Dendam tak Berduri
Pentigraf: Yant Kaiy
Aku membencinya bukan karena sudah lupa diri. Aku
membencinya lantaran Debur sangat keterlaluan. Dia memfitnahku. Dia mengatakan pada teman-temannya kalau aku
telah dinodainya. Ini sangat menyakitkan. Aku disudutkan dari pergaulan. Harga
diriku seolah tidak ada lagi di mata para sahabat di kampus.
Ketika mereka bertanya, aku jawab bahwa itu fitnah semata.
Terserah mereka percaya atau tidak. Tapi aku bersyukur putus dengannya,
lantaran dia petualang cinta. Debur suka menghambur-hamburkan duit kiriman dari
orang tuanya dengan sering ke kafe. Setiap malam keluyuran. Padahal dia
mahasiswa.
Dalam dada ada dendam, tapi itu selalu kulampiaskan pada
hal-hal positif. Misalnya aku menuangkannya lewat puisi. Aku tumpahkan
semuanya. Lalu karyaku dimuat di koran dan dapat honor. Ketika aku berhasil
bisa melupakannya, kini aku mendapat penggantinya. Sedang Debur dikeluarkan
dari kampus disebabkan tidak bayar uang semester.
Pasongsongan, 3/3/2020
