Jaga Warisan Leluhur, Salehodin Hr Bertekad Lestarikan Macopat Madura di Sumenep
![]() |
| Salehodin Hr (kiri) saat menembangkan Macopat. [Foto: Kaiy] |
SUMENEP – Gema lantunan syair Macopat Madura kembali memecah kesunyian malam di Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan.
Di tengah gempuran budaya modern, sosok Salehodin Hr, S.Pd, seorang guru dari SDN Panaongan 3, muncul sebagai garda terdepan dalam menjaga tradisi lisan yang kian tergerus zaman ini.
Harapan besar agar kesenian Macopat Madura tidak punah di Kabupaten Sumenep disampaikan langsung Salehodin saat menghadiri pagelaran Macopat Madura yang diselenggarakan oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) MWC NU Pasongsongan, Sabtu malam (4/4/2026).
Titik Terakhir Pelestarian
Bertempat di kediaman Marsuhan, acara tersebut jadi ruang bagi para pencinta seni tradisional.
Salehodin, yang juga aktif sebagai pembina siswa di sekolahnya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap minimnya regenerasi dan wadah bagi seni Macopat.
Menurut Salehodin, eksistensi Perkumpulan Macopat MWC NU Pasongsongan saat ini jadi sangat krusial.
"Hanya perkumpulan ini yang sekarang tersisa di Kecamatan Pasongsongan. Jika bukan kita yang merawatnya, siapa lagi? Saya sangat berharap kesenian ini tidak sampai punah di bumi Sumenep," ujarnya dengan penuh harap.
Peran Guru dalam Regenerasi
Sebagai tenaga pendidik, Salehodin tidak hanya berteori. Ia tetap eksis dan konsisten mengikuti kegiatan perkumpulan tersebut sebagai bentuk teladan bagi murid-muridnya di SDN Panaongan 3. Ia meyakini bahwa:
1. Pendidikan Karakter: Macopat mengandung nilai-nilai filosofis dan moral yang tinggi bagi generasi muda.
2. Identitas Budaya: Melalui Macopat, siswa dapat mengenal akar budaya dan bahasa ibu mereka secara mendalam.
3. Ketahanan Budaya: Kehadiran guru di komunitas seni jadi jembatan agar tradisi ini masuk ke ranah pendidikan formal maupun informal.
Komitmen Bersama
Pagelaran malam itu bukan sekadar ritual pembacaan naskah kuno, melainkan pesan kuat bagi masyarakat luas bahwa Macopat Madura masih memiliki nafas di Pasongsongan.
Dukungan dari Lesbumi MWC NU pun diharapkan mampu memicu semangat kolektif warga Sumenep untuk kembali melirik dan mencintai kekayaan budayanya sendiri.
Bagi Salehodin, setiap bait yang dilantunkan adalah doa agar suara masa lalu ini tetap bergema di masa depan, memastikan identitas Sumenep sebagai kota budaya tetap terjaga dengan kokoh. [kaiy]

