CERPEN: Ingin Pulang dan Penyesalan Debur yang Terlambat
By: Suriyanto Hasyim
Debur, seorang anggota parlemen yang dulu dihormati, tak pernah terbayangkan satu ucapan kasarnya akan mengubah segalanya.
Dalam sebuah sidang terbuka, emosinya meledak.
Kata-kata yang keluar dari mulutnya dianggap menghina rakyat.
Berita pun menyebar cepat media sosial, memicu gelombang amarah rakyat.
Episode selanjutnya, demonstrasi pecah di mana-mana, menuntutnya mundur dari jabatan.
Tak sanggup menghadapi tekanan, Debur bersama istrinya dan anaknya memutuskan pergi ke luar negeri.
Dari kejauhan, ia hanya bisa menyaksikan layar berita yang menayangkan wajah rakyatnya bersatu melawan kesombongan seorang wakil mereka.
Di ruang pengasingan itu, Debur duduk termenung. Ia mengingat bagaimana dulu rakyat mempercayainya, bagaimana mereka menitipkan harapan kepadanya.
Tapi, kepercayaan itu hancur oleh lidahnya sendiri.
“Seandainya aku bisa menarik kembali kata-kata itu…” gumamnya lirih.
Tapi ia tahu, penyesalan tak pernah mampu menghapus luka.
Kini, yang tersisa hanyalah sunyi, rasa bersalah, dan kerinduan pada tanah air yang dulu mengangkatnya, tapi kini menolaknya. []

Komentar
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan sopan agar kita bisa memberikan pengalaman yang baik untuk pengunjung. Terima kasih.