Kau, Ayahku?
Dia datang lagi dalam mimpiku. Ayah tak banyak bicara.
Seperti sikapnya pada kami, anak-anaknya. Dia sangat tegas dalam mengambil satu
keputusan. Seperti keputusan ketika aku harus menikah dengan pria lain, bukan idamanku.
Aku berontak atas perintahnya. Tapi Ayah tetap pada pendiriannya. “Tak ada
orang tua mau menjerumuskan buah hatinya,” demikian ucapan terakhir ketika aku
harus ikut suami ke Jakarta.
Sudah punya anak dua, aku belum pernah berkomunikasi lagi
dengan Ayah. Aku tak membencinya, tapi aku terluka karena keputusannya.
Akhir-akhir ini bayang sosok Ayah selalu hadir di setiap mimpiku. Kalaupun Ayah
menelpon dari kampung, biasanya suami yang bicara. Diriku seolah tak punya
perasaan kangen padanya.
Aku terjaga dari mimpi demi mendengar suara ketukan pintu.
Kulihat jam menunjuk angka sepuluh malam. Tumben, biasanya suamiku pulang
hampir jam dua belas karena lembur di kantor. Kuintip dulu siapa yang datang
lewat jendela. Oh, Tuhan… Kubuka daun pintu. Kau, Ayahku?
Pasongsongan, 3/3/2020
