Tradisi Bakar Jagung



Dusun Sempong Barat Desa/Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep Madura merupakan daerah penghasil jagung. Karena tanah di wilayah yang berpenduduk kurang lebih 500 jiwa ini adalah tegal gunung. Masyarakat di dusun ini pada umumnya petani, dan seperempat penduduknya ada yang merangkap jadi nelayan.

Setiap tahun panen jagung dua kali. Umumnya yang ditanam adalah bibit jagung lokal.

“Alasan kenapa masyarakat di Dusun Sempong Barat memakai bibit lokal, itu dikarenakan jagung lebih awet dalam penyimpanan hingga musim tanam berikutnya. Yang kedua taste bibit jagung lokal kalau dimasak jadi nasi lebih gurih, tidak hambar, dan tidak cepat basi,” terang Sundari, S.Pd. kepada apoymadura di kediamannnya.

Ketika ditanya soal tradisi bakar jagung, lebih jauh ibu dua anak ini menerangkan, kalau tradisi ini sudah ada sejak jaman dahulu. Dan tradisi ini sampai sekarang masih tetap ada dan lestari.

“Kalau kita beli jagung bakar di pinggir jalan raya banyak. Di rumah juga banyak makanan yang enak. Tapi di sini ada nilai kebersamaan yang akhir-akhir ini kian luntur. Dengan bakar jagung akan lahir keakraban. Tidak ada lagi saling curiga diantara mereka karena terjadi komunikasi. Bahkan bisa jadi ajang saling tukar informasi,” terang Sundari yang kegiatan sehari-harinya mengajar di SDN Padangdangan II Kecamatan Pasongsongan.


Dia berharap kepada pemangku kebijakan di desa mau memperhatikan tradisi ini. Sebagai bentuk pelestarian bakar jagung misalnya diadakan lomba paling cepat makan bakar jagung, atau lomba-lomba lainnya setiapkali ada masa panen jagung. (Yant Kaiy)
LihatTutupKomentar