Pasongsongan tak Menjual Daging Sapi

 

Catatan: Yant Kaiy

Satu peluang bisnis menjanjikan tidak bisa ditangkap dengan baik oleh para pengusaha di wilayah Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep. Menurut banyak kalangan pemerhati kebijakan publik, peluang bisnis ini sejatinya mesti ada di desa tapal batas Pamekasan dan Sumenep. Ke arah barat dan timur Pasongsongan dalam radius 15 kilometer tidak ada yang menjualnya.

Bisnis apakah itu? Bisnis daging sapi.

Pasalnya bisnis kuliner di sekitar Pasongsongan mulai berkembang dengan pesat. Menjamurnya rumah makan, plus maraknya pesta perkawinan di beberapa desa yang membutuhkan daging sapi dalam menu jamuan untuk para undangan, sejatinya menjadi bahan pertimbangan para pengusaha. Lantaran prospeknya dalam jangka panjang begitu menjanjikan.

Kebutuhan akan daging sapi warga masyarakat Pasongsongan dirasa penting untung direspons oleh pemilik modal (pengusaha asli Pasongsongan) dalam mendukung kemajuan perekonomian masyarakat Desa Pasongsongan. Sedangkan pemangku kebijakan desa bisa memfasilitasi proses keberadaan penjualan daging sapi.

Dua poin tersebut menjadi urgen untuk dibicarakan pada sebuah forum agar lahir solusi dan ide segar dari setiap permasalahan yang ada. Sebab komunikasi yang baik akan menciptakan sukses seperti yang diharapkan. Apalagi nuansa kebersamaan nan indah akan  membuang jauh-jauh segenap curiga.

Sinergitas ini perlu dibangun oleh segenap komponen masyarakat agar tercipta satu power transformasi, sehingga membangkitkan kemajuan Desa Pasongsongan sesuai aspirasi banyak kalangan. Tidak bijak rasanya kalau diantara kita saling menyalahkan. Padahal dari kitalah maju dan tidaknya sebuah kawasan pedesaan.[]

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Komentar

Popular Posts

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

NU Abu-Abu Soal Imigran Yaman, Diam yang Justru Menggelapkan Akal Sehat

Indonesia Milik Siapa? Anekdot Klaim Aulia Tarim dan Nasab yang Merasa Paling Berhak