Biografi Hairul Anwar Masa Kecil (Bagian 5 dari 8 Tulisan)

Hairul Anwar, owner Goa Soekarno Pasongsongan-Sumenep

Catatan: Yant Kaiy

Memang tidak mudah menakar keimanan seseorang. Karena keimanan seseorang erat kaitannya dengan soal ketakwaan. Keimanan seseorang ibarat batu yang ada di dasar danau. Kalau batu di dalam danau dilihat dari atas wujudnya tentu tidak seperti aslinya. Mungkin juga bentuknya akan seperti roti. Kalau air danau tertimpa sinar matahari tentu rupa batu tersebut berubah pula. Begitu pula ketika airnya beriak, maka rupa batu berganti seperti makhluk hidup.

Banyak orang yang sudah beragama dalam menjalankan ibadah ritual karena takut dikatakan sebagai manusia bejat. Pura-pura khusyuk seperti penampilan orang yang ahli beribadah. Padahal dalam batinnya ingin memperoleh puja-puji dari orang lain. Ia sebenarnya ingin mendapat legitimasi bahwa dirinya insan terbaik, terhormat, termulia diantara orang-orang yang ada di lingkungannya.

Ada pula yang beribadah karena mengharapkan dunia saja. Ia melakukan kewajiban beribadah lantaran ingin diterima sebagai menantu orang kaya. Padahal mereka tahu kalau beribadah semacam itu adalah perbuatan mubazir. Hanya buang-buang tenaga dan hanya dapat lelah.

Apalagi di era millenial saat ini, banyak keimanan tergadaikan dengan melakukan penyelewengan amanah yang diberikan pada dirinya. Mereka mencemari hidupnya dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Padahal setiap bulan pasti mendapat gaji tepat waktu. Bukan mereka tidak mengerti kalau semua itu perbuatan dosa, 

Justru mereka adalah tokoh agama yang nota bene sudah pakar dalam hukum-hukum agama yang dianutnya.
Jadi kapasitas keimanan seseorang tidak bisa hanya dilihat dari sisi performanya saja. Tidak pula bisa diintip dari sisi penampilan baju dan sikapnya. Namun kualitas keimanan seseorang bisa dilihat dari perilaku saban harinya. Seperti halnya beribadah ritual, bergaul dengan orang-orang sekitarnya. Adalah orang-orang terdekat yang bisa mengukur sampai seberapa hebat keimanan seseorang dibanding dengan orang lain.

Atau bisa jadi menakar keimanan seseorang itu lewat wawancara dengan tetangganya. Biasanya mereka akan memberikan penjelasan, gambaran kepribadian, dan tingkah lakunya secara transparan. Sebab mereka yang lebih tahu karakter, tingkah laku ketika berada di tengah-tengah masyarakat, sikapnya dalam berinteraksi dengan teman dan keluarga serta tetangga sekitarnya, sikapnya dalam mengatasi persoalan atau konflik dengan keluarga dan lingkungan.

Jadi mengukur keimanan seseorang bisa ditelisik oleh mereka yang ada di sekitarnya. Syaratnya orang yang mau ditakar keimanannya adalah orang yang sedari kecil sudah ada di lingkungan tersebut. Berbeda dengan warga pendatang. Mereka akan cukup kesulitan menakar keimanan seseorang. Memang ini bukan sesuatu yang mutlak. Namun paling tidak menjadi salah satu acuan awal dalam mengukur kualitas keimanan seseorang.

Hairul Anwar penganut agama Islam taat. Sedari kecil ia telah diajarkan halal-haram oleh orang tuanya. Mereka menyadari kalau saat kecillah yang paling tepat menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Ternyata sesuai dengan impian orang tuanya, Hairul Anwar kecil menyukai ilmu-ilmu Islam yang diajarkan guru mengaji dan para ustadz di Madrasah Ibtidaiyah.

Orang tua Hairul Anwar memahami benar kalau menjalankan ibadah amaliah adalah harga mati. Tak bisa ditawar-tawar. Sebab setiap manusia beragama yang tidak menjalankan kewajibannya, maka hidupnya takkan bahagia dunia dan akhirat. Mereka tidak akan tenang.

Maka ketika Hairul Anwar sangat menguasai Kitab Sullam Safinah, beberapa saudara dari kedua orang tuanya menganjurkan Hairul Anwar untuk dimasukkan pada salah satu pondok pesantren di Pulau Jawa. Pada waktu itu dia masih di bangku Sekolah Dasar. Seperti tradisi para leluhurnya, menimba ilmu agama Islam dengan menjadi santri di pondok pesantren. Tujuannya agar Hairul Anwar bisa menggantikan posisi pamannya, Kiai Mustamar, melanjutkan pengelolaan pondok pesantrennya.

Kenapa mesti Hairul Anwar? Hal itu karena dia mempunyai nilai lebih ketimbang saudara-saudaranya yang lain. Mereka percaya kalau di tangan Hairul Anwar pondok pesantren warisan dari leluhurnya itu bisa berkembang dan menjadi pondok pesantren besar.

Menurut sejarahnya, dulu pondok pesantren Kiai Mustamar merupakan salah satu pondok pesantren satu-satunya yang melakukan kajian kitab kuning di Kecamatan Pasongsongan. Walau bukan pondok pesantren tertua, tapi pada awal Kemerdekaan Indonesia pondok pesantren leluhur Hairul Anwar sudah memiliki ratusan santri. Kiai Mustamar membidik Hairul Anwar untuk menggantikan posisinya karena ada firasat baik dalam dirinya.


Di mata Kiai Mustamar, Hairul Anwar punya sikap penyabar, santun, berbakti kepada kedua orang tuanya, sangat hormat pada orang yang lebih dewasa, mudah diajak berdiskusi, tidak pendendam, suka memaafkan, dan yang terpenting lagi dia anak berotak brilian. Cukup syarat bagi Hairul Anwar untuk menduduki pengasuh pondok pesantren.

Yant Kaiy, penjaga gawang apoymadura.com

Komentar

Popular Posts

Dikasih Hati Minta Jantung: Noktah Sejarah Imigran Yaman dan Ulama Nusantara

NU Abu-Abu Soal Imigran Yaman, Diam yang Justru Menggelapkan Akal Sehat

Indonesia Milik Siapa? Anekdot Klaim Aulia Tarim dan Nasab yang Merasa Paling Berhak