Jeritan Lirih itu…
Pentigraf: Yant Kaiy
Tergambar jelas detik-detik akhir dari hempasan tubuhku.
Tonah mengerang diantara desah napasnya. Ia menggelinjang tak ubahnya cacing
kepanasan. Ia seperti lupa diri menahan birahi menggelegak di sekujur tubuhnya.
Aku pun terkulai tak bisa apa-apa.
Hubungan badan yang kami lakukan didasari rasa suka sama
suka. Tidak lebih. Tak ada niat melanjutkannya ke pelaminan. Walau aku telah
berulangkali membauinya setiapkali kami melaksanakan pertunjukan di berbagai
kota. Tak ada ikrar cinta diantara kami. Sebab kami sudah punya kekasih.
Ketika Tonah melangsungkan perkawinan, aku diundangnya.
Entah kenapa, hati ini terasa sakit menyaksikan dia duduk bersama dengan
seorang pengusaha. Padahal pikiranku tak mencintainya, tapi hati terluka.
Selalu jeritan lirih itu terngiang…
Pasongsongan, 2/3/2020
