa layanan ini hadir sebagai solusi bagi mereka yang selama ini merasa terhambat oleh keterbatasan penglihatan warna, baik dalam karier maupun kehidupan sehari-hari. ​"Kami membawa teknologi dan metode yang sudah teruji di mancanegara ke Indonesia. Fokus kami adalah pemulihan dan penyembuhan, dan kami bersyukur banyak pasien yang telah merasakan perubahan nyata setelah menjalani terapi di sini," ujar Sersan MS Arifin saat ditemui di kantor pusatnya di Yogyakarta. ​ Pusat Layanan Terpadu ​Untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, Pusat Therapy Buta...

Ironi Absen Wajah PPPK Paruh Waktu Sumenep: Disiplin Tinggi, Nasib Gimana?

Gambar
Para guru dan tenaga kependidikan (tendik) PPPK Paruh Waktu di Sumenep mulai resmi jadi model dadakan tiap pagi. Kamis (12/2/2026).  Mesin absen wajah itu memindai senyum-senyum penuh syukur dari para pendidik yang baru aktif sejak 1 Januari 2026.  Sangat mengharukan melihat wajah-wajah ceria itu berebut menyetor biometrik demi membuktikan bahwa mereka benar-benar ada dan nyata. ​Antusiasme mereka sungguh di luar nalar manusia biasa.  Bayangkan, para pejuang pendidikan ini hadir tepat waktu dengan semangat yang meluap-luap, seolah-olah mesin itu adalah pintu menuju gerbang kesejahteraan yang megah.  Mungkin bagi mereka, dipindai oleh mesin jauh lebih terasa "dihargai" daripada sekadar mengajar di dalam kelas yang bangunannya mulai menua. ​Sungguh sebuah simfoni kedisiplinan yang sangat efisien bagi anggaran daerah.  Kita punya sistem absensi sekelas bandara internasional untuk mengawasi mereka yang statusnya bahkan masih "paruh waktu".  Memang benar, wajah ...

MBG Makan Gratis, Perut Kenyang tapi Warung Sekolah Sekarat?

Gambar
Program MBG terdengar mulia. Makan bergizi gratis. Judulnya saja sudah kenyang.  Tapi di balik nasi dan lauk itu, aroma bisnis tercium lebih dulu. Tender berputar. Vendor berdatangan.  Perut siapa yang sebenarnya diutamakan, masih jadi teka-teki. Sebagian orang mulai curiga. MBG bukan sekadar soal gizi. Tapi juga soal peluang.  Anggaran besar. Porsi tetap. Untung terjamin.  Warung kecil di depan sekolah hanya bisa menatap dari kejauhan, sambil menghitung sisa sendok dan harapan. [kay]

Gaji Rp300 Ribu di 2026: Potret Nasib Guru Honorer dan Nakes yang Terlupakan Negara

Gambar
Pemangku kebijakan publik Indonesia pada 2026 katanya sedang sibuk bekerja. Tapi bukan bekerja menaikkan kesejahteraan.  Lebih sibuk merapikan kata-kata di depan kamera televisi.  Sambil lupa melihat angka di slip gaji. Rp 300 ribu. Untuk tenaga kesehatan dan guru honorer.  Negara tersenyum. Dompet mereka menangis. Para pengabdi ini sudah lama jadi tulang punggung. Bukan lima tahun. Ada yang dua puluh tahun lebih.  Mengajar anak bangsa. Merawat orang sakit.  Tapi tetap diperlakukan seperti relawan acara tujuhbelasan. Peroleh ucapan terima kasih.  Bonusnya foto bersama. Soal hidup? Urusan nanti. Urusan Tuhan.  Ironisnya, negara pandai bicara soal masa depan. Soal kemakmuran. Soal SDM unggul. Tapi lupa mengisi perut para penjaganya.  Gaji Rp 300 ribu dianggap wajar. Mungkin karena pengabdian dinilai pakai doa. Bukan rupiah.  Di negeri ini, pengorbanan memang mahal. Yang murah justru penghargaannya. [kay]

Podcast Rhoma–Islah Bongkar Strategi Belanda: Patron Yaman, Kiai Pribumi, dan Haji yang Dibatasi

Gambar
Podcast Rhoma Irama dan Islah Bahrawi terdengar seperti membuka arsip berdebu. Isinya bukan lagu dangdut, tapi politik kolonial.  Belanda ternyata kreatif. Bukan cuma senjata, tapi juga patron. Didatangkanlah orang-orang Yaman. Dipoles jadi kelas utama. Kiai pribumi cukup jadi figuran. Logikanya sederhana. Kalau perlawanan menyala, siram pakai otoritas baru. Maka lahirlah patron “resmi”.  Salah satunya Habib Utsman bin Yahya. Diangkat jadi Mufti Batavia. Orang awam menyebutnya sebagai antek Londo. Jabatan sakral, stempel kolonial. Agama pun diberi seragam dinas. Agar perlawanan lebih mudah diatur. Kolonial licik. Parahnya lagi, urusan haji ikut diatur. Rekomendasi Habib Utsman bin Yahya jelas: batasi jemaah dari Indonesia. Bukan soal kesehatan. Bukan soal kapal. Tapi soal ide. Takut pulang membawa api. Kolonialisme memang licin. Bisa pakai meriam. Bisa juga pakai sorban. [kay]