Susu Anakku
Pentigraf: Yant Kaiy
Aku tak bisa membendung emosi diri yang meledak-ledak. Hanya
permasalahan susu anak akhirnya kami bertengkar. Satu pertengkaran yang
sejatinya tidak menimbulkan perpecahan. Penyesalan baru ternatal ketika aku
mulai mengurus anakku sendiri di kediaman orang tuaku. Memang suamiku tak
mengusirnya. Tapi aku tahu diri, kami masih menempati rumah mertua. Malu, dong!
Aku ke super market membeli susu yang agak murah karena aku
memikirkan kebutuhan lainnya. Tapi suamiku justru menyalahkan tindakanku.
Cekcok pun tak terelakkan.
Suamiku meluapkan amarahnya dengan kata-kata kasar. Liar
penuh kebencian. Aku tersinggung berderai air mata. Bersama anakku pergi
darinya. Akal sehatku lenyap ditelan kalimat menyakitkan suamiku.
Pasongsongan, 17/3/2020

