Kau, Ayahku?



apoymadura+yant+kaiy/ pooja hegde
Pentigraf: Yant Kaiy

Dia datang lagi dalam mimpiku. Ayah tak banyak bicara. Seperti sikapnya pada kami, anak-anaknya. Dia sangat tegas dalam mengambil satu keputusan. Seperti keputusan ketika aku harus menikah dengan pria lain, bukan idamanku. Aku berontak atas perintahnya. Tapi Ayah tetap pada pendiriannya. “Tak ada orang tua mau menjerumuskan buah hatinya,” demikian ucapan terakhir ketika aku harus ikut suami ke Jakarta.

Sudah punya anak dua, aku belum pernah berkomunikasi lagi dengan Ayah. Aku tak membencinya, tapi aku terluka karena keputusannya. Akhir-akhir ini bayang sosok Ayah selalu hadir di setiap mimpiku. Kalaupun Ayah menelpon dari kampung, biasanya suami yang bicara. Diriku seolah tak punya perasaan kangen padanya.

Aku terjaga dari mimpi demi mendengar suara ketukan pintu. Kulihat jam menunjuk angka sepuluh malam. Tumben, biasanya suamiku pulang hampir jam dua belas karena lembur di kantor. Kuintip dulu siapa yang datang lewat jendela. Oh, Tuhan… Kubuka daun pintu. Kau, Ayahku?

Pasongsongan, 3/3/2020



LihatTutupKomentar