Budaya Menabung
Pentigraf: Yant Kaiy
Sedari kecil aku diajarkan Ayah menabung di celengan terbuat
dari tanah. Yang mengasyikkan kalau sudah penuh. Celengan dipecahkan lalu
dibelanjakan. Biasanya untuk membeli pakaian, sepatu, bahkan pernah membeli anting
emas.
Tapi kadang kalau sedang ada kebutuhan membeli sesuatu dan
Ayah lagi tidak pegang uang, biasanya aku mencongkel dengan lidi di lubang
tempat memasukkan uang. Ini tidak hanya berlaku padaku saja, teman-teman
sekolah lain juga demikian.
Kini aku sudah bersuami. Kebiasaan menabung itu terus
berlanjut dan tidak di celengan lagi.
Suamiku biasanya mengambil barang dulu, membayarnya belakangan, alias kredit.
Pasongsongan, 3/3/2020
