Ratapan Istri



Pentigraf: Yant Kaiy

Gelora rindu membuncah. Meretas segala aral melintang. Aku tak kuasa memendam perasaan itu. Perasaan menyiksa jiwa-raga sepanjang detik ke menit. Hingga aku tak berdaya dan lupa terhadap hakikatku sebagai perawan. Debur telah menaburkan benih cintanya di ladang suburku hingga bersemilah bunga-bunga, bermekaran diantara tradisi. Perasaan malu kedua orang tua telah membuangku jauh… Jauh jarak dan waktu. Aib itu telah mencoreng wajah mereka. Aku mafhum kemarahannya.

Kini aku meratapi semua masa silam itu. Debur berkhianat. Ia mencampakkan aku dan kedua anakku. Ia lari ke pelukan wanita lain. Dasar lelaki tengik. Dicintai malah membuat luka. Dipercaya menambah derita. Di saat seperti inilah aku rindu mereka. Tapi mereka sangat kecewa. Mungkin waktulah yang akan mempertemukan kami.

Beruntunglah aku punya pekerjaan yang bisa dijadikan sandaran hidup dirantau. Kalau tidak, jelas riwayatku kidungnya akan berbeda.

Pasongsongan, 14/3/2020


LihatTutupKomentar