Talak
Pentigraf: Yant Kaiy
Tonah amat terpukul ketika suaminya benar-benar pulang
kampung. Tak terpikirkan kalau ia akan senekat itu. Tonah ingin sekali
mengejarnya, tapi siapa yang akan mengurus dua anaknya. Sebagai perempuan tentu
akan kerepotan mengerjakan segala sesuatu di rumah tanpa bantuan suami. Apalagi
tanpa pembantu rumah tangga.
Suaminya bukan tak sayang pada dirinya. Ia tipe lelaki setia
dan penyabar. Permasalahannya hanya sepele, Tonah tak mau diajak bermesraan. Bukan
hanya sekali Tonah menolak ajakan berhubungan badan. Alasannya capek, badan
lagi pegal, dan semacamnya. Tapi anehnya, kalau pergi arisan dia bersemangat.
Berdandan cantik. Pakai parfum terbaik. Giliran tidur dengan suaminya dia tak
merias diri. Padahal Tonah bukan orang tidak terpelajar. Dia alumni pondok
pesantren terkemuka. Dia tahu tentang pahala menyenangkan suami. Dia hanya bisa
membaca Al-Qur’an dan kitab kuning. Tapi dia tidak mengaji ilmu yang terkandung
didalamnya.
Sembilan hari kemudian, Tonah mendapat surat dari Pengadilan
Agama. Isinya sidang pertama perceraian. Perempuan berparas tidak terlalu
cantik itu menangis, tapi tidak mengeluarkan air mata.
Pasongsongan, 6 Maret 2020
